HomePercikan FirmanMembangun Keagamaan Dalam Semangat Keberagaman

Membangun Keagamaan Dalam Semangat Keberagaman

Dr. K.H. Abdurrahman Wahid atau yang kita kenal dengan sebutan Gus Dur (presiden keempat Indonesia) pernah berkata demikian, “agama melarang adanya perpecahan, bukan perbedaan. ”Pernyataan Gus Dur tersebut ditujukan kepada Bangsa Indonesia yang secara faktual ada pada kondisi masyarakat majemuk atau beragam. Beragam berarti tidak hanya satu golongan saja, seperti halnya suku tidak hanya jawa atau sunda saja, tetapi tercatat ada 1.340 suku bangsa yang ada di wilayah Indonesia.

Begitu juga halnya agama, Kristen bukanlah agama satu-satunya yang hidup di Indonesia, melainkan agama lainnya beserta dengan kelompok penghayat kepercayaan. Lantas bagaimanakah kita menyikapi keberagaman ini? Apakah harus yang beragam diseragamkan? Keberagaman adalah kekayaan yang kita miliki.

Jika kita berpikir dengan adanya keseragaman akan tercapai kedamaian, justru kedamaian itu tidak akan pernah tercapai. Jika kita mendasarkan kedamaian itu pada keseragaman, maka mari kita lihat kembali realitas dari kehidupan “orang-orang yang seragam”, dalam arti satu agama, juga tidak terhindarkan dari yang namanya konflik dan perpecahan.

Karena itu, yang menjadi dasar terjadinya konflik dan perpecahan bukanlah disebabkan oleh adanya perbedaan atau keberagaman. Begitu juga sebaliknya, bahwa keseragaman tidak dapat menjadi dasar terjadinya suatu perdamaian. Justru yang memincu konflik dan yang menjauhkan manusia dari kata damai adalah pola pikir pembedaan.

Pola berpikir pembedaan ini juga pernah terjadi dalam kehidupan berjemaat di Galatia. Galatia 3:28 tertulis demikian, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Sekalipun sama-sama mengikut Kristus, tetapi dengan pola berpikir pembedaan, maka mereka akan selalu menemukan perbedaan untuk menjadikan itu sebagai alasan pemicu konflik dan perpecahan.

Perbedaan antara Kristen Yahudi dan non-Yahudi mewarnai kehidupan berjemaat mereka. Dalam perbedaan ini seharusnya mereka menjadi kaya dalam berbagai hal, baik itu dalam pelayanan maupun dalam hidup keseharian. Karena itu Paulus membedah cara bepikir mereka melalui teks Galatia 3:28. Paulus tidak bermaksud menghilangkan perbedaan, tetapi mengarahkan cara pandang mereka untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan mereka berkonflik dan terpecah.

Perpecahan dan konflik karena pola pikir pembedaan itu pernah terjadi di jemaat Korintus. Dalam surat Paulus kepada Jemaat di Korintus, pada 1 Korintus 1:10-12 tertulis demikian, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.”

Kemunculan golongan-golongan dalam jemaat Korintus dipakai sebagai alasan yang memincu terjadinya perpecahan atau perselisihan. Namun demikian, Paulus menyadarkan jemaat di Korintus agar tidak terjadi perpecahan karena pola pikir pembedaan. Dalam satu sisi mereka satu sebagai pengikut Kristus. Akan tetapi, pola pikir pembedaan menjadi racun yang membuat mereka terganggu dengan adanya perbedaan.

Dari konteks jemaat di Galatia dan Korintus kita belajar, bahwa permasalahan yang muncul bukan dipicu karena perbedaan yang terjadi sebagai suatu realitas kehidupan, melainkan pola pikir pembedaan itulah yang mengkambinghitamkan perbedaan. Upaya untuk menyeragamkan bukanlah solusi untuk terbangunnya perdamaian, solusi yang lebih realistis adalah menerima perbedaan dan menghidupi perbedaan itu sebagai warna lain yang memperindah kehidupan bersama. Sejatinya, sumber dari keterpecahan itu bukan karena perbedaan, tetapi karena hilangnya semangat keberagaman dalam kehidupan beragama.

Dengan kita hidup tanpa semangat keberagaman, maka kita kita hidup dalam pola pikir pembedaan. Pola pikir pembedaan menyebabkan kasih yang harusnya dinyatakan kepada setiap orang menjadi terbatas karena sekat-sekat perbedaan. Ketika kasih itu tidak dapat dinyatakan, maka misi Allah yang dipercayakan dan dimandatkan kepada kita tidak terlaksana.

1 Yohanes 4:7-8 tertulis demikian, “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

Spirit dari kekristenan adalah kasih. Kasih itu tidak dapat ditunjukkan jika dengan retorika. Tetapi, kasih itu harus ditunjukkan dengan tindakan nyata. Tindakan nyata yang bisa kita wujudkan dalam hal kasih adalah melalui sikap hidup yang tidak diskriminatif. Pikiran punya pengaruh besar atas sikap kehidupan kita. Pola pikir pembedaan itulah yang menghambat kita dalam menyatakan kasih yang dipercayakan Allah.

Perlu kita sadari, jika cara kita beragama menimbulkan perpecahan dan perselihan, maka bukan agama yang salah, tetapi kitalah yang salah, karena belum benar-benar memahami nilai-nilai dari agama itu sendiri. Demikian juga dengan kekristenan, jika kita sebagai orang Kristen tidak dapat menghadirkan damai, malah menghadirkan perpecahan dan perselisihan, maka yang salah bukan kekristenan, tetapi itu kesalahan kita, karena kita belum memahami nilai-nilai kasih dalam kekristenan.

Mari kita bangun kehidupan beragama dengan semangat keberagaman. Dengan demikian, kasih Allah dapat dinyatakan dalam kehidupan kita, khususnya dalam konteks Indonesia dengan kondisi masyarakat yang majemuk. Jangan menjadi orang Kristen yang ‘Meresahkan’, tetapi jadilah orang Kristen yang ‘Meneduhkan’ dan ‘Membawa Damai’ di tengah perbedaan.

 (Pdt. Satriawan Susanto – Pendeta GKI Tulungagung)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments