BERBICARA tentang toleransi memang tak akan pernah habis, tetapi yang perlu disadari adalah bahwa toleransi bukanlah sekedar slogan, bukan pula sekumpulan konsep menarik untuk dibaca dan diarsipkan. Toleransi adalah sebuah praktik kehidupan dalam dunia nyata. Konsep baik yang dipraktikkan, tak lupa lantas direfleksikan, dan dipraktikkan lagi dengan segala penyempurnaannya.
Kita dapat mempelajarinya dengan sejenak membuka mata atas realitas kehidupan di sekitar kita, karena sesungguhnya di tengah-tengah masyarakat, perwujudan nyata atas toleransi sudah ada. Barangkali untuk beberapa tempat kita perlu lebih serius dalam menggalinya terlebih dahulu sebelum mengembangkannya.
Di Bojonegoro ada beberapa kearifan lokal yang telah hidup, dan Ketika kearifan lokal ini dijaga, dilestarikan, dikembangkan maka bukan hanya menjadi kekuatan lokal dalam membangun peradaban, tetapi akan menjadi modal nasional menjaga semangat persaudaraan yang ada.

Gema Toleransi “Sedulur Sikep/Komunitas Samin”
Dusun Jepang, desa/kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur adalah sebuah desa yang berada diperbatasan Bojonegoro dengan kabupaten Ngawi. Jarak tempuh dari kota Bojonegoro sekitar 70 km. lebih dekat dengan kota Ngawi dari pada ke kota Bojonegoro. Seperti kebanyakan desa-desa lain, mayoritas penduduknya terdiri dari petani sawah, karena lokasi desa yang berada dipinggiran hutan, maka tidak sedikit yang menanam palawija seperti jagung, kedelai atau singkong di sela-sela tanaman pohon jati milik Perhutani.
Yang membuatnya berbeda dengan desa-desa lain adalah keberadaan komunitas ‘samin’. Sebenarnya mereka yang lebih suka disebut dengan “sedulur sikep,” karena kata samin sudah cenderung berkonotasi negatif dan tak sedikit yang memakainya sebagai sebuah ejekan atau hinaan kepada pihak lain. Pemimpin komunitas yang rutin berkumpul setiap jumat legi ini adalah Mbah Hardjo Kardi. Beliau merupakan keturunan ke empat dari Suro Sentiko, pendiri komunitas Samin, asal Randublatung, kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Dalam sejarahnya komunitas ini berjuang melawan penjajah kolonial Belanda dengan cara unik, diantaranya dengan ketidaksediaan membayar pajak, memakai gaya bahasa yang unik jika ditanya penjajah atau pun pemungut pajak (atas pertanyaan, “berapa anakmu?” Mereka menjawab “dua, laki-laki dan perempuan” meskipun anaknya lima orang. Berapa luas tanahmu? Dijawab: selangkah, karena setiap tanah dianggap miliknya). Mereka berjuang melawan penjajah tanpa kekerasan.
Beberapa prinsip hidup yang dipertahankan sampai saat ini menurut Mbah Hardjo Kardi adalah masyarakat Samin, selalu saling membantu dalam keadaan sesulit apa pun dan tetap mengedepankan semangat kebersamaan dan kejujuran. Karena itu kesediaan untuk menghargai dan menghormati orang lain dengan segala yang dimilikinya adalah sebuah keharusan. Bahkan penghargaan yang baik juga diberlakukan terhadap alam dan segala isinya.
Komunitas Sedulur Sikep di Dusun Jepang sebanyak 100 kepala keluarga (KK) atau sekitar 250 jiwa. Memang jumlahnya terus berkurang tetapi ajaran tentang kebersamaan, kejujuran, kesederhanaan dan anti kekerasan, akan terus ditaati para pengikutnya, karena ajaran tentang kebaikan tadi, bisa digunakan sepanjang masa.
Pemuka Samin, selalu mengajarkan kepada para pengikutnya agar jangan menyakiti orang lain. Saling hormat-menghormati sesama manusia di dunia, dan jangan pernah mengambil apa pun yang bukan haknya. Dari sini kita melihat keluhuran nilai-nilai toleransi telah diterapkan dengan baik, dan akan terus diterapkan meskipun ada yang keluar dari komunitas ini.
Membangun Kehidupan Dengan Rukun Kematian
Mungkinkah kita membangun keharmonisan kehidupan dengan sesuatu yang berbau kematian? Bisa saja, kenapa tidak. Hal ini bisa di temukan di Desa Pajeng. Terletak di kecamatan Gondang, kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Wilayah ini berbatasan dengan kabupaten Nganjuk, tepatnya berada di dataran tinggi sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Beberapa tempat digunakan untuk mengembangkan agrobis. Luas wilayah desa Pajeng sekitar 262.850 m2 dengan kondisi alam sangat indah karena dikelilingi gunung, hutan, dan persawahan.
Di desa itu terbentuk “Rukun Kematian” dari inisiatif sesepuh Desa Pajeng, yang salah satunya adalah Tarwoco, mantan Kepala Desa Pajeng. Bermula ketika ada seorang warga miskin meninggal dunia, maka yang berangkat menyampaikan belarasa sangat sedikit yang hadir. Tapi, jika seorang warga yang meninggal adalah orang yang kaya, maka yang datang melayat sangat penuh.
Melihat adanya ketimpangan sosial di masyarakat tersebut, maka muncullah inisiatif membentuk rukun kematian. Segala sesuatu yang berkaitan dengan acara kedukaan (mempersiapkan peti, lubang kubur, konsumsi, doa kedukaan, dan lain-lain) disediakan dan dilakukan bersama-sama. Hal ini berlaku bagi siapa pun tanpa melihat latar belakang status sosialnya.
Keberadaan rukun kematian ini pun dari hari ke hari terus berkembang, bahkan dari dana yang terhimpun bisa digunakan untuk membangun atau memperlengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan penduduk desa.
Akhirnya semua warga masyarakat merasa punya tanggung jawab yang sama. Semua menjadi guyub rukun, saling gotong royong, saling tolong menolong tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras dan keturunan demi terwujudnya masyarakat Pajeng yang berkeadilan sosial. Bahkan di Pajeng ini ada sebuah makam tokoh Nasrani bernama Bernandus, di tanah milik warga muslim yang masih dirawat warga karena tingginya toleransi antar umat beragama di sini.
Keindahan panorama alam di Desa Pajeng sebenarnya menyimpan sejuta kisah getir di masa silam. Menurut bupati Suyoto, Desa Pajeng pasca G30S 1965 adalah daerah konflik yang hebat. Ratusan warga saling membunuh hanya gara-gara soal komunis dan antikomunis. Awal 1965, PKI menang mutlak di Desa Pajeng. Menguasai semua lini birokrasi dari kepala desa hingga kasun.
Rukun Kematian membuat warga tak lagi terpikat dengan isu PKI yang murahan, apalagi menjelang tahun pilkada seperti saat ini. Dimana apa pun bisa ‘digoreng’ untuk mencari perhatian. Pada kenyataannya rukun kematian telah membantu warga desa untuk terus membangun kehidupan, dan bukan hanya membangun sarana prasarana desa, tetapi juga membangun semangat untuk selalu menghargai sesama, menanamkan semangat bertoleransi meski mereka berbeda sudut pandang politik, status sosial, bahkan agama. Dari rukun kematian, kehidupan yang lebih baik terbangun.Toleransi itu telah ada di sini, akan kami warisi dan menjadi tradisi demi sebuah harga diri.
(Pdt. Iwan Sukmono)


