Refleksi II Samuel 11:1-27
“Aduh, cantiknya! Pagi yang menggiurkan dengan pemandangan indah seperti ini! Pikirannya terus melayang-layang melambung liar tak terkendali. Aku tak bisa menahannya, aku harus mendapatkannya. Ia tak boleh dilewatkan begitu saja. Siapakah dia? Si cantik yang tubuhnya molek itu? Akan kutanyakan orang siapakah dia.”
Demikian kegelisahan yang terus melanda raja Daud sejak melewatkan pagi ini di sotoh istananya. Bagi raja Daud ada kekuasaan, ada kesempatan, ada fasilitas, kenapa tidak? Semua perempuan bahkan bisa sangat tergila-gila apabila diajak tidur denganku, tak ada yang dapat menolakku. Pesonaku sebagai seorang raja, siapakah penghalangnya.
Bahkan ketika dikabarkan kepadanya bahwa perempuan cantik yang sedang mandi terlihat dari sotoh istananya adalah istri Uria, orang Het. Demikian pikiran Sang Raja. “Dia memang sangat cantik, kurasakan perbedaan besar saat bersamanya”, demikian raja Daud menikmati keberhasilannya untuk tidur dengan Batsyeba, istri Uria.”
“Aduh, Batsyeba mengandung! Ini masalah, ini bisa menjadi skandal besar! Tetapi semua ini harus dicari solusinya. Aha, mengatur agar anak yang dalam kandungan Batsyeba sebagai anak Uria adalah jalan keluarnya. Tidak sulit itu untuk diatur. Tetapi akh, ternyata tidak semudah itu. Uria, ternyata adalah hamba yang setia yang tidak mau pulang ke rumah untuk tidur dengan isterinya sekalipun telah melakukan pertempuran di luar sana begitu rupa. Kebandelan Uria yang tidak mau pulang ke rumahnya untuk tidur dengan istrinya inilah yang menjadi kendala.
“Oh ya ada Yoab yang bisa diandalkan untuk membuat semuanya ini berhasil terlihat rapi. Pengaturan kematian Uria di medan perang, itu solusi jitu. Semua dapat dibereskan, apakah yang tidak dapat dilakukan seorang raja besar nan hebat seperti Daud? Bahkan dengan menjentikkan kedua jarinya, maka apapun yang diinginkannya ada di hadapannya. Betapa indahnya hidup raja Daud, penuh dengan keberkahan dan kelimpahan, impian setiap insan.
Kini, tak ada penghalang untuk menikmati dan memiliki kecantikan itu. Sedikit drama dapat dibuat untuk memperlihatkan betapa Uria benar-benar mati di medan perang. Perkabungan Betsyeba menjadi terlihat lebih natural. Mungkin hati kecil Betsyeba bahkan tak mampu untuk mempertanyakan betapa mudahnya ia dan Uria, suaminya menjadi korban para penguasa. Banyak saksi mata atas perkabungan Betsyeba.
Hal ini sangat mendukung drama yang sedang disuguhkan kepada khalayak ramai. Ohh permainan yang sungguh sempurna. Segala sesuatu telah dimulai, sayang jika tak diakhiri. Bolanya telah menggelinding sejak kecantikan itu terlihat dari sotoh istana. Ia akan terus menggelinding, walau sesekali membentur apa atau siapa yang dilaluinya. Keinginan akan milik orang lain, perzinahan, kebohongan, pembunuhan, dan seterusnya akan menggelinding menjadi suatu bola panas keberdosaan yang tak akan pernah mampu manusia menghentikannya.
Di manakah kelembutan hati raja Daud yang pernah dikabarkan itu? Di manakah belas kasihnya yang terkenal? Begitu kuatnya daya kecantikan itu mengaburkan mata nurani raja Daud? Bukankah sebelumnya raja Daud telah memiliki kekayaan kecantikan yang berkelimpahan? Bagaimana raja Daud yakin bahwa Tuhan berkenan atas semua yang terjadi? Bagaimana tidak mungkin Tuhan tidak mengetahui perbuatan raja Daud?
Mengapa seolah Tuhan melepaskan pengawasan-Nya atas kehidupan raja Daud? Bukankah terjalin relasi yang karib antara Tuhan dan raja Daud? Inilah sekumpulan pertanyaan yang merujuk kepada satu pertanyaan besar: Apakah sebabnya raja Daud melakukan perbuatan sekeji itu?
Jebakan Keberdosaan
Apapun kecantikan yang terlihat di sotoh istana seharusnya tidak mengaburkan mata nurani raja Daud. Apalagi dengan begitu tumpah ruahnya kecantikan yang telah dimilikinya sebelumnya. Raja Daud mengenal dengan tepat ketentuan Hukum Taurat, dan mengetahui dengan benar bagaimana menjalankannya. Hukum Taurat inilah kontrol kehidupan bangsa Yahudi. Jika ada yang salah dalam peristiwa ini, tentu bukanlah di pihak Tuhan. Sebab Dia-lah sumber segala kebenaran, baik pemikiran dan perbuatanNya. Kekejian yang terjadi tak ada kaitannya dengan ‘diam-Nya’ Tuhan atas perbuatan raja Daud sekali pun.
Keakraban hubungan yang terjalin antara raja Daud dengan Tuhan telah menjaganya tetap mampu memenuhi ketentuan hukum-hukum-Nya. Ketika fokus hidup menjauhi-Nya, maka tatanan kehidupan manusia pun akan bergeser kepada ketidakbenaran, perlawanan kepada hukum-hukum Tuhan. Pengalihan kepada apa saja yang tidak memuliakan Nama-Nya adalah jebakan manusia kepada keberdosaan. Siapapun dapat terjebak di dalamnya, sekalipun seorang raja besar seperti halnya raja Daud. Kecantikan, kekayaan, jabatan, kehormatan, atau apapun juga dapat menjadi pengalihan tersebut.
Kemerdekaan insani dalam menikmati keindahan kehidupan tak selalu bertabrakan pada kejahatan dan dosa. Persoalan utamanya bukanlah ‘kemerdekaan’ tersebut, melainkan ‘apa fokus’ utama pada pribadinya. Lebih tepatnya adalah bahwa: kemerdekaan boleh dinikmati tetapi tidak boleh menjadi fokus dalam hidup. Ketergantungan manusia secara mutlak kepada Tuhan-lah yang mengharuskan kemana seharusnya hidupnya mengarah.
Pelbagai upaya telah dilakukan raja Daud mengamankan tujuan memperoleh ‘kecantikan’, namun semua itu tak membuahkan hasil memuaskan. Konsekuensi keberdosaan tetap tidak dapat ditolak atau dihindari. Upaya manusia tak akan dapat menyelesaikannya. Keselamatan dari dosa hanya dapat diselesaikan oleh Tuhan melalui karya kematian Kristus di salib.
(Anna Mariana Poedji Christanti)


