SETIAP orang dapat pulang kembali ke rumah Tuhan dengan beragam situasi dan cara.Tak jarang, keadaan dan pengalaman sakit menjadi “jalan” yang tak terhindarkan bagi kepulangan para kekasih kita. Sebuah jalan yang kadang-kadang terasa sangat pendek dan mendadak, tetapi juga bisa sangat panjang dan melelahkan.
Dalam situasi dan kondisi seperti ini, kekasih kita membutuhkan sentuhan perhatian dan kasih sayang. Pendampingan yang baik, di satu sisi akan menjadi sarana untuk menolong kekasih kita menyelami kehadiran dan kebaikan Tuhan di dalam pergumulan sakitnya. Di sisi lain, kekasih kita akan ditolong dan dipersiapkan untuk menerima panggilan Tuhan pada waktu-Nya. Kita akan memetik pelajaran dari pengalaman Daud pada saat ia menjumpai kenyataan bahwa anak yang dikasihinya sakit dan ternyata pada akhirnya mati (2 Samuel 12:16-25).
Aneh sekali Daud, ketika anaknya sakit ia berduka, berpuasa dengan tekun dan semalam-malaman berbaring di tanah. Namun, ketika anaknya mati, ia malah bangun dari lantai, mandi, berurap, bertukar pakaian dan makan. Bukankah logikanya ia akan semakin sedih dan berputus asa karena anaknya yang sakit akhirnya tak tertolong dan mati?
Secara umum, orang dapat memandang apa yang terjadi pada Daud sebagai sesuatu yang aneh. Tetapi, tentu tidak demikian bagi orang yang percaya kepada Tuhan. Sikap Daud bukanlah sikap yang aneh, sebab dalam konteks ini, Daud mengambil sikap iman atas sakit dan kematian anak yang dikasihinya. Daud pun menunjukkan bahwa sikap iman mempunyai logika sendiri terkait dengan sakit dan kematian.
Sikap Iman atas Kekasih yang Sakit
Pada saat anak yang dikasihinya sakit, Daud secara terus menerus tetap menaruh pengharapan atas kesembuhannya. Separah apapun kondisinya, bahkan sekalipun secara medis telah dinyatakan tidak ada lagi harapan untuk kesembuhan anaknya, “logika” iman Daud, ayah yang sangat mengasihinya akan tetap mengatakan masih ada harapan. Selagi nafas kehidupan masih berhembus, maka masih berhembus pula nafas pengharapan.
Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, segalanya masih mungkin! Secara teologis, “logika” iman inilah yang menguatkan Daud untuk tetap mengerahkan semua upaya yang dapat dilakukannya. Ia tidak menyerah, apalagi putus asa. Meskipun di titik tertentu, ia berhadapan dengan realita ketidakberdayaan tabib-tabib dunia, baginya itu tidak berarti bahwa semua jalan telah tertutup.
Masih ada satu jalan lagi, yaitu terus menerus dengan penuh kesungguhan dan ketekunan memohon kepada Tuhan, siapa tahu Tuhan mengasihaninya dan berkenan atas kesembuhan anaknya sehingga anak itu tetap hidup. Inilah pengharapan yang bertumpu pada sikap iman kepada Tuhan.
Sikap iman atas kekasih yang sakit yang dihidupi dengan kekuatan tindakan iman selama pendampingan, niscaya pada gilirannya mempersiapkan kekasih yang sakit untuk siap menjalani dan menerima apapun yang akan terjadi, termasuk kemungkinan dipanggil Tuhan.
Sikap Iman atas Kematian Kekasih
Pada saat anak yang dikasihinya mati, Daud berkata: “Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi?” Daud mengakui bahwa pada hakikatnya hanya Tuhanlah yang menentukan kehidupan setiap orang. Hidup dan mati seseorang berada di tangan Tuhan.
Tak seorang pun dapat menguasai kematian. Hidup merupakan hak Tuhan. Karena itu, pada waktu anak yang dikasihinya sakit, ia hanya dapat meminta kesembuhan, namun tidak dapat menuntut Tuhan untuk menyembuhkannya. Dan ketika pada akhirnya anaknya mati, Daud merelakannya.
Ia yakin bahwa Tuhan memang telah berkehendak untuk memanggil pulang kembali anaknya ke rumah Bapa di Sorga. Ia pun mengimani kematian sebagai pintu kesembuhan yang paripurna dan kekal bagi anaknya. Daud pun mengakui keterbatasannya sebagai manusia. Ia tak pernah dapat mengembalikan anaknya yang telah mati, betapa pun ia sangat mengasihinya.
Kematian bukanlah sesuatu yang dapat dihindari, apalagi ditolak. Tetapi juga bukan sesuatu yang boleh dicari-cari. Ia hanya dapat diterima dan malahan layak untuk disyukuri pada saatnya. Sebab berharga di mata Tuhan kematian setiap orang yang dikasihi-Nya (Mzm.116:15). Pasca kematian, tak lagi diperlukan upaya apapun dalam rangka menghadirkannya kembali.
Pada saat anaknya tidak lagi bersamanya, Daud berkata: “Ia tidak akan kembali kepadaku, aku yang akan pergi kepadanya”. Daud mengerti bahwa kematian merupakan pemisah sementara antara dirinya dengan anaknya. Suatu kali kelak, bila tiba waktunya ia pun akan pulang ke rumah Tuhan dan bertemu lagi dengan anaknya.
Inilah pengharapan orang yang beriman kepada Tuhan dalam rangka mempersiapkan para kekasihnya dipanggil Tuhan.
“Hiburkanlah seorang akan yang lain, hiburkanlah kekasih-kekasih kita dengan perkataan-perkataan dan sikap iman ini”.
(Pdt. Setyahadi)


