Sebagai ungkapan syukur atas selesainya renovasi gedung Panti Surya Surabaya, maka pada tanggal 5 Oktober lalu diadakan soft opening dan peresmian gedung yang ditanda tangani oleh Eri Cahyadi. Renovasi tersebut adalah pembangunan lantai dua penambahan 33 tempat tidur untuk para penghuni rumah usiawan Panti Surya.
Kedatangan Eri Cahyadi beserta istri, Rini Indriyani disambut wajah sumringah para oma opa yang berusia antara 62 hingga 107 itu. Bunga yang dikalungkan oleh salah satu penghuni panti sebagai ucapan selamat datang, dibuat khusus oleh para oma.
Melalui sambutannya, Ketua Yayasan Panti Surya, Bambang Santoso mengatakan, perjalanan 50 tahun ini benar-benar penyertaan dari Tuhan. Karena kami berjalan dalam nilai-nilai kebenaran. Bejalan untuk kepentingan sosial, tidak profit oriented. Kami benar-benar melayani para oma dan opa

“Selama berdirinya Panti Surya, tidak pernah kekurangan sedikitpun. Dalam perjalanan ini benar-banar ada penyertaan Tuhan. Itu semua karena kami tetap berjalan dalam nilai-nilai kebenaran,” imbuhnya.
Ada beberapa tipe kamar yang ada di Panti Surya. Tipe kamar paling standar, lebih kurang 60 persen dari 81 kamar dengan harga 1.250.000 rupiah per satu kamar (satu kamar diisi 3 orang). Penghuni mendapat makan tiga kali sehari, dan snack dua kali. Sedangkan tipe kamar yang untuk dua orang dengan harga 2.000.000 rupiah per kamar.
Disediakan juga kamar yang diperuntukkan bagi yang benar-benar bed rest, yaitu dengan harga 5.250.000 rupiah. Kamar yang diberi nama Bethesda ini memakai ranjang khusus dan ruangannya memakai air conditioner (AC).
Selain dihadariri Eri Cahyadi, peresmian Panti Surya ini juga dihadiri BPMS Pusat, BPMSW Jawa Timur, para pendeta, Donatur, dan para undangan.
Dalam sambutannya, Eri Cahyadi mengatakan, bahwa di setiap harta orang yang mampu, itu sebenarnya adalah harta milik orang lain yang dititipkan Tuhan kepadanya.
“Wajib bagi orang yang mampu mengeluarkan sebagian hartanya untuk menolong orang lain yang membutuhkan. Bagaimana membantu satu dengan liannya, mengamalkan ajaran dengan agamanya. Karena Surabaya ini dibangun dengan cinta, dengan kasih sayang dan dibangun dengan nilai-nilai agama yang ada, dan yang tidak dipisahkan dengan Pancasila,” paparnya lebih lanjut.
“Semakin banyak orang Surabaya yang berbagi di tempat-tempat sosial, maka semakin banyak berkat Tuhan yang turun di kota Surabaya ini. Panti ini menjadi contoh luar biasa. Ketika umat memegang teguh agamanya maka kehidupannya akan selalu berbagi. Apalah arti sebuah hidup kalau kita tidak pernah berbagi dan membantu orang lain,” imbuh Eri.
Sedangkan Ketua BPMS, Pdt Setyahadi mengatakan, bangunan baru ini didoakan berdasarkan sebuah kesadaran. Bahwa setiap orang butuh bangunan untuk tinggal. Tapi bangunan saja tidak cukup. Setiap orang juga butuh komunitas. Berharap opa oma yang sudah berjerih lelah menjalani hidup, di masa tuanya mendapatkan kesempatan hidup di tempat yang jauh lebih layak, berkomunitas dengan lebih memanusiakan keberadaannya. Karena itu bangunan ini diupayakan sedemikian rupa dengan hubungan semua pihak dan tentu tak terkecuali dukungan dari pemerintah kota Surabaya.

Acara ini ditutup dengan pengguntingan pita, pelepasan balon, membunyikan sirine dan penandatangan prasasti oleh Eri Cahyadi. Pemberian plakat kepada Eri Cahyadi sebagai bapak dari arek-arek Suroboyo. (doc/brkt)



