Saat seseorang mengalami kesedihan, maka akan muncul dua efek akibat dari kesedihannya itu, yaitu efek negatif dan efek positif. Efek negatif terjadi pada mereka yang melakukan hal buruk dengan menyakiti orang lain atau diri sendiri. Sedangkan efek positif terjadi pada mereka yang melakukan hal baik, sehingga justru membuahkan sesuatu yang luar biasa bagi dirinya.
Dua orang yang sama-sama dinyatakan positif covid-19, saat menjalani perawatan dan isolasi mempunyai sikap yang berbeda. Orang pertama mengalami depresi, ia lebih merutuki diri kenapa hal itu menimpa dirinya, kecewa dan putus asa. Sementara, orang satunya mampu melihat kenyataan yang terjadi, melewatinya dengan semangat bahwa ini bisa diatasi, bahkan menjadi kesempatan untuk menginstropeksi diri, bersyukur dan berdoa. Kesedihan tak selamanya menghantui karena selalu ada harapan dan solusi.
Bagaimana kita bisa melihat dampak positif dari sebuah kejadian, itulah yang bisa mengubahkan kesedihan menjadi pengharapan.
Ketika Anda hanya melihat kesedihan, maka yang ada di depan kita adalah kekecewaan, amarah, dan keputusasaan.
Seperti peristiwa sekitar 2.000 tahun lalu. Saat Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, telah membawa kesedihan mendalam bagi banyak orang. Kesedihan itu tidak hanya membawa kekecewaan tetapi mengakibatkan keputusasaan serta hilangnya kepercayaan.
Saat ini Anda dan saya sedang memperingati paskah, apakah paskah yang kita peringati ini hanya sebuah kebiasaan semata tanpa mengalami dampaknya dalam hidup kita?
Dampak Paskah
Paskah mengubah pandangan yang menjadi kebiasaan orang pada umumnya. Dari kesedihan diubahkan menjadi kekuatan dan pengharapan akan keselamatan. Kesedihan tidak selamanya menjadi kesedihan tanpa akhir, bukan? Hanya melalui kebangkitan Kristus, kesedihan itu telah dipatahkan. Kita yang mengaku percaya Tuhan Yesus, tentu mengakui bahwa Dia yang telah mati di kayu salib, telah bangkit pada hari yang ketiga.
Kristus telah memberi dampak melalui pengorbanan-Nya. Bukan pengorbanan biasa, tetapi pengorbanan yang dilandasi kasih tak terbatas. Paskah mengubah kesedihan menjadi sukacita abadi, paskah mengubah penderitaan menjadi harapan, paskah mengubah maut menjadi hidup kekal, dan kematian tidak berlaku lagi.
Mari, melalui hidup kita sehari-hari, lewat karya dan pelayanan, bahwa setiap kesedihan yang terjadi selalu dalam jangkauan Tuhan, hanya dengan percaya bahwa Kristus telah bangkit, maka di balik kesedihan itu selalu ada dampak positif di hidup kita.
Jangan sampai kita kehilangan makna paskah itu sendiri. Memperingati paskah setiap tahun tetapi hanya menjadi kebiasaan semata tanpa merasakan kekuatan dari paskah itu sendiri.
Karena itu ingatlah apa yang dikatakan Paulus dalam 2 Korintus 3:5, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”
Bukan waktunya lagi kita larut dalam pelbagai kesedihan dan penderitaan, tetapi bangkitlah, pakailah potensi yang sudah Tuhan berikan dan memberi dampak kepada sesama kita, kepada lingkungan sekitar kita, kepada bangsa, dan kepada dunia.


