PLASTIK adalah bahan dasar pelbagai alat dan produk kebutuhan manusia sehari-hari. Sebagai contoh, kemasan bahan-bahan sembako juga kebutuhan lainnya seperti kosmetik, perawatan tubuh, peralatan elektronik, mainan anak-anak dan berbagai produk lainnya.
Fakta ini mengakibatkan terkumpulnya sampah plastik, mulai dari rumah tangga, supermarket, pabrik, serta instansi pemerintah dan swasta. Sampah plastik merupakan masalah sangat serius. Masalah tersebut terkait dengan bahan penyusun plastik dan proses penguraian plastik di alam.
Masyarakat pengguna plastik pada umumnya juga mempunyai kebiasaan membuang secara sembarangan, seperti di tanah, sungai, atau laut. Bahkan data menunjukan bahwa sampah plastik di kedalaman laut Pasifik sudah hampir 100 meter. Ini terjadi karena total sampah plastik terbanyak justru di daerah pantai dan laut.
Beberapa usaha yang dilakukan manusia yang sadar lingkungan adalah mengurangi penggunaan plastik, atau dengan mengumpulkan serta menggunakan kembali (re-use) mengolah kembali (re-cycle) sampah-sampah plastik tersebut.
Mengapa hal tersebut penting dilakukan? Data dan fakta menunjukan bahwa plastik membutuhkan waktu yang sangat lama (mencapai 50-80 tahun) untuk bisa terurai di lingkungan. Plastik merupakan senyawa hidrokarbon dengan penyusun utama karbon dan hidrogen.
Sekarang sudah ditemukan pelbagai jenis plastik dengan molekul penyusun yang beragam, namun penyusun inti plastik adalah Karbon (C), Hidrogen (H) dan beberapa tambahan atom Oksigen (O), nitrogen (N), Klor (Cl), Fluor (F), dan belerang (S). Sementara penyusun kimia paling dasar dari plastik disebut dengan homopolymer karena hanya terdiri dari satu struktur dasar. Dengan struktur yang demikian maka plastik sangat sulit terurai di lingkungan secara alami.
Secara umum plastik dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu, Thermo Halus dan Thermo Kasar.  Thermo halus adalah plastik yang apabila dipanaskan, akan menjadi halus. Jenis plastik ini sering digunakan karena mudah dibentuk sesuai kebutuhan manusia. Sementara Thermo kasar adalah plastik yang apabila dipanaskan, akan menjadi keras dan tidak lunak. Jenis plastik ini sering digunakan pada industri-industri besar dan juga digunakan pada pesawat ruang angkasa.
Manusia sangat tergantung pada dua jenis plastik ini, sehingga mereka memproduksi plastik secara melimpah dan berdampak pada penumpukan sampah plastik. Fakta lain tentang sampah plastik adalah bila dibakar dapat mencemari udara, karena pembakaran plastik yang tidak sempurna menghasilkan senyawa dioksin yang sangat berbahaya apabila terhirup oleh manusia. Bahaya dioksin adalah dapat menyebabkan kanker, hepatitis, pembengkakan hati, ganguan sistem saraf dan depresi.
Upaya Pelestarian
Masyarakat perlu disadarkan akan bahaya sampah plastik serta dibina bagaimana mengolahnya. Salah satu contoh penanganan sampah plastik berbentuk botol kemasan minuman adalah dengan menggunakannya sebagai pengganti pot tanaman. Dengan demikian maka akan tercipta pelestarian alam, dengan menanam tanaman dalam pot-pot plastik tersebut.
Di pihak lain, membawa tas belanja sendiri akan mengurangi ketergantungan penggunaan kantung plastik. Melakukan pemisahan sampah akan memudahkan juga proses pengolahan bahkan pemanfaatan kembali terhadap sampah-sampah tersebut.
Kesadaran masyarakat yang rendah terhadap pelestarian lingkungan sebenarnya menggambarkan rusaknya hubungan manusia dengan alam. Manusia tidak mampu melihat alam ciptaan Tuhan sebagai anugerah yang patut untuk dihargai dengan cara memanfaatkan secara benar serta melestarikannya.
Tentu tak dapat diingkari bahwa keadaan ini disebabkan karena dosa. Dosa bukan saja merusakkan hubungan manusia dengan alam, tetapi juga menyebabkan penurunan mutu alam secara bertahap dan pasti serta bersifat irreversible (tak dapat kembali).
Karena itu kegiatan pelestarian alam diperlukan, sekali pun hal ini hanya untuk memperlambat laju penurunan mutu alam tersebut. Di pihak lain, para evolusionis berpendapat bahwa alam semesta dan kehidupan akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya waktu, yang justru tak sesuai dengan fakta, maka hal ini membuat manusia semakin hari semakin tidak mempedulikan alam. Sebab bagi mereka, alam akan semakin baik keadaannya, sehingga tak diperlukan peran serta melestarikannya.
Tentu saja pandangan para evolusionis tersebut di atas sangat tidak tepat. Alam semesta semakin hari semakin memburuk keadaannya, justru semakin memerlukan campur tangan manusia untuk mengelolanya. Inilah tugas manusia.
Manusia Sebagai Partner Tuhan
Sejak semula ketika Tuhan menciptakan manusia, Tuhan mempunyai rencana mulia, yaitu menjadikan manusia partner kerja-Nya dalam mengelola dan memelihara alam semesta (Kejadian 1:26-28). Untuk tujuan-Nya yang mulia itulah, Tuhan melengkapi manusia akal budi yang baik, yang bisa dimanfaatkan untuk mengatur alam. Namun dosa telah mengacaukan segala kemuliaan yang direncanakan Tuhan.
Manusia berdosa itu seperti sampah plastik, keadaaannya rusak, tidak berguna, dan menjadi sumber kerusakan bagi lingkungan sekitarnya. Manusia berdosa adalah sumber masalah serius bagi alam semesta, yang harus diatasi. Manusia tidak bisa menolong dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik, sama seperti sampah plastik tersebut yang memerlukan penanganan khusus. Masalah dosa yang juga menyebabkan rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan, perlu pemulihan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.
Dengan demikian manusia dimampukan kembali bertindak sebagai partner Tuhan dalam mengelola alam semesta (1 Korintus 5:17). Selanjutnya, mereka dapat mengembangkan pola hidup benar dengan motivasi hati yang tepat, serta bijaksana dalam menyikapi permasalahan berkaitan dengan penggunaan produk dengan bahan dasar plastik.
(Ari Budiyanti)


