HomePernak-Pernik KeluargaTiga Hal Perlu Diingat Saat Masa Sulit Menjerat

Tiga Hal Perlu Diingat Saat Masa Sulit Menjerat

“Demi kebaikan kami berdua dan masa depan anak-anak kami, saya dan istri memutuskan untuk mengakhiri hubungan sebagai suami istri.” Tutur seorang kawan yang aktif di sebuah komunitas yang memperjuangkan anak-anak terlantar.

“Sepertinya kami sudah tidak ada kecocokan lagi, dan upaya mencari titik tengah pun telah buntu. Ya, seiring berjalannya waktu yang berkaitan dengan pertumbuhan pribadi serta prinsip, masing-masing kami sudah tidak sinkron lagi,” imbuhnya.

Kalau kita melihat kehidupan saat ini, kalimat ‘bercerai’ sepertinya tidak lagi menjadi sesuatu masalah besar bagi sebuah pernikahan. Begitu mudahnya seseorang kemudian mengucapkan kata bercerai kepada pasangan hidupnya. Persoalan sepele saja dapat menjadi pemicu berakhirnya sebuah ikatan pernikahan.

Masih banyak juga yang beranggapan bahwa pernikahan yang dilandasi saling mencintai, direstui orang tua hingga kelancaran dalam proses menikah pasti akan selalu berjalan dengan baik. Padahal di setiap perjalanan pernikahan pasti merasakan dan melewati apa yang disebut masa sulit. Dan hadirnya orang ketiga masih menjadi penyebab kuat perceraian.

Ya, masa sulit inilah yang seringkali membuat seseorang mengambil langkah keliru. Masa sulit bisa terjadi, tetapi itu bukan alasan bagi kedua pasangan untuk dekat dengan orang lain yang justru berakhir pada perselingkuhan. Nah, perselingkuhan ini yang menjadi jalan mulus menuju perceraian.

Pelbagai alasan kemudian muncul, seperti saya butuh pengalihan masalah, butuh orang lain yang bisa mengerti, butuh pihak ketiga dan alasan lain yang melibatkan pihak di luar pernikahan dan lain-lain.

Saat masa sulit itu datang, ingatlah dua hal ini

Pertama, jangan menyesali apa yang telah terjadi

“Apakah keputusan yang dulu saya ambil ini sudah benar? Menikahi perempuan yang sekarang menjadi istri saya?” Tanya lelaki yang sudah 15 tahun menjalani hidup rumah tangga itu. Pertanyaan tersebut terlontar karena menurutnya, hidup pernikahan yang dijalani selama ini banyak diwarnai pertengkaran yang disebabkan perselisihan pendapat.

“Sebagai manusia, saya kan punya batas. Sejak awal menikah masalahnya selalu itu saja yang diperdebatkan. Ya, tentang perbedaan prinsip, pekerjaan hingga sekarang ditambah lagi cara mendidik anak,” kisahnya dengan nada setengah mengeluh.

Apa pun persoalan yang menghinggapi hidup rumah tangga, jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Apalagi menganggap bahwa kita telah salah memilih pasangan. Hindari menyalahkan diri sendiri. Ingat, bahwa yang sudah terjadi adalah perkenan Tuhan, fokuslah tetap pada jalan yang dikehendaki-Nya.

Persoalan hidup tidak dapat ditutupi apalagi dihindari. Meskipun seringkali membuat pikiran kita tertutup, nyali kita menciut, hilang pengharapan dan putus asa, hadapi dengan kesabaran dan kebijakan hati. Berjuanglah lebih hebat saat kesulitan mendekat.

Kedua, jangan buat keputusan berdasar kepentingin pribadi

Inilah yang sering tidak disadari beberapa pasangan. Masing-masing mencari jalan keluar berdasarkan pemikiran sendiri saja. Ya, saat kesulitan hadir, mencari jalan keluar bersama terkadang bukan menjadi prioritas. Banyak pasangan yang lupa bahwa mereka adalah dua pribadi yang menjadi satu. Karena itulah keterbukaan dalam relasi harus sudah dipupuk sejak awal mula pernikahan.

Sebab, saat keputusan dibuat oleh hasil pemikiran pribadi, maka hasilya pasti berat sebelah. Apapun permasalahan kehidupan rumah tangga adalah akibat dari hubungan pasangan tersebut, bukan? Karena itu, segala keputusan harus melibatkan keduanya.

Ingatlah bahwa hubungan kita adalah hasil kesepakatan bersama. Kesepakatan dari hal-hal kecil yang kemudian berlanjut pada hal lebih besar. Seperti juga keharmonisan yang kita bangun, dapat dimulai dari hal-hal kecil dan dirajut secara bersama.

Tak ada keputusan yang baik saat masing-masing kita hanya memikirkan kepentingan sendiri saja.

Sebuah pernikahan pasti mendambakan kebahagiaan, itulah tujuan setiap pasangan. Tetapi ingatlah juga bahwa setiap pernikahan tidak akan lepas dari segala permasalahan dan kesulitan. Ketika kebahagiaan itu hilang, maka yang tersisa hanyalah permasalahannya

Karena itu janganlah berpikir untuk mencari kebahagiaan lain di luar pernikahan kita sekarang. Nikmati saja kebahagiaan kita dengan segala permasalahan yang ada.

Pernikahan harus diusahakan sebagai upaya melakukan kehendak Tuhan

Kalimat dari Amsal ini mengajak kita untuk mengingat kembali akan perkataan Firman Tuhan. “Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.” (Amsal 24:3-4).

Jadikanlah ibadah sebagai dasar dari rumah tangga kita. Membawa semua permasalahan ke hadapan Tuhan. Keputusan berumah tangga, berarti keputusan untuk mengerti jalan Tuhan dan terus dipelajari berulang-ulang. Yang perlu kita pelajari adalah pasangan kita, sedangkan yang perlu kita ubah adalah diri kita untuk mengerti pasangan.

Saking banyaknya masalah yang terjadi dalam rumah tangga yang mengarah kepada perceraian, di negara seperti  Inggris sampai membuat aturan untuk memudahkan seseorang dalam mengurus proses perceraian. Berbeda lagi dengan orang Jepang yang memilih bertahan dalam pernikahan walau tanpa cinta. Mengapa tidak fokus saja pada upaya memperbaiki pernikahan?

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments