HomeRefleksiWanita di Sekitar Salib

Wanita di Sekitar Salib

Penjelajah besar Inggris, Mary Kingsley, dilahirkan di Highgate, London, 1862. Ia berasal dari keluarga berada dan berpendidikan, tapi jiwa petualangan membawanya membantu suku-suku terpencil di pedalaman Afrika. Sebagai seorang petualang, Mary Kingsley adalah sosok wanita yang tangguh dan berani.

Penjelajah dan pedagang lain sangat menghormati Kingsley, dan tidak menganggap remeh hanya karena ia seorang perempuan. Kingsley mampu bertahan hidup setelah jatuh ke dalam lubang perangkap yang penuh duri, berenang melewati sungai yang dipenuhi lintah, dan menjadi pemanjat kedua yang mencapai puncak Gunung Cameron, puncak tertinggi di Afrika Barat.

Sebagai orang berada dan berpendidikan tinggi sebenarnya ia tidak perlu menyusahkan diri untuk menyelamatkan orang-orang di Afrika, apalagi mereka terkenal sebagai suku kanibal dan tidak berpendidikan. Tekadnya untuk melakukan penelitian di bidang antropologi dan sejarah suku-suku Afrika ini akhirnya membawa reformasi suku-suku Afrika menuju peradaban baru. Tentu apa yang dilakukan Kingsley mendatangkan kritik dan tantangan besar dari pedagang dan pemerintahan Inggris saat itu. Namanya tercatat sebagai inisiator gerakan reformasi Kongo yang mendirikan African Society. Kingsley menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal pada usia 37 tahun di Afrika.

Membaca kisah Mary Kingsley sungguh menginspirasi, demikian juga halnya membaca kisah para wanita di sekitar salib. Alkitab mencatat tiga nama wanita yang mengiring Yesus saat mengalami siksaan hingga ke Kalvari, tidak termasuk Maria ibu Yesus (Yohanes 19:25). Yang pertama adalah Maria Magdalena, selanjutnya Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salomo (Markus 15:40-41).

Ketika para murid yang selalu bersama Yesus telah melarikan diri karena takut ditangkap sebagai pengikut Yesus, para wanita ini tidak melarikan diri. Apakah karena mereka berani atau lebih berkomitmen dibandingkan laki-laki, para murid Yesus? Mungkin saja, meskipun nampaknya perempuan tidak mungkin ditangkap. Terlepas dari itu, mereka ada di sana, tetap setia, tidak hanya sampai kematian Kristus, tetapi juga setelah kematian-Nya hingga hari kebangkitan-Nya.

Calvin memberi komentar melalui tulisannya, “How shameful will it be, if the dread of the cross deters us from following Christ, when the glory of his resurrection is placed before our eyes, whereas the women beheld in it nothing but disgrace and cursing!” (Alangkah memalukan, jika rasa takut terhadap salib menahan kita dari mengikut Kristus, pada waktu kemuliaan kebangkitan-Nya diletakkan di depan mata kita, sedangkan perempuan-perempuan itu tidak melihat apapun di dalamnya selain aib dan kutuk).

Calvin hendak menegaskan, bahwa pada saat para wanita tersebut belum melihat kebangkitan Kristus, yang nampak di depan mata mereka hanyalah aib dan kutuk pada diri Yesus. Tetapi mereka tetap menunjukkan pengharapan, keberanian dan kesetiaan yang luar biasa dalam mengikut Yesus.

Kingsley dan para wanita di dekat salib memberi teladan bagi kita untuk memiliki pengharapan, keberanian dan kesetiaan saat berada dalam situasi yang sulit, bahkan ketika situasi tersebut tidak menguntungkan mereka. Demikian juga kita sebagai orang Kristen yang mengaku murid Kristus, apapun yang kita kerjakan saat ini di tengah rutinitas dan carut marut problematika hidup, kita ditantang untuk memiliki keberanian seperti mereka. Sudahkah kita berkomitmen untuk tetap berada di sekitar salib Yesus, dan terus menjadikan salib sebagai fokus pandangan kita? Ketika salib Kristus menjadi fokus utama kita, tidak akan ada yang dapat menghalangi kita untuk melangkah dan berjuang bagi Yesus.

Refleksi ini saya persembahkan untuk para wanita yang berjuang dalam berbagai profesi yang ditekuni. Teruslah berjuang, kerjakan visi yang Tuhan hadirkan dalam hidupmu dan tetap berfokus pada Yesus.

(Ria Agustina – Staf Perkantas)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments