Surabaya – Dari sore hingga malam, Taman Bhinneka di Jl. Medoakan Keputih berubah jadi panggung syukur. Tepat 27 Juni 2026, taman edukasi ini merayakan satu tahun berkarya dengan tema “One Year of Impact”.
Acara dibuka dengan doa oleh Romo Jelantik. Hadir Bu Hana, Bu Yayuk dari Bappeda, Ketum FBM, tokoh agama, masyarakat, mitra lintas agama dan budaya, para sponsor, serta tim Pondok Kasih. Satu meja, satu semangat: merawat persatuan.
Sambutan pertama dari Perwakilan Kelurahan Sukolilo, Bapak Anang, mewakili Lurah. “Atas berdirinya Taman Bhinneka, Kelurahan bersyukur. Kini ada wisata dan taman edukasi di Kecamatan Sukolilo, Kelurahan Keputih.”
Kemeriahan dilanjutkan persembahan Paduan Suara Tim Taman Bhinneka yang membawakan lagu-lagu Nusantara, dan tarian dari Sanggar Omah Ayu. Suasana langsung hangat, lintas usia dan latar belakang duduk satu tempat.
Mimpi Martin Luther, Kini Nyata di Keputih

Syuhada Endrayono, Penasihat Taman Bhinneka, mengingatkan akar visi taman ini. “Impian Martin Luther: anak-anak kulit putih dan hitam bisa berkumpul bercengkrama. Hari ini, impian Bu Hana terwujud di Taman Bhinneka ini.”
Buktinya, Taman Bhinneka baru saja meraih Juara 1 Education and Tourism Award kategori Historis dan Edukasi. “Anak-anak dari pelbagai ras, suku, agama, sosial bisa bermain bersama di sini. Inilah nation character building yang nyata. Wujud Indonesia sejati. Semua karena Pancasila,” tegasnya.
Ia menambahkan, Forum Beda tapi Mesra dan Pondok Kasih bersama mengusung kerukunan dan persatuan hati lewat taman ini.
Ruang Publik yang Punya Jiwa

Ketua Yayasan Pondok Kasih (YPK), Indah Wati, menyebut Taman Bhinneka sebagai kerinduan yang jadi nyata. “Ini ruang publik yang punya jiwa, tidak sekadar hijau. Kasih dalam perbedaan diwujudkan. Kita merajut dialog, bersinergi dengan pemerintah. Kita tidak bisa jalan sendiri, tapi bersama-sama.”
Malam makin meriah dengan penampilan Miss Tionghoa, Miss Megan, yang membawakan beberapa lagu dengan suara indahnya.

Pesan paling dalam datang dari Pendiri Taman Bhinneka, Hana Amalia Vandayani. “Saya bangga jadi warga Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Kita sama-sama tidak bisa memilih dilahirkan di suku, agama, atau ras apa. Lalu mengapa kita harus saling membenci?”
Ia juga membagikan kabar: ada “Safari Perdamaian” dari kota ke kota di Indonesia, bahkan luar negeri. “Ada sesuatu di Indonesia yang tidak dimiliki negara lain, yaitu Pancasila.”
Simbol Keberagaman Kota Pahlawan

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya, Maria Theresia Ekawati R. SH., MH., menutup rangkaian sambutan: “Taman Bhinneka adalah simbol keberagaman. Mari jaga semangat kesatuan dan persatuan di Kota Surabaya.”
Perayaan satu tahun ditandai prosesi pemotongan tumpeng, setelah seluruh tamu menyaksikan video perjalanan satu tahun Taman Bhinneka. Dari tanah kosong menjadi rumah bersama. Dari ide menjadi dampak.
Taman Bhinneka membuktikan: saat perbedaan dirayakan, bukan ditakuti, kota jadi lebih indah. Satu tahun impact, untuk ribuan tahun persatuan ke depan. (doc/berkat)


