HomeTokoh & ProfilSepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Kehidupan ini memang tidak ada yang sempurna. Ada saja sisi-sisi kekurangan yang dimiliki setiap insan. Lebih dari satu sisi, tetapi kurang di sisi yang lain. Tetapi toh ada hal-hal yang bisa kita simak dan teladani dalam kehidupan anak-anak Tuhan.

Digembleng dalam Bengkel Mesin

Berawal dari sebuah bengkel mesin di Purwokerto, ia memulai kariernya sejak usia 22 tahun. Di situlah ia menjadi ‘Magazijn Meesteres’ dan bagian Personalia yang mengurusi 16 orang karyawan. Pekerjaan administrasi dan pembuatan statistik hasil produksi adalah pekerjaan utama yang disukainya di bengkel itu. Namun di tengah bisingnya mesin bubut dan diesel, dia juga harus mongar mandir  di bengkel untuk mengontrol kebutuhan bahan.

Watak yang ingin tahu ditunjang etos kerja kerjas yang dimiliki, ia tak enggan belajar menjadi tukang bubut As dan ikut bongkar pasang mesin diesel. Lingkungan yang keras ini ikut membentuk pribadinya yang tekun dan ulet. Hari-hari dengan pekerjaan berat ini dilaluinya selama empat tahun di kota yang terkenal dengan kripiknya sampai tahun 1954.

Teladan yang Mengubah

Tuhan mengubah pribadi seseorang melalui tempaan, tetapi juga melalui perjumpaan. Di Purwokerto itulah ia berjumpa dengan Guru Injil Oei Liang Bie yang mendorong Oey Sien Nio aktif dalam pelayanan Tuhan. Dengan bimbingan sang organisator yang dikenal di lingkungan Gereja THKTKH (sekarang GKI), hal ini membuat Oey Sien Nio dipercaya menjabat sebagai Ketua SMKA pada tahun 1952 dan kemudian menjabat Ketua ‘Tjheng Lian Hwee’ (Perkumpulan Pemuda Kristen).

Keteladan Oei Liang Bie banyak mempengaruhi Sien dalam berorganisasi. Jadilah Sien orang yang ‘zakelijk’ menjalankan peraturan organisasi sampai sekarang. Keikutsertaannya dalam konperensi ‘Tung Yu Hui’ bulan Juli 1954 di kota Malang makin membuatnya ia punya wawasan ke luar. Kecermatannya dalam masalah pekerjaan catat-mencatat ini menjadi modal ia makin mandiri mengatur arsip-arsip suatu lembaga pelayanan.

Dari Bengkel Mesin ke Bengkel Rohani

Kerjasama pelayanan di Purwokerto ternyata berlanjut di Surabaya, ketika Guru Injil Oei Liang Bie melayani di kota Pahlawan ini. Permintaan Ds. Oei Liang Bie kepada orangtua Sien agar diperbolehkan Sien melayani di Surabaya, ternyata dijawab: “terserah anaknya, sebagai orangtua saya hanya mendukung”.

Jadilah panggilan itu dilayangkan tanggal 20 Juni 1954 kepada Oey Sien Nio untuk mengurusi administrasi gereja. Ds Oei Liang Bie memang punya kiat berorganisasi dan menginjil. Perhatiannya di bidang administrasi diterapkan dengan motto: “Administrasi gereja yang terarah dan teratur akan mempercepat pekerjaan di bidang Pekabaran Injil (PI)”.

Betul juga, semua data dan arsip-arsip yang teratur ini sangat mendukung pelayanan Majelis Gereja. Dengan demikian anggota Majelis Gereja dapat mengkonsentrasikan untuk ‘huisabezoek’ (perkunjungan ke rumah) anggota gereja.

Di bengkel rohani inilah gereja mulai mengenal ‘Kantor Gereja’ sampai sekarang dan Oey Sien Nio adalah orang pertama yang menjadi pelopor Tata Usaha Gereja GKI Jatim. Kantor ini diresmikan tanggal 1 Agustus 1954 di Joharlaan 4 (sekarang jalan Johar 4) yang kini dipakai LKK (Lembaga Kesejateraan Keluarga).

Menjadi Guru Agama

Gereja bukan cuma melayani anggota jemaat, tetapi ikut memikirkan pendidikan agama di sekolah non Kristen sebagai salah satu sarana PI. Mengingat pekerjaan di TU belum terlalu banyak, maka atas permintaan Tua-tua Oei Koen Heng (J. Widjaja alm.) selaku unsur KPI meminta kesediaan Oey Sien Nio melayani sebagai guru agama di SD Negeri kelas IV, V, dan VI.

Berbekal pengalaman sebagai guru Sekolah Minggu ia ditatar khusus oleh Ds. W. Van der Hoek, pendeta utusan dari NHK untuk GKJW. Komitmennya pada panggilan Tuhan menjadikan ia yakin bahwa Tuhan yang mengutus pasti juga Tuhan yang memperlengkapi. Dengan macam-macam buku pedoman yang ia pelajari, ia melayani selama 4 tahun (1954-1959) di beberapa SD Negeri: Gembong I dan Gembong II, Kusuma Bangsa dan Pasar Turi dan tak lupa harus kembali ke posnya di Joharlaan 4. Ternyata kesediaan dan kesiapan diri melayani Tuhan, membuat ia bisa melakukan semuanya ini walaupun secara formal ia tiadak berpendidikan guru agama.

Karier mengajar harus berakhir, karena tugas utamanya di bidang Tata Usaha gereja makin menumpuk. Ini karena pelayanan gereja yang berkembang, baik kebaktian di gedung gereja Inggris di jalan Dipenegoro 24 maupun di jalan Residen Sudirman 16 disamping kebaktian di Joharlaan sebanyak 3 kali.

Duet dengan Tan Kiem Lan

Tuhan tidak pernah membiarkan Sien seorang diri, sejak April 1956 ditambah seorang teman kerja yaitu Tan Kiem Lan. Tuhan sudah memilihkan teman sekerja yang bisa saling mengisi. Dua insan wanita ini memiliki karakter yang bertolak belakang namun saling mengisi. Sien punya karakter keras dan lugas disertai jiwa memimpin, sedang Lan cenderung lebih senang dipimpin dan menasihati kalau ada persoalan. Duet ini berjalan baik sampai tahun 1974 yaitu sejak GKI Surabaya ‘dikembangbiakkan’ menjadi lima gereja setempat: GKI Dipnegoro, GKI Emaus, GKI Ngagel, GKI Ressud, dan GKI Sulung.

Karena masih ada hal-hal yang dikerjakan bersama, maka dibentuklah BKS 5 GKI Surabaya dan Sien diminta melanjutkan pelayanannya dalam rangkah alih administrasi. Pada tahun 1984 Sidang Raya DGI X di Ambon telah memutuskan mengubah nama DGI menjadi PGI  dan Sien berkesempatan hadir menyaksikannya.

Memasuki usia 58 tahun, Sien berpikir sudah saatnya pekerjaan Kantor Gereja harus digantikan generasi muda yang mengerti manajemen, komputer dan berlatar belakang pendidikan teologi. Akhirnya tahun 1985 Sien mengundurkan diri setelah 32 tahun mengabdi. Kebaktian Syukur Pelepasan Oey Sien Nio diadakan tanggal 5 Maret 1986.

Memberi kesaksian di HUT YPB ke 35 di GKI Sulung Sekolahan, Surabaya

Minat di Bidang Penerbitan

Sejak tahun 1957 ia telah kenal jurnalistik ‘in service training’ bimbingan Ds. Oei Liang Bie yang menerbitkan majalah Sinode Gereja THKTKH tiap tiga bulan. Baru tahun 1959 Majalah ini berganti nama menjadi Majalah Sinode GKI. Kemudian melaksanakan penerbitan majalah ‘Sahabat’ diterbitkan oleh Komisi Pembinaan Awam Sinode GKI yang diketuai Jahya Widjaja, alm.

Bersama dengan Willy Purwosuwito dan Liem Hong Nio, merintis penerbitan Majalah “Warta Efrat” dari tahun 1966-1967. Karena majalah Warta Efrata  hanya dinikmati anggota Paduan Suara di GKI Surabaya, maka lahirlah Majalah Musik gerejani ‘Crescendo’ memenuhi kebutuhan pembaca yang makin banyak di luar kota Surabaya.

Keikutsertaaan Sien berakhir karena majalah Crescendo dijadikan majalah Komisi Musik Gerejani Sinode GKI Jatim yang menunjuk Willy Purwosuwito sebagai Pemimpin Redaksi dari tahun 1967-1971.

Tahun 1974 lahirlah Yayasan Penerbitan Berkat Surabaya dan kembali Oey Sien Nio diminta sebagai pelaksana mengatur penerbitan, pengiriman dan keuangan Yayasan. Buku-buku yang diterbitkan: Nyanyian Rohani untuk Anak Jilid I dan II, Nyanyian Suplemen yang dulu dipakai GKI di Jawa Timur juga buku panduan PA.

Tahun 1989 memulai eksperimen penerbitan Buletin Berkat dengan dua warna dan 8 halaman. Baru tahun 1991 Buletin ini dibuat penuh warna, berisi 16 halaman. Sejak tahun 1991 mulai disusun Staf Redaksi, dan kini beredar dalam bentuk Majalah Berkat dengan oplah 6.325 ex, memasuki tahun penerbitan ke X.

Gaya Sang Autodidak

Dalam manajemen modern dikenal MBO singkatan Management By Objective. Rupanya kiat ini berlaku juga bagi Oey Sien Nio yang getol beroganisasi dan memahami tata gereja. Tidak bisa dipungkiri gayanya yang ‘to the point’ terkadang kurang bisa diterima orang lain yang belum mengenalnya.

Bagi mereka yang mengenal tahu betul bahwa itulah gaya bicaranya yang lugu. Jadi luar dan dalam sama saja. Orang yang tak suka basa-basi ini ternyata mengambil peran menerbitkan jadual penerbitan yang selalu tepat waktu. Sebelum batas akhir penyerahan naskah dan foto-foto liputan tak jemu-jemunya ia menelpon sana-sini. Bahasa Jawanya : ‘ngopyak-ngopyak’. Nah, gaya yang ia terapkan MBO itu adalah ‘Management By Opyak-opyak’.

Oey Sien Nio menerima penghargaan pelayanan 25 tahun di Majalah Berkat

Suka Duka di Balik Melayani

Musibah kecebur masuk got pada tanggal 27 Januari 1991 telah mengakibatkan tulang kaki kanan patah. Namun di sinilah ia merasakan Tuhan menyembuhkan dengan mujizat tanpa operasi. Selama enam bulan ia harus bersabar dengan kaki dibalut gips dan berjalan dengan tongkat penyangga.

Namun kasih Tuhan juga memperkenankan ia mengikuti tur ke Mesir-Yordania-Israel. Dengan rasa bahagia ia mengikut Perjamuan Kudus di Taman Getsemane dan Kebaktian Paskah di tempat di mana Musa mengangkat ular tembaga.

Orang yang melayani dua zaman ini sangat terkesan pelayanan pendeta ‘tempo doeloe’ karena ada rasa keakraban dengan semua anggota tanpa memandang status sosial. Bahkan kalau ada pendeta yang berkunjung ke kantor gereja, tak lupa ia didoakan. Wah rasanya seperti terhibur. ‘tapi itu dulu lho’, kilahnya. Sekarang kan zaman modern, semua sibuk, jadi harus maklum.

Pada tahun 1969 Majelis Gereja menugaskan Oey Sien Nio membuka Kebaktian Remaja ia merasa bangga bahwa anak didiknya ada yang menjadi pendeta yaitu Pdt. Budiono Adiwibowo, M.Th dan dua penginjil: PTK. Suwandi Tedjo, S.Th dan Ev. Harry Limanto, M.Div.

Mengakhiri bincang-bincang ini terbesit satu harapan bagi generasi penerus yang siap menerima tongkat estafet pelayanan ini. Ia merasa sudah cukup dan siap bila Tuhan memanggil, bahkan ia berharap ia tetap sehat dan penuh kesadaran bila panggilan mulia itu tiba. Yang penting ia sudah melayani tanpa pamrih.

DI DALAM PELAYANAN TUHAN, KEMAMPUAN
YANG TERBESAR ADALAH KESIAPAN

(Profil Oey Sien Neo – BERKAT Edisi 39 Tahun 1998)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments