HomePintu HatiKepekaan Kita Kepada Tuhan, Menjadi Jalan Menuju Keselamatan

Kepekaan Kita Kepada Tuhan, Menjadi Jalan Menuju Keselamatan

Pernahkah Anda menjadi kesal ketika melihat orang lain parkir sembarangan di depan rumah kita hingga menghalangi jalan saat kita hendak keluar? Atau betapa kesalnya kita saat sedang mencari parkir di sebuah mall, kemudian melihat tempat parkir yang harusnya untuk dua mobil tetapi hanya ditempati satu mobil saja?

Ya, kepekaan seseorang seringkali hilang saat kepentingan diri saja yang dipikirkan. Pokoknya diri saya nyaman, diri saya aman, saya senang, saya untung. Orang lain? Peduli amat!

Tidak peka terhadap sesuatu hal juga dapat membuat seseorang mudah tertipu. Misalnya saja kasus investasi bodong yang sempat marak kembali akhir-akhir ini. Mereka yang menjadi korban bahkan ada yang sampai bunuh diri. Serta masih banyak kasus lain termasuk korban dari berita-berita hoax dan sebagainya.

Jika kita tidak peka dengan keadaan sekitar, bagaimana kita bisa peka dengan orang-orang yang kita kasihi, dan bagaimana kita bisa peka dengan suara dan kehendak Tuhan?

Kenyataan hidup membuktikan, bahwa segala bentuk penindasan, pergumulan dan penderitaan yang kita alami membuat kita tidak peka akan suara Tuhan.

Akibat ketidakpekaan bisa kita lihat: Pertama, ketidakpekaan menjadikan kita menjadi pribadi yang keras kepala. Akibatnya kita sulit untuk berubah, tidak setia, serta lebih mementingkan duniawi ketimbang memilih jalan Tuhan.

Kedua, akibat ketidakpekaan kita menjadi orang yang gampang putus asa. Kita tidak yakin dengan janji dan pertolongan Tuhan, cenderung menyalahkan orang lain dan diri sendiri. Parahnya lagi, kita sampai meragukan kuasa dan penyertaan yang Tuhan sudah berikan.

Ketiga, akibat ketidakpekaan juga membuat kita sulit untuk menerima kenyataan. Sebagian orang lebih suka berandai-andai jika mengalami pergumulan hidup. “Seandainya dulu saya menikah dengan si anu dan bukan dengan suami saya sekarang, pasti saya tidak semenderita ini; Seandainya saya dulu menerima tawaran kerja di tempat itu, mungkin saya tidak semiskin saat ini, dan lain sebagainya.

Ketidakpekaan akan suara Tuhan juga membuat kita yang mengaku percaya Kristus menjadi jauh dari sukacita dan rasa damai. Ketidakpekaan membuat mata hati kita tertutup.

Mengasah Kepekaan

Peka berarti tanggap, paham, kritis terhadap sesuatu atau keadaan. Karena itu kepekaan haruslah dilatih, diasah dan diupayakan. Sebab kepekaan membuat kita kuat, tidak mudah goyah, tidak gampang putus asa, tidak mudah termakan isu yang tidak pasti dan mampu melihat harapan di setiap kesulitan.

Saat kecil saya sudah biasa di didik untuk peka terhadap orang tua. Dari tatapan mata, gerakan tangan dan omongan singkat, kita tahu apakah orang tua kita marah atau tidak. Kini, ketika saya menjadi orang tua, kepekaan itu makin luntur. Anak-anak  sekarang bukanya peka, tetapi malah berani melawan, bukan?

Orang tua harus peka terhadap keadaan anaknya. Satu lagi kasus yang sedang marak, yaitu adanya beberapa remaja yang pergi dari rumah tanpa pamit akibat bertengkar dengan orang tuanya. Ini akibat tidak adanya kepekaan diantara mereka.

Jika kita terbiasa peka dengan keadaan sekitar, maka kita akan mudah peka terhadap apa pun termasuk kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Peka Akan Suara Tuhan

Yesaya 55: 6-7 menegaskan kepada kita, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.”

Saat kita jatuh, terpuruk dan merasa bersalah karena kelakuan kita sendiri, tetaplah datang dan cari Tuhan. Jangan malah makin jauh dari-Nya, apalagi malah mencari kuasa lain diluar Kristus.

Pekalah dan yakinlah akan anugerah pengampunan dari Tuhan. Tuhan menyediakan pengampunan bagi siapa saja yang datang kepada-Nya. Yang perlu kita lakukan adalah memperbarui kehidupan kita. Tinggalkan yang buruk dan kembali ke jalan Tuhan. Pekalah akan ajakan Tuhan. Janganlah kita mudah putus asa dan memvonis keadaan terlebih dulu. Yakinlah bahwa rancangan Tuhan pasti yang terbaik dalam hidup kita.

Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi agar kita belajar dan bertumbuh di dalam hubungan kita dengan Tuhan. Jika kita peka dengan ajakan Tuhan untuk menuju keselamatan, maka jalan pertobatan menjadi pilihan.

Jangan sampai keselamatan yang menjadi kebutuhan utama manusia ini diabaikan dan dipandang remeh. Kepekaan membuat kita tidak mudah menyalahkan orang lain apalagi menghakimi. Berapa banyak hubungan suami istri retak karena ketidakpekaan? Berapa banyak hubungan orang tua-anak hancur karena kurangnya kepekaan dalam berelasi?

Auto koreksi akan terjadi saat kita peka dengan kebenaran hakiki. Kepekaan membuat kita mampu mendengar suara Tuhan saat Ia mengajak untuk kembali.

Mari melatih diri untuk peka sehingga kita mampu merespon saat Tuhan berkata, “mari kamu yang putus asa, yang tersesat, yang merasa tidak layak, yang terhilang dari damai dan sukacita, Aku menyambut kamu dengan tangan terbuka.”

“Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohon di padang akan bertepuk tangan. Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi Tuhan, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.” (Yesaya 55: 12-13).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments