HomeTeologiaMengapa Ada Tahun-Tahun Penderitaan?

Mengapa Ada Tahun-Tahun Penderitaan?

Makna Paskah dalam Perjanjian Lama adalah peristiwa pembebasan dari Allah kepada umat-Nya. Israel yang telah mengalami 400 tahun penghambaan di Mesir, di bawah kepemimpinan Musa, mereka dimerdekakan, dibawa keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian.

Mengapa Harus Ada Paskah dan Tahun Penderitaan?

Dengan cara penebusan, setelah tulah ke sepuluh dan pelumuran darah domba paskah di setiap ambang pintu-pintu rumah, Israel mendapatkan kembali kebebasannya. Bangsa Israel dibawa masuk ke tanah yang dijanjikan kepada leluhur mereka, yaitu Abraham, berabad-abad sebelumnya.

Mengapa Perlu Perjalanan Berputar Terlebih Dahulu? Mengapa Harus Melalui Mesir?

Dengan kemaha-kuasaan-Nya, mengapa Allah tidak mengatur agar Abraham, Ishak, dan Yakub langsung otomatis mendapatkan tanah Kanaan itu? Jika putera-putera Yakub tidak pergi ke Mesir dan menetap di Mesir pada zaman Yusuf, tentu tidak akan ada penderitaan, tidak ada penghambaan, dan tidak perlu penebusan Paskah.

Saya pernah bertanya-tanya mengenai hal ini, Anda pun mungkin pernah menanyakannya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak dapat dihindari. Namun demikian, kita bersama mengetahui, bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan terjadi kepada umat Allah. Bahkan sebelumnya Allah pun telah memberitakan hal ini kepada Abram: “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya” (Kej. 15:13).

Selengkapnya dalam Kejadian 15:13-16, Allah mengatakan kepada Abram tentang perbudakan Mesir yang datang atas orang Israel dan berlangsung selama empat ratus tahun. Setelah meninggalkan tanah penindasan, Israel akan menerima kekayaan sebagai pemulihan bagi perbudakan mereka. Abram tahu bahwa ia tidak akan melihat penderitaan yang akan diderita oleh keturunan-keturunannya ini dalam hidupnya, tapi bahwa ia akan hidup panjang dan menjadi teladan bagi keturunan-keturunannya. Kepemilikan tanah perjanjian itu masih jauh ke depan, dan hanya akan terjadi setelah generasi keempat dari keturunan-keturunan Abraham.

Apa yang dimaksud keturunan keempat ini? Dihitung dari “generasi pertama” bani Israel yang masuk ke Mesir dan menetap di sana. Sehingga keturunan keempat adalah generasi Musa. Bagaimana “keturunan keempat” ini mulai dihitung berdasarkan Kejadian 15:13? Dimulai keturunan pertama dari Israel mendiami Mesir (menjadi orang asing di suatu negeri), dimana keturunan Abram ini kemudian menjadi budak di Mesir: Keturunan pertama: Lewi, (Kel. 6:15; Bil. 3:17; 26:58;1 Taw. 6:1); Keturunan kedua: Kehat (Kel. 6:15; Bil. 3:17; 26:58; 1 Taw. 6:1); Keturunan ketiga: Amran (Kel. 6:17; Bil. 19; 26:58; 1 Taw. 6:2); Keturunan keempat: Musa dan Harun (Kel. 6:19; Bil. 26:59; 1 Taw. 6:3). Dengan demikian, generasi Musa/Harun adalah generasi terakhir yang menjadi budak di Mesir. Pada generasi yang ke empat ini Allah telah menghitung masa akhir penderitaan Israel sebagai orang asing dan hidup di dalam penghambaan.

Ketika Yakub pergi ke Mesir, Tuhan telah berfirman kepada Yakub: “Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana” (Kej. 46:3). Di sini, Allah tidak memberitahukan sama sekali bahwa keturunan mereka akan diperhamba, sama sekali tidak ada isyarat penderitaan bagi keturunan Israel.

Apakah Maksud Tuhan?

Tampak bahwa, perumusan janji-pemberian tanah itu hendak menerangkan bahwa sebelum semuanya terjadi, bangsa Israel harus melalui masa-masa kesengsaraan di Mesir. Waktu penderitaan bagi bangsa Israel itu bukanlah tanda kegagalan Allah, melainkan justru tanda yang jelas atas ketulenan-janji-Nya. Bahwa perbudakan bangsa Israel di Mesir tidak terjadi secara kebetulan. Perhambaan itu bukanlah suatu kecelakaan dalam pelaksanaan rencana keselamatan yang dari Allah, melainkan masa penderitaan itu direncanakan Allah dari semula dan merupakan suatu titik-pokok atau intisari dari janji-pemberian tanah kepada bangsa Israel itu.

Perhatikanlah, bahwa seluruh kesatuan teks Kejadian 15:13-16 itu tidak memuat satupun perlakuan, peristiwa atau kejadian, melainkan berisikan nubuat Allah semata-mata yang disampaikan kepada Abram sebagai orang yang dipilih-Nya menurunkan bangsa bagi rencana Keselamatan bagi umat manusia yang sudah Ia nyatakan sejak Kejadian 3:15 (Protoevangelium).

Harus kita pahami keadaan wilayah sekitar Yakub dan keturunannya ketika masih di tanah Kanaan, mereka berinteraksi dengan orang-orang Kanaan, para penyembah dewa-dewa pagan itu. Tuhan tidak menghendaki ada perkawinan campur yang terus menerus antara keturunan Abraham yang dikhususkan ini dengan penduduk setempat Kanaan para penyembah dewa Pagan itu. Bangsa Israel dikhususkan dan dikuduskan bagi Allah, untuk nanti rencananya akan digenapi dengan kedatangan-Nya sendiri, yaitu Inkarnasi.

Allah hadir di bumi di dalam Yesus Kristus sebagai orang Israel. Hal-hal yang rasa-rasanya tidak mungkin dalam kacamata manusia, bagaimana Allah membiarkan bangsa pilihannya menjadi komunitas tersendiri, bagaimana Allah mengirimkan mereka harus tinggal di Mesir. Berada dalam kawasan khusus, di Gosyen untuk tetap menjadi peyembah Allah yang disembah oleh Abraham.

Dengan pengkhususan mereka yang harus tinggal di Gosyen, dikuduskan bagi Allah, hal ini dapat kita mengerti. Sebab, Allah tidak pernah bertoleransi kepada penyembahan-penyembahan berhala. Dari bangsa yang khusus inilah, Dia sendiri akan hadir ke bumi. Sehingga nanti pada saat yang ditentukan-Nya, Allah mengirimkan seorang pemimpin bagi Israel, yaitu Musa, yang membawa bangsa ini keluar dari Mesir dan hidup di dalam ibadah yang tertata dalam hukum yang ditetapkan Allah pada Israel, yaitu Hukum Taurat di padang gurun. Di tempat ini pula, Israel kembali dikhususkan, dididik di dalam hukum-hukum Tuhan, di sini pula terjadi kelahiran institusi pendidikan Israel yang pertama, suatu tradisi pendidikan dengan ketegasan dan disiplin pada seluruh Israel berdasarkan Torah.

Mungkin di antara kita merasa bahwa perwujudan janji Allah ini tampaknya berbelit-belit. Meski janji tentang negeri Kanaan diucapkan langsung kepada Abraham, namun penggenapan kepemilikan tanah itu bukan diberikan kepada zaman Abraham, tetapi kepada keturunan Abraham. Abraham pada zamannya hanya memiliki secuil tanah kuburan di Makhpela (Kej. 23:17-19), selebihnya dia masih hidup dan tinggal dalam kemah, sebagai orang asing. Dan, tanah perjanjian ini pun tidak diberikan langsung kepada Ishak dan Yakub, namun kepada keturunan-keturunan mereka yang ke sekian.

Kalau kita cermati Alkitab kita dengan seksama, bahwa perwujudan janji kepemilikan tanah itu, baru benar-benar terlegitimasi sekitar seribu tahun kemudian, pada zaman Daud, pada tahun 1070 SM. Pada saat Daud menaklukkan Sion, benteng orang Yebus (2 Sam. 5:6-9; 1 Taw. 11:4-8). Di tempat itulah beberapa lama kemudian, Salomo putera Daud membangun Bait Allah yang megah (2 Taw. 3:1).

Narasi Alkitab dan Relevansinya

Betapa kita semua ini telah melalui tiga kali peringatan Paskah dalam suasana pandemi Covid-19. Hari ini kita menghadapi varian terbaru Omicron yang kabarnya memiliki sekitar 30 varian-varian-nya. Entah varian apalagi akan muncul kemudian.Tapi, apa susahnya bagi Tuhan untuk menghardik covid-19 pergi?

Tidak ada orang yang dapat terbebas dari bahaya Covid-19, berapa lama lagi? Kita tidak tahu. Namun, inilah kunci untuk memahami seluruh rangkaian narasi dalam Alkitab, bahwa Tuhan saja Sang Raja SemestaKETER MELUKHAH. Dialah Sang Penentu dan Yang Berkehendak.

Bangsa Israel harus melalui tahun-tahun penderitaan sebagai disiplin Allah kepada mereka. Mereka tidak hidup seperti dalam khotbah-khotbah pendeta-pendeta milenial (tampaknya hari ini mereka lebih suka dipanggil “pester”) yang berorientasi “Motivasi dan Berkat” yang disukai banya jemaat zaman now. Namun, bangsa Israel telah dididik menjadi kuat di dalam Hukum-Nya.

Inilah perenungan bagi kita. Pandemi Covid-19, dapat memberikan pengertian tentang makna kehidupan, yang dari padanya kita menghargai kehidupan. Bahwa, Alkitab tidak boleh selalu ditempatkan sebagai “Tender Love” (kasih dengan kelembutan) dari Allah pada umat. Dalam pendewasaan iman, Alkitab sebenarnya lebih banyak mengajar tentang “Tough Love” yang menunjukkan kasih sayang dan pemeliharaan Allah dengan ketegasan dan disiplin.

(Rita Wahyu – Israel Bible Center – Lecturer in Biblical Hebrew Study)

Previous article
Next article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments