HomePintu HatiBertahan Di Tengah Kekecewaan

Bertahan Di Tengah Kekecewaan

Pernahkah Anda mengalami apa yang sudah direncanakan dengan baik, tiba-tiba berubah total karena suatu kejadian tak terduga menimpa diri Anda? Atau sudah melakukan sesuatu yang terbaik kepada sesama maupun orang terdekat, tetapi yang Anda terima justru cercaan serta tuduhan miring?

“Saya sudah menjaga perasaan dan sikap saya agar tidak menyakiti hati orang lain, tetapi terkadang justru orang lainlah yang menyakiti hati saya dengan cerita yang dibuat menurut versinya sendiri,” ungkap seorang kawan satu pelayanan.

Perasaan kecewa seringkali melemahkan semangat kita dalam langkah hidup sehari-hari. Kecewa saat cita-cita kita gagal, kecewa saat harapan yang begitu besar kita dambakan begitu saja sirna, kecewa dengan orang yang begitu dekat dengan kita tiba-tiba berbalik 180 derajad saat harus bersaksi tentang diri kita, hingga kecewa dengan pasangan atau pacar kita, dan lain sebagainya.

Ya, kekecewaan dapat menghilangkan sukacita saya dan Anda. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa bertahan sekaligus mengatasi rasa kecewa itu?

Pertama, Jangan Biarkan Kekecewaan Menguasai Kita

Seorang kawan memasang status di WhatsApp demikian, “Sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya orang miskin akan tetap dianggap salah. Sebaliknya, meski kelakuannya tidak baik dan aklaknya buruk, seorang kaya biasanya selalu benar.” Ya, bukankah seringkali kita melihat kenyataan demikian? Mereka yang kaya, punya jabatan dan kekuasaan tetap dipuja dan membusungkan dada meski berbuat salah. Kekayaan serta kekuasaanlah yang menutupi semuanya itu.

Kalimat tersebut tentu menimbulkan kekecewaan bagi sebagian orang, khususnya mereka yang mengalami perlakuan tidak adil karena alasan status sosial, bukan? Keadaan yang membuat kita kecewa dapat mematahkan semangat kita, mengikis kepatuhan terhadap aturan yang ada. Akibatnya kita menjadi orang yang gampang pesimis.

Sesorang yang telah dikecewakan orang lain, maka sikap hidupnya dapat berubah, baik tingkah lakunya, pergaulannya, maupun cara berpikirnya. Orang yang mengalami kekecewaan akan membuat kekecewaan juga pada orang lain. Istri Potifar kecewa karena ditolak Yusuf untuk berselingkuh. Akibatnya istri Potifar yang kecewa itu memfitnah Yusuf. Potifar yang kecewa mendengar laporan palsu istrinya menjebloskannya ke dalam penjara. Kisah ini mungkin ada kemiripan dengan kasus oknum polisi yang sedang viral, di mana kekecewaan itu menimbulkan tindakan brutal.

Sikap kecewa bisa berakibat lebih buruk jika yang mengecewakan adalah orang terdekat kita sendiri, baik orang tua, sahabat, atau pasangan kita sendiri. Kita bisa saja tahan jika lawan kita yang membuat kita kecewa, tetapi akan sulit saat hal itu dilakukan oleh orang yang kita percayai, bukan?

Jika kekecawan itu sudah begitu dalam merasuki kita, maka janganlah kekecewaan itu mengubah prinsip hidup kita sebagai orang percaya. Ingat, bahwa sebagai manusia adalah hal wajar, dan orang yang kecewa biasanya hanya memikirkan dirinya sendiri.

Selain Yusuf, ada juga tokoh Alkitab yang mengalami kekecewaan hebat, seperti Daud dan Samuel. Namun, mereka sanggup menghadapinya karena mereka mempunyai Tuhan yang sanggup diandalkan. Ya, mereka menceritakan kekecewaannya itu langsung kepada Tuhan. “Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:22)

Kedua, Ingatlah Janji Allah

Kekecewaan yang kita terima jangan sampai melemahkan iman percaya. Sebaliknya, menjadi pemicu bahwa Firman Tuhan yang dinyatakan kepada kita nyata adanya. Ketetapan serta Janji Allah yang dinyatakan itu tidak pernah berubah. Dia Sang sumber kebahagiaan akan terus memberkati dan memelihara kita meski kekecewaan dan kekuatiran itu datang.

Menyadari bahwa ada tujuan yang lebih besar dari Janji Allah itu. Apa pun yang terjadi, berlarilah kepada tujuan untuk memperoleh hadiah. “dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:14).

Ketiga, Berpikir Benar

Kebahagiaan atau kejatuhan kita ditentukan oleh pikiran dan tindakan yang kita ambil. Dengan berpikir  benar, maka kita akan mempunyai sikap yang benar pula. Janganlah langsung menyalahkan keadaan, namun berbuatlah yang terbaik. Bukan mengapa tetapi bagaimana, sehingga ketika keadaan yang mengecewakan itu memojokkan kita, bukan keluhan yang keluar, namun kesadaran mencari jalan keluar yang terbaik.

Agar tetap bersukacita saat mangalami kekecewaan, maka Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berpikir secara benar. Berpikir benar berarti berpikir sesuatu yang Tuhan Yesus nyatakan. Jiki kita hanya berpikir pada kekecewaan yang menimpa kita, maka pikiran dan fokus kita akan berhenti di situ. Tindakan kita akan dipengaruhi oleh kekecewaan yang kita alami.

Saat Anda dan saya berpikir benar, maka segala kekecewaan dan kekuatiran yang kita alami justru membuat sebuah kemajuan iman di dalam Kristus. Seperti Paulus, meski di dalam penjara tetap bersaksi, “…bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil.” (Filipi 1:12).

Bagi Anda yang masih kecewa dengan kehidupan saat ini, kecewa dengan pekerjaan, kecewa dengan pasangan hidup maupun orang terdekat, dan kecewa dengan kondisi buruk yang terus menimpa sepanjang perjalanan hidup kita. Mari, serahkan kekecewaan itu hanya ke hadirat-Nya, sebab Dia-lah yang tahu apa yang terbaik buat Anda dan saya.

Daripada membawa terus perasaan kecewa, lebih baik komunikasikan seluruh kekecewaan yang kita alami kepada Kristus

Sadarilah bahwa melalui setiap kekecewaan, Tuhan Yesus sedang membentuk hidup kita semakin indah. Percayalah bahwa Allah bekerja dalam setiap hal untuk mendatangkan sukacita dalam hidup kita.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments