Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kasus penculikan dan pembunuhan anak berusia 11 tahun yang dilakukan oleh remaja usia 17 dan 14 tahun. Parahnya, mereka membunuh lantaran tergiur dengan harga jual organ manusia senilai jutaan dollar dari sebuah pencarian online di sebuah aplikasi.
Sebelumnya juga terjadi kasus penipuan investasi toko online dengan iming-iming keuntungan 10 persen telah menyeret ratusan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi korbanya.
Banyak kasus serupa terkait pinjaman online ini. Korban yang terjerat pun tidak sedikit dan dari pelbagai kalangan, dari kaum muda sampai orang tua, dari tingkat pendidikan rendah hingga yang pendidikanya tinggi sekali pun tak luput dari iming-iming kemudahan pinjol ini.
Kasus penipuan seperti di atas akan terus ada dan dengan motif yang beragam. Namun, intinya tetap sama yaitu mencari keuntungan dengan cara-cara yang tidak benar. Dampaknya pun begitu dahsyat, mereka yang kena tipu tidak hanya stres karena dikejar-kejar penagih hutang, tetapi ada yang bunuh diri menghindari jerat hutang yang bungannya makin tinggi.
Lemahnya Daya Kritis
Perkembangan zaman dan teknologi telah banyak mengubah daya pikir masyarakat. Ya, daya pikir yang tidak maksimal akan memengaruhi daya kritis seseorang. Ketidakpedulian dengan masalah sekitar membuat lemahnya daya Kritis. Gempuran informasi yang begitu gencar membuat seseorang kewalahan dalam memilah dan memilih apalagi mengkritisi lebih dalam segala permasalahan yang terjadi. Padahal semakin banyak informasi, maka harus makin teliti, bukan?
Maka, karakter harus tetap dibangun sejak dini. Sebab segala sesuatu yang kita lakukan dan kerjakan merupakan perwujadan dari karakter diri. Perlu sinergi antara keluarga (orang tua), gereja, sekolah, masyarakat, dan pemerintah untuk menguatkan kembali karakter tersebut.
Dorongan pendidikan karakter ini yang dapat membuat generasi mendatang menjadi generasi kuat yang kritis terhadap segala persoalan, sehingga mampu berpikir keras jika melihat sesuatu yang tidak benar dan tidak masuk akal.
Memperkuat Karakter
Karakter menjadi kunci penting agar kita tidak mudah jatuh dalam pelbagai hal. Mudah menjadi korban penipuan di media sosial, gampang termakan isu tidak bertanggung jawab, hingga terpapar oleh gerakan kelompok tertentu yang menentang hukum dan dasar negara Indonesia.
Sebagai orang percaya, maka karakter yang diterapkan harus sesuai dengan Alkitab. Karakter Kristen berarti menjalani hidup kita di hadapan Allah, takut hanya kepada Allah, dan berusaha hanya menyenangkan Tuhan. Berani melawan arus ketidakbenaran, meskipun banyak orang melakukan.
Membangun karakter berarti memegang prinsip kebenaran Allah. Melakukan apa yang benar dengan alasan yang benar. Allah menciptakan kita dengan karakter yang benar, karena itu adalah identitas kita yang menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak-Nya.
Kristus telah menunjukkan karakter terbaik, yaitu kerendahan hati, pengendalian diri, kesabaran, murah hati, kesederhanaan, pendamai, sukacita dan tahan uji. Kita tidak mungkin melakukan tindakan yang benar jika kita tidak mempunyai karakter yang Kristus tunjukkan.
Penulis Mazmur mengingatkan kita: “Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.” (Mazmur 112:1).


