Bunglon

Bunglon adalah sebutan khusus untuk beraneka jenis kadal yang memiliki kemampuan mengubah warna kulitnya, setidaknya itulah arti bunglon menurut Wikipedia. Seseorang yang menjadi bunglon tentu saja bukan dalam arti yang sebenarnya, tetapi hanya istilah atau peribahasa yang menggambarkan karakter atau watak orang yang tidak konsisten dan tidak teguh dalam pendirian.

Menjadi bunglon tidak bisa disamakan dengan ‘mengikuti arus’. Kita mengikuti arus karena memang adanya perubahan zaman yang mau tidak mau kita mengikutinya, misal tentang aturan, kebiasaan, mode, teknologi dan lain sebagainya, dan jika kita menghindari itu maka akan ketinggalan zaman.

Karakter seperti bunglon biasanya disematkan pada seseorang yang hanya ingin mencari keuntungan dan kepentingan pribadi. Nah, di tahun politik ini biasanya banyak muncul orang-orang dengan sifat ‘bunglon’ nya. Mereka akan mencari partai mana yang bisa membawa keuntungan besar bagi dirinya, siap mengubah warna kulit di tempat yang lebih menguntungkan.

Demi keamanan diri seseorang juga dapat bertindak layaknya bunglon. Ia dapat memamerkan keloyalannya di kelompok yang ia ikuti sekarang. Namun, di kelompok lain ia bisa mengadu domba dan menjelek-jelekkan kelompoknya demi status baik serta keuntungan dirinya. Istilah lain untuk orang seperti itu adalah ‘gampang dibeli’. Biasanya, orang dengan watak ini mudah menjadi sasaran provokasi dan gampang dimanfaatkan pihak lain dengan tujuan tertentu.

Bukankah provokator selalu ada di mana pun dan kapan pun? Mulai dalam kelompok, organisasi, instansi, sekolah, keluarga hingga dalam lembaga pelayanan sekali pun. Provokator selalu mencari orang yang mudah dimanfaatkan dengan pelbagai iming-iming, karena itu watak bunglon menjadi sasaran idealnya.

Karakter bunglon ini susah untuk ditebak integritasnya, dia bisa saja menjadi seperti sahabat sejati, namun di sisi yang lain seperti serigala berbulu domba, karena sifat bunglon biasanya mudah berkompromi asal ada hasil pasti meski tanpa nurani.

Kebijaksanaan tidak lagi menjadi prinsip hidupnya. Bagi kaum bunglon, selama hal itu memberi keuntungan pribadi, maka tidak ada lagi kamus mengklarifikasi. Selama sumber itu dari orang yang membawa keuntungan, ketidakbenaran bisa menjelma menjadi kebenaran.

Berapa banyak orang yang menjalani hidup dengan karakter bunglon tersebut. Di zaman ini, sebagian besar orang telah menganggap hal itu tidak perlu dipersoalkan. Bukankah sebuah kecurangan ketika dilakukan oleh begitu banyak orang akan menjadi sesuatu yang wajar, bukan? Hal menyuap, memanipulasi laporan hingga menyangkal kebenaran demi keuntungan menjadi santapan harian kebanyakan orang.

Prinsip Kebenaran

Selama materi dan kekayaan bisa di dapat, maka tidak ada masalah dengan hidup yang dijalaninya. Sebaliknya, ketika keinginan kita tidak terpenuhi, di situ masalah hidup terjadi. Jika prinsip hidup yang dijalani seperti itu, maka hidup benar yang mengedepankan etika dan integritas tidak lagi menjadi tujuan.

Selain keselamatan, kebenaran mutlak sudah ditawarkan Allah melalui Yesus Kristus. Kebenaran di sini bukanlah kebenaran menurut manusia, tetapi kebenaran dari sudut pandang Allah. Persoalannya, mampukan kita menyangkal cara hidup yang lebih mementingkan karakter bunglon tadi?

Manusia cenderung memusatkan hidup mereka pada hal-hal yang terlihat baik. Selama yang terjadi adalah hal-hal baik seperti keuntungan, kepuasan, kesenangan, maka itu yang menjadi ukuran kebenaran. Namun, ketika terjadi masalah atau musibah dalam hidupnya, seseorang akan dengan cepat mengabaikan kebenaran mutlak Allah tersebut.

Seringkali kita menganggap bahwa hal yang baik menurut Allah merupakan kejahatan, kita juga tidak tahu bahwa sesuatu yang baik menurut kita seringkali justru kejahatan di hadapan Allah. Karena itu untuk melihat benar atau jahat, kita harus menyerahkan sepenuhnya kepada kebenaran mutlak Allah. Berjuang keras memercayai kebaikan Tuhan meskipun realita yang terjadi berlawanan dengan kebenaran menurut kita.

Lawan Bunglon

Dalam Kejadian 2, Allah memberi perintah, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16-17).

Perintah Allah adalah jelas, tetapi manusia mengubahnya dengan kebenaran menurut dirinya sendiri. Manusia mudah dipengaruhi oleh sesuatu atau pihak lain, sehingga sesuatu yang jahat bisa menjadi kebenaran.

Karena itu untuk melawan karakter bunglon tadi kita harus menjadikan Kristus sebagai pusat seluruh kegerakan hidup kita. Itu artinya kita tidak bisa lagi membuat skala prioritas yang menempatkan Tuhan sebagai prioritas pertama kemudian diteruskan dengan priortas-prioritas yang lain. Pertanyaanya, seberapa banyak porsi waktu hidup kita yang bisa diberikan kepada Tuhan?

Yesus menginginkan kita seutuhnya menjadi bagian-Nya.

Kita tidak bisa memberi sebagian-sebagian, ada bagian untuk pelayanan, bagian untuk urusan pekerjaan, bagian untuk keluarga, untuk hobi dan lain sebagainya. Jika ha itu dipisah sesuai bagian, maka watak bunglon bisa saja muncul di bagian kehidupan kita yang lain, bukan?

Kita tidak bisa hidup menurut aturan kita sendiri jika Kristus tinggal di dalam kita. Rasul Paulus mengatakan dalam Galatia 2:20 “aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. (Tb2).

Jika seluruh bagian hidup kita selalu terkonek dengan Kristus, maka tidak ada lagi celah bagi karakter bunglon itu tumbuh.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments