Dalam rangka merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-79, Binawarga GKI Jawa Barat, Sekolah Tinggi Theologi (STT) Sunergeo, Aska Sejahtera dan Majalah Berkat mengadakan Pawai dan Bedah Buku.
Ide gagasan acara ini untuk mengisi Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dengan hal-hal positif. Sesuai tema HUT RI ke-79 tahun 2024, yaitu “Nusantara Baru, Indonesia Maju”, maka dapat dikatakan, bahwa kebaharuan bangsa dan kemajuan suatu negara tidak akan lepas dari tingkat literasi bangsa dalam mengembangkan ilmu dan menghasilkan karya baru melalui buku yang berkualitas.
Buku yang dibedah pada acara 15 Agustus 2024 secara online itu, antara lain “Pijar Renung Pancar Relung” karya Dr. Anil Dawan, M.Th.; “Strategi Pembelajaran Kreatif, Inovatif dan Menyenangkan” karya Dr. Asti Maharini, M.Th., M.PD.K.; “Bergoyang Di Arena Baru: Spiritualitas dan Kecerdasan Buatan” karya Pdt. Em. Robby Candra dan kawan-kawan. Adapun sebagai moderator, Sis Ventura Elisawati dan Bonie Andreas.
Di sesi pertama, Robby Candra memaparkan, bahwa ada dua hal besar yang harus kita pikirkan dan renungkan, yaitu spiritualitas dan kecerdesan buatan. Kalau kita lihat terjadi perubahan besar dalam hidup manusia dari abad ke abad, yaitu teknologi media komunikasi. Perubahan itu menimbukan perubahan perilaku, kebiasaan dan wujud keadilan yang berdampak besar bagi manusia dan agama.
Buku itu membicarakan apa yang mengalami perubahan besar. Dulu manusia dalam berkomunikasi menggunakan media suara yang saat dipakai tidak berbicara mengenai makna, hanya sebatas eksperiensial. Mereka membayangkan juga Tuhan di dengar melalui suara. Pada zaman itu berbicara tentang Tuhan, tentang diri dan tentang hidup. Orang-orang yang pandai itu menghafal dan menurunkan hafalan itu. Hafalan yang bertahun-tahun bahkan ratusan tahun itu terkadang berbentuk syair, puisi dan pantun.
Kemudian dunia lisan berubah dengan adanya tulisan. Dalam dunia lisan, orang belajar ngomong dari kecil dan itu bagian dari hidupnya, tetapi tulisan harus dipelajari. Maka, dengan tulisan ini tidak lagi orang menghafal, karena apa yang dianggap sebagai pengetahuan itu disimpan dalam bentuk karya tulis. Itu bisa dalam lontar, papirus dan lain sebagainya.
Dalam abad tulisan ini muncul pemikiran logika. Ada perubahan kehidupan manusia dalam komunikasi dan relasi. Kalau dunia lisan itu menghafal dan menghayati, dunia tulisan memelihara masa lalu dan logika, sedangkan dunia media massa membuat penyebaran pengetahuan.
Muncul dunia broadcast tv dan radio yang membuat penyebaran pengetahuan dan perasaan. Kemudian dunia internet sebagai pusat yang beragam, lintas ruang dan waktu. Setelah itu dunia digital berupa handphone dan lain-lain. Di sini manusia sebagai master and slave of the world. Ada pula dunia metaverse, manusia menjadi pencipta. Kemudian disusul dunia Artificial Intelligence (AI), sebuah gambaran mengenai yang mahakuasa. Persoalan cerdas menjadi persoalan besar. Benarkah AI lebih cerdas dari kita?
Timbullah persoalan besar mengenai hakikat manusia. Siapa yang mahakuasa, dan ada pemikiran terjadi simbiosis antara manusia dan kecerdasan, sehingga bisa terjadi seorang manusia direkam otaknya sebelum mati, setelah mati rekaman itu disimpan dan dimasukkan ke robot. Apakah itu manusia? Bukan!
Setiap perubahan tadi menghasilkan perubahan yang sangat dahsyat. Dampak Pertama, manusia terbiasa dengan relasi non ragawi dan lintas ruang dan waktu makin dirasakan, sehingga manusia merasa dirinya sebagai pemilik dan penguasa dunia (master atau steward).
Kedua adalah kecerdasan yang memiliki kesadaran atau hikmat. Menjadi khawatir jika semua kecerdasan hasil dari pemprograman komputer. Tidak kita sadari data kita diolah oleh AI dan kita jadi dikuasai. Dampak ketiga, yaitu ibadah tanpa raga, sebuah gambaran mengenai sang pencipta yang non anthropoformik, peran roh kudus secara eksperiensial akan menonjol.
Tekanan pada demokratisasi informasi, eksplorasi mandiri, kolaborasi lintas pusat, ruang ekspresi dan refleksi multi centered sangat dibutuhkan orang. Gereja dan komunitas yang tidak melakukan itu akan ditinggal umatnya.
Mungkinkah bahasa dan logika teologi berubah? Akan ada logika yang bukan ini dan bukan itu. Injil disampaikan dalam bentuk cerita dan eksperensial seperti zaman dulu.
Menurut Robby, ide awal buku ini adalah setelah melihat kenyataan adanya pendeta-pendeta yang khotbahnya bagus tapi umatnya tidur semua. Terlalu panjang sehingga bosan bagi yang mendengar. “Saya pernah khotbah hanya 6 menit kemudian ditayangkan melalui youtube dan banyak sekali yang mendengarkan. Nah, jangan-jangan kita ini masih menggunakan papirus,” terangnya.
Literasi disertai dengan podcast dan youtube agar tidak ditinggal orang.
Sesi kedua, Asti Maharini menjelaskan, bahwa strategi yang ditulis di buku ini adalah strategi yang ada hubungannya denga proses pembelajaran. Dalam pembelajaran ada tiga atribut, yaitu proses, perilaku dan pengalaman. Adapun kisi-kisi buku ini. Pertama, Inovatif, bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru. Kemampuan seseorang dalam memdayagunakan kemampuan dan keahliannya untuk menghasilkan karya yang baru. Kedua, Kreatif, yaitu suatu kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang memberikan kesempatan individu menciptakan ide-ide asli untuk berkembang.
Sedangkan arti strategi yang menyenangkan, artinya menjadikan suasana dalam proses pembelajaran tidak kaku dan tidak membosankan. Ada komunikasi dua arah antara pendidik dan peserta didik. Dalam proses pembelajaran harus mencapai hasil. Belajar lebih dari sekedar mendengarkan, melainkan berfikir dan disertai perubahan sikap dan attitude.
Dipaparkan juga mengenai tercetusnya buku ini, yaitu tentang peranan nara didik dalam mendidik, antara lain sebagai pengelola proses dalam belajar, sebagai influencer, sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat (orang tua), sebagai penegak disiplin, sebagai konselor, motivator, fasilitator yang kreatif dan sebagai evaluator yang penuh keadilan.
Di sesi pawai dan bedah buku terakhir, pembicara ketiga, Anil Dawan mengawalinya dengan penjelasan bahwa buku ini lahir dari keprihatinan sebuah kecenderungan. Sekarang ini di dunia digital orang lebih banyak memberikan komen-komen terhadap suatu peristiwa dan itu tidak salah. Tetapi dalam prose situ manusia kadang kurang merenung, berpikir dan merasakan.
Sedangkan makna dan latar belakang judul buku ini jika diambil per kalimat, antara lain “Pijar Renung” artinya hasil perenungan. Proses literasi dimulai dari membaca dan merenungkannya. “Pancar Relung” artinya pancaran dan relung hati pemikiran serta nalar yang jernih. Kemudian menuangkannya melalui ide, gagasan dan solusi reflektif dan kreatif di tengah realita sosial kemasyarakatan yang menggelisahkan. Sikap apatis tidak peduli serta komentar miring yang mencaci atau menghujat.
Karena itu dibutuhkan literasi yang sifatnya solutif. Bukan hanya merenungkan peristiwa yang terjadi, tetapi juga solutif dan kreatif dengan realitas di masyarakat. Buku ini bisa menjadi salah satu solusi dari minimnya referensi dan bacaan terhadap pemecahan masalah sosial dan masyarakat, serta warisan pada generasi untuk mencari solusi.
Ada banyak masalah yang dituangkan Anil dalam buku ini. Masalah edukasi dan literasi. Minat baca penduduk Indonesia sangat rendah. Jika literasi rendah maka Sumber Daya Manusia (SDM) juga akan rendah. Jika SDM kurang maka ekonominya juga kurang.
Minat baca rendah karena ada kendala secara kultural dan finansial. Kultur masyarakat Indonesia lebih kepada cara verbal (bicara) dari pada membaca atau menulis. Secara finansial, membeli untuk sesuatu yang dapat meningkatkan pengetahuan sangat rendah. Apalagi di daerah tertentu di bawah garis kemiskinan. Sedangkan minat baca perlu dikembangkan, misal pengadaan akses internet yang merata.
Literasi yang rendah membuat kita tidak bisa menemukan budaya-budaya baru.
Bukan hanya literasi membaca tetapi literasi tentang psikologi, literasi teknologi, literasi sosial dan lain-lain. Itu semua mengajak kita tentang pentingnya belajar, mengembangkan diri, membaca, menulis dan juga menangkap hal-hal yang ada dalam bacaan tersebut dengan sesuatu yang kreatif dan solutif.
Dalam acara pawai dan diskusi buku dalam rangka HUT RI ke-79 ini, peserta berhak mendapatkan harga diskon dari buku-buku yang dibedah tersebut. (doc/brkt)


