HomeJelajah KameraPerempuan Berdaya Indonesia Berjaya

Perempuan Berdaya Indonesia Berjaya

Surabaya – Semangat Kartini kembali digaungkan dalam sarasehan bertajuk “Perempuan Berdaya Indonesia Berjaya” yang digelar Forum Beda Tapi Mesra bersama Yayasan Pondok Kasih, Senin (14/4/2026). Bertempat di Boncafe Gubeng, Surabaya, acara ini menjadi ruang refleksi sekaligus peneguhan posisi perempuan dalam gereja, keluarga, dan bangsa.

Pembicara utama, Dr. Rita Wahyu Wulandari, menegaskan bahwa perempuan memiliki kedudukan yang sepadan dengan pria. “Perempuan diciptakan oleh Tuhan memiliki posisi yang setara dengan pria. Ia tidak berada sebagai warga kelas dua atau lebih rendah daripada pria,” tegasnya.

Ia menambahkan, seluruh stakeholders harus melihat perempuan bukan untuk direndahkan atau dijadikan “konco wingking”. Perempuan hadir sebagai penolong yang sepadan, bukan pembantu atau pelengkap pasif, melainkan mitra strategis yang sudah direncanakan Allah untuk menggenapi rencana-Nya di muka bumi. Perempuan memiliki hak untuk berbicara dan mengambil bagian aktif.

Pembicara kedua, Linda Bustan, memaparkan lintasan perjuangan perempuan Indonesia yang selalu bergerak dan berdampak, bukan saja dalam keluarga melainkan juga bagi bangsa dan negara. “Perjuangan ini ditunjukkan dari tokoh lokal yang menghantam bentuk-bentuk kolonialisme, mulai dari Nyi Ageng Serang, Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, sampai di Maluku ada Martha Christina Tiahahu,” paparnya. Perjuangan itu menunjukkan jiwa patriotisme perempuan dalam mengusir penjajah.

Lebih lanjut, Linda menelusuri fase gerakan perempuan: Tahun 1900–1928, perjuangan perempuan bergerak bersama untuk Indonesia melalui pengentasan kebodohan. RA Kartini, Dewi Sartika, dan tokoh lainnya mengisyaratkan bahwa perempuan harus cerdas dan berani tampil elegan serta sejajar demi Indonesia yang lebih baik.

Tahun 1928–1945, menjadi fase monumental pengakuan bahwa perempuan harus dihargai. Ia bukan pelengkap, tetapi sosok dengan posisi yang seutuhnya. Tahun 1945–sekarang, peraturan dan kebijakan untuk menjaga peran serta harkat martabat perempuan terus bergerak melindungi hak-hak mereka.

“Pergerakan wanita tidak akan pernah berhenti. Ia akan terus bergerak seiring percepatan zaman dan kemajuan teknologi yang terus mengubah wajah dunia. Untuk itu perempuan Indonesia harus mampu menemukan jati dirinya dan mumpuni dalam mengantisipasi zaman yang bergelora cepat,” pungkas Linda.

Acara ditutup dengan pembacaan deklarasi bersama oleh perempuan dari berbagai organisasi dan para tokoh lintas agama se-Kota Surabaya. Deklarasi ini menjadi komitmen bersama bahwa perempuan berdaya adalah kunci Indonesia berjaya — bukan di belakang, bukan di bawah, tetapi berjalan sepadan menggenapi panggilan bagi bangsa. (petrus-berkat)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments