SURABAYA – Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau ABK, Sekolah Mawar Sharon menggelar acara Perkenalan dan Sosialisasi Peningkatan Mutu Pelayanan Media dan Teknologi. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 24 Agustus 2026.
Hadir dalam acara ini Mama Hana, Bapak Willy Purwosuwito, Pak Tik, serta para guru Sekolah Mawar Sharon.
Ditemui bersama guru, Koordinator Guru Kelas, Dr. Maria menegaskan bahwa pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus adalah bagian dari pelayanan universal yang Tuhan percayakan kepada kita untuk diberikan pada masyarakat. Ini seiring perintah Bapa Surgawi, Tuhan Yesus Kristus.
“Pelayanan yang kita lakukan kepada anak-anak ini hendaknya dapat dilakukan secara universal. Ini sesuai dengan tujuan pelayanan kita bersama, yakni ‘Biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku’,” ujar Ibu Maria.
Ia juga menekankan bahwa anak-anak ABK memiliki kedudukan yang setara dengan anak-anak pada umumnya. Karena itu, para guru didorong untuk terus menghadirkan inisiasi dan inovasi agar pelayanan dapat bergerak dan berdampak nyata bagi mereka.
Dalam pemaparannya, diperkenalkan dua media pendukung untuk membantu proses belajar anak-anak ABK agar lebih fokus dan berpartisipasi aktif:
Kairos Podomove
Alat ini diletakkan di bawah meja dan dirancang bagi anak-anak yang memiliki energi berlebih pada bagian kaki. Dengan mengayun dan menekan bagian tali pada alat ini, anak dapat menyalurkan aktivitas motoriknya.
“Dengan alat ini anak-anak akan lebih fokus pada gerakan kaki, sehingga mereka dapat berkonsentrasi pada proses belajar mengajar di kelas,” jelas Dr. Maria. Alat ini ringan, praktis, dan dapat digunakan di mana saja.
- Media Tebak Gambar Berbasis Bunyi
Media ini menggunakan sistem audio untuk memandu anak menebak gambar. Alat ini dirancang khusus untuk pembelajaran Alkitab, sehingga anak dapat memprediksi, mengobservasi, dan berpartisipasi dengan semangat.
Tujuannya adalah menyelaraskan aspek kognitif dan kinestetik, agar penyampaian ilmu berlangsung secara efektif dan efisien.
Terkait peran shadow teacher atau guru pendamping di kelas, Dr. Maria mengusulkan adanya perjanjian tertulis antara guru, orang tua, dan pihak sekolah. “Dengan adanya shadow teacher, hendaknya diberikan semacam pernyataan agar ketiga belah pihak dapat bersinergi dengan baik, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan optimal,” tuturnya.
Menutup sosialisasi, Dr. Maria kembali mengingatkan para guru untuk tidak pernah berhenti bergerak.
“Jangan hentikan gerakan mereka. Teruslah bergerak dan berikan yang terbaik bagi anak-anak kita,” pesannya penuh semangat.
Dengan semangat yang sama, Sekolah Mawar Sharon berkomitmen untuk terus menghadirkan terobosan-terobosan baru demi pelayanan yang lebih optimal bagi anak-anak berkebutuhan khusus. (petrus-berkat)


