SURABAYA – Selasa pagi, 1 September 2026, Gereja GKRI REC di Jl. Nginden Intan Timur, Surabaya dipenuhi 140 hamba Tuhan, pendeta, dan aktivis gereja. Bukan untuk ibadah biasa, melainkan untuk satu percakapan penting: Bagaimana para pemimpin dan hamba Tuhan, harus bersikap terhadap Artificial Intelligence (AI) tanpa kehilangan kemanusiaan, integritas, iman, dan panggilan pelayanannya?
Melalui Doa Pagi BAMAG dan Bincang Santai bertajuk “Kepemimpinan di Era AI”, Badan Musyawarah Antar Gereja Surabaya mengajak gereja berdialog jujur antara iman, kepemimpinan, dan teknologi.
Teknologi Melayani, Bukan Menggantikan
Diskusi dipandu Dr. Rita Wahyu Wulandari dan menghadirkan dua narasumber dari perspektif yang saling melengkapi.
Narasumber pertama, Pdt. Dr. (hc) Salmon Pah, S.Th., M.Div., M.Th., M.Pd., seorang hamba Tuhan, teolog, penulis buku Pemimpin di Era AI, dan Peranan AI bagi Pelayanan Hamba Tuhan.
“Gereja tidak dipanggil untuk melarikan diri dari perubahan teknologi, tetapi menjadi terang di tengah perubahan zaman,” ujarnya.
Beliau mengingatkan: pertanyaan gereja bukan lagi “Apa yang bisa AI lakukan?”, melainkan “Untuk apa kita menggunakannya?”. “Gereja tidak dipanggil lari dari teknologi. Gereja dipanggil jadi terang di tengah perubahan zaman,” lanjutnya.
Senada, narasumber kedua Felix Pasila, S.T., M.Sc., Ph.D., Associate Professor dari Universitas Kristen Petra Surabaya, yang juga CEO e Journey, sebuah platform pendidikan berbasis AI yang inovatif.
“Bagi kepemimpinan Kristen, fondasinya adalah Imago Dei. Martabat manusia tidak boleh direduksi jadi data atau output sistem,” ujarnya.
Felix membuktikan sendiri bahwa AI bisa jadi alat misi. Lewat e Journey, hasil riset UK Petra sejak 2021, lebih dari 3.000 guru dan 326 institusi di Indonesia sudah diberdayakan. Platform ini bahkan meraih penghargaan internasional APICTA Awards 2024. “Ini contoh nyata bagaimana AI bisa melayani pendidikan dan penginjilan,” jelasnya.
Forum Tanya Jawab: Ketika Antusiasme Berbicara
Antusiasme peserta memuncak di sesi tanya jawab. Pertanyaan mengalir: Bolehkah AI dipakai menyusun khotbah? Bagaimana menjaga kerahasiaan data jemaat? Apakah AI akan menggantikan peran pastoral yang personal?
Kedua narasumber sepakat mengajak gereja bersikap bijak. “Semakin besar otonomi AI, semakin kuat pengawasan manusia yang diperlukan,” tegas Felix. Manusia tetap yang menetapkan misi, menilai, dan bertanggung jawab.
Menariknya, ketiga tokoh utama dalam forum ini memiliki ikatan erat di PIKI (Persatuan Intelektual Kristen Indonesia). Pdt. Salmon Pah adalah Penasehat PIKI Jatim, sementara Felix dan Dr. Rita adalah Wakil Ketua PIKI Jatim. Kehadiran mereka menjadi cerminan komitmen PIKI menjembatani iman, intelektualitas, dan teknologi.
Acara ditutup dengan satu kalimat yang menggema: “AI is a tool. Christ is the compass.” AI adalah alat. Kristus adalah kompas.
Para peserta diajak menghindari dua kutub ekstrem: menolak AI secara apriori, atau mengadopsinya tanpa filter iman. Di tengah mesin yang semakin cerdas, gereja justru dipanggil menunjukkan hal paling manusiawi dan ilahi: kasih, hikmat, dan tanggung jawab di hadapan Tuhan.
Ir. Boedi Sentosa selaku Ketua Umum BAMAG Surabaya juga mengumumkan kabar baik: bulan depan akan ada sesi lanjutan dengan tema “MAGNIFICA HUMANITAS: AI Melayani Manusia, Kristus adalah HIKMAT” sebagai kelanjutan dari diskusi hari ini.
Di era AI, gereja tidak kehilangan arah. Karena selama Kristus tetap menjadi kompas, maka setiap alat, termasuk AI, akan dipakai untuk kemuliaan-Nya. Tuhan memberkati pelayanan BAMAG Surabaya. (tim redaksi – berkat)


