HomeJelajah KameraRefleksi 80 Tahun Berakhirnya Perang Dunia II Di Taman Kehormatan Kembang Kuning

Refleksi 80 Tahun Berakhirnya Perang Dunia II Di Taman Kehormatan Kembang Kuning

Surabaya, 15 Agustus 2026 — Hari itu tepat 80 tahun sejak Kaisar Hirohito mengumumkan Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Dua hari sebelumnya, bom atom menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945.

Bagi Indonesia, ini adalah tanda awal kemerdekaan. Namun di balik kemenangan itu, ada luka. Ada keluarga yang kehilangan, ada sahabat yang tak pernah pulang, ada masa kelam yang tak boleh dilupakan.

Prosesi dimulai dengan perenungan. Sekitar pukul 10.00 WIB, suasana hening. Selama 2 menit, semua yang hadir menundukkan kepala. Tidak ada pidato. Tidak ada musik. Hanya doa dan ingatan.

Setelah itu, dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga. Satu per satu tokoh masyarakat, perwakilan pemerintah, dan komunitas maju ke monumen. Bunga-bunga diletakkan sebagai tanda hormat bagi para korban perang.

Yang hadir bukan hanya orang Belanda. Ada warga Indonesia, komunitas Indo, kaum muda, kaum terpelajar, hingga lansia. Tua dan muda duduk berdampingan. Ini bukan peringatan satu bangsa, tapi peringatan kemanusiaan.

Yan Ferdinandus, Koordinator Indo Club Surabaya, menyampaikan pesan yang menusuk.  “Momentum ini mengingatkan kita bahwa kekejaman perang tidak pernah menyelesaikan masalah,” ujarnya.

“Untuk menyelesaikan perbedaan, jalan satu-satunya adalah dialog dan diskusi. Duduk bersama sampai tercapai kata sepakat.”

Perkataan itu disambut anggukan dari para hadirin. Di tempat yang dulunya penuh duka, kini lahir seruan damai.

Pelajaran untuk Masa Kini dan Masa Depan

Pihak Pemerintah Belanda diwakili Adriaan Palm, Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia. Baginya, peringatan ini adalah “tonggak sejarah” yang harus dipelajari semua generasi.

“Peristiwa masa lalu, kini, dan akan datang harus kita lihat sebagai pembelajaran,” kata Adriaan Palm. “Kita harus bergerak menyelesaikan masalah bukan dengan perang, tetapi dengan menjembatani melalui dialog yang membangun solusi dan berdampak baik bagi masa kini dan masa depan.”

Taman Kehormatan Kembang Kuning bukan sekadar makam. Ia adalah cermin. Cermin yang mengingatkan bahwa ambisi, kebencian, dan kekerasan hanya melahirkan kehilangan.

Namun dari tempat itu juga lahir harapan. Harapan bahwa Surabaya, Indonesia, dan dunia bisa belajar: mengingat masa lalu agar tidak mengulanginya.

Karena sejarah paling berharga bukan yang kita menangkan dengan senjata, tapi yang kita menangkan dengan saling mengerti. (petrus/doc-berkat)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments