HomeJelajah KameraDiskusi Kebangsaan: Soroti Ketahanan Nasional di Tengah Tantangan Zaman

Diskusi Kebangsaan: Soroti Ketahanan Nasional di Tengah Tantangan Zaman

Surabaya — Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi, nilai-nilai dasar bangsa kembali diuji. Untuk itu, Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Surabaya menggelar Diskusi Kebangsaan “Indonesian Updates: Pancasila dalam Situasi Kebangsaan dan Ketahanan Nasional Terkini”, Kamis, 21 Agustus 2026 di Rivero and Co, Surabaya.

Suasana diskusi berlangsung hangat meski diadakan malam hari. Puluhan peserta dari pelbagai komunitas, lembaga, ormas, dan gereja tampak antusias sejak awal.

Diskusi ini menghadirkan narasumber Firman Jaya Daely, Ketua Dewan Pembina Puspolkam Indonesia, dan didukung oleh Gerakan Pembumian Pancasila, Majalah Berkat, Roemah Bhinneka, JIAD, serta Pemuda Katolik Surabaya.

Dalam pemaparannya, Firman Jaya Daely menegaskan bahwa demokrasi di Indonesia bukanlah demokrasi liberal yang bebas tanpa arah.

“Demokrasi kita diikat oleh nilai-nilai Pancasila: Keadilan, Kerakyatan, Solidaritas, dan Persatuan. Persatuan yang menghargai keberagaman,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa Republik ini berdiri di atas cita-cita besar: menjadi negara hukum yang membebaskan dan melindungi rakyat, bukan negara yang membatasi dan mengendalikan kekuasaan.

Sorotan khusus diberikan kepada Jawa Timur. Menurutnya, Jatim memiliki peran strategis secara sosiologi bagi Indonesia.

“Kita terpanggil, khususnya Jawa Timur. Jatim adalah daerah yang sangat berpengaruh bagi Indonesia. Di sinilah nilai-nilai Pancasila harus dipraktikkan secara nyata: Adil dan Beradab. Ada peradaban dalam bernegara, dalam beriman,” tegasnya.

Ia menekankan, memurnikan dan mengaktualisasikan Pancasila bukan pekerjaan pemerintah saja. Ketahanan masyarakat tergantung pada kita bersama. Saat Pancasila dihidupi, maka masyarakat akan semakin kuat menghadapi tantangan.

Firman juga menyoroti peran para pemimpin. “Semua yang menjadi pimpinan harus bisa memperkuat masyarakat. Mengajari berdemokrasi tetapi tetap sopan. Kepentingan boleh disampaikan oleh semua golongan, tapi dalam bingkai persatuan,” katanya.

Menutup pemaparan, ia mengajak peserta untuk tidak terjebak pada pesimisme. “Kita boleh optimis, boleh pesimis, tapi yang terpenting: kita harus berpengharapan. Pancasila masih sangat relevan. Tugas kita adalah memurnikannya dan menjadikannya napas dalam kehidupan sehari-hari.”

Sesi tanya jawab menjadi puncak kehangatan acara. Perbincangan mengarah pada politik kebangsaan yang menyangkut tentang politik yang mengedepankan solidaritas, dan bagaimana Pancasila menjadi solusi penyelesaian masalah bangsa

Diskusi yang berlangsung interaktif ini menjadi ruang bagi para tokoh lintas komunitas untuk bertumbuh bersama, mengasah wawasan, dan meneguhkan komitmen menjaga Indonesia. (doc-berkat)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments