HomeJelajah KameraPIKI Think Tank Forum Bedah Indonesia Update: Dari Selat Malaka Hingga Krisis...

PIKI Think Tank Forum Bedah Indonesia Update: Dari Selat Malaka Hingga Krisis Demokrasi

Surabaya – Di tengah eskalasi konflik global, krisis rantai pasok, dan erosi demokrasi, Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Kota Surabaya menggelar forum strategis bertajuk “Indonesia Update: Konteks Terkini – Peluang dan Tantangan”.

Acara berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026 di Boncafe Gubeng, Surabaya. Forum ini terselenggara atas kolaborasi PIKI Surabaya, Yayasan Pondok Kasih, dan API Surabaya, dengan Majalah Berkat sebagai media partner.

Forum dimoderatori oleh Dr. Himawan Estu Bagijo, S.H., M.H. dengan host Ronny H Mustamu, Ketua DPC PIKI Surabaya.

Pendukung acara bersama para pembicara dan undangan

Acara dibuka dengan doa oleh Willy Purwosuwito, M.A., M.Th., Dewan Penasihat PIKI Jatim. Dalam sambutannya, Ketua DPC PIKI Surabaya, Ronny H Mustamu menegaskan kembali jati diri PIKI.

“PIKI punya prinsip mendorong untuk masuk ke gereja secara proaktif. Tugas PIKI adalah membawa dampak bagi gereja dan bangsa. PIKI ini lintas denominasi,” tegas Ronny.

Ia mengingatkan data yang perlu menjadi perhatian serius: populasi orang Kristen di Jatim konsisten menurun. Ia meneladani sosok Dr. Johannes Leimena yang konsisten memperjuangkan Kekristenan melalui dewan-dewan gereja. “Kehadiran Kekristenan harus berdampak bukan hanya bagi anak-anak Tuhan, tapi bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Nada yang sama disampaikan Ketua API Surabaya, Pdt. Yason SL Sudarmanto, M.Th. “Tujuan kita bagaimana tubuh Kristus ini bisa bersatu. Pada kenyataannya mempersatukan gereja dan pendeta itu lebih susah. Forum ini supaya kita bersatu melalui pemikiran yang sama, tujuan yang sama untuk memenangkan jiwa,” katanya.

Sementara itu, Indahwati dari Yayasan Pondok Kasih memaparkan peran lembaganya yang melayani kaum prasejahtera melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan komunitas dan lintas agama. “Ini kesempatan mengenalkan sisi Kristiani melalui kemitraan dengan pemerintah dan lintas agama,” ujarnya.

Empat pembicara yang dipandu moderator

Empat Pembicara, Empat Perspektif Indonesia Update

  1. Laksda (Purn.) Dr. Agung Pramono, S.H., M.Hum. – Selat Malaka dan Geo 5.0

Mantan Panglima Armada Timur TNI AL ini memetakan evolusi geopolitik: Geo 1 (PD I), Geo 2 (PD II), Geo 3 (Perang Dingin), Geo 4 (Perang Sumber Daya), dan kini Geo 5 (Perang Konektivitas dengan cyber power dan teknologi).

“Fungsi dan peran laut berubah total. Dari sekadar jalur dagang menjadi medan perebutan hegemoni dan geo-ekonomi,” jelasnya.

Implikasinya bagi Indonesia sangat serius: keamanan dan pertahanan, akses maritim, perebutan hegemoni, hingga grey zone operation di perbatasan. Ia menyoroti kebijakan Indo-Pasifik, ASEAN, dan Selat Malaka perlu pengkajian ulang. Pekerjaan rumah terbesar: UU Keamanan Laut yang masih rebutan kewenangan antar instansi.

  1. Prof. Raja Oloan Saut Gurning, S.T., M.Sc., Ph.D., CMarTech – Selat Hormuz dan Lumbung Pangan Gereja. Guru Besar ITS ini menarik garis lurus dari Selat Hormuz ke dapur warga Indonesia Timur.

“Harga-harga naik karena supply tidak ada. Sulit memasukkan rencana kita. Eskalasi di Selat Hormuz langsung mengancam krisis energi dan pangan dunia,” paparnya.

Ia mendorong penguatan kerangka ketahanan maritim terpadu. Kunci bagi Jatim dan Indonesia Timur: bangun hubungan baik dengan negara tetangga ASEAN, amankan jalur dekat dulu. Surabaya sebagai kota maritim dengan pelayaran, pelabuhan, dan galangan kapal harus menjadi hub.

Menjadi menarik, ia mendorong peran gereja: “Gereja harus mendorong persediaan bahan makanan. Energi harus mulai diversifikasi. Pemerintah harus jujur kepada masyarakat, misal jika subsidi harus dikurangi.”

  1. Dr. Kris Nugroho, M.A. – Erosi Demokrasi dan Ideologi yang Kabur.

Pengamat politik ini tampil paling tajam. Ia membedah geopolitik Indonesia dari perspektif liberal politics vs democracy.

“Dengan kekuatan virus demokrasi, kita akan mengalami proses perubahan yang lebih baik. Tapi dari positif tiba-tiba ada kekacauan: kelangkaan pasok, wakil rakyat tidak berbicara lebih baik, lebih banyak diam, kurang kritik. Ini kemunduran demokrasi,” tegasnya.

Ia melontarkan pertanyaan reflektif: Indonesia tidak kapitalis, tidak sosialis. Ideologinya tidak jelas. Kita menjadi arena tempur politik berbagai negara. “Ideologi Pancasilanya di mana? Tingkat korupsi makin tinggi, partai justru menjadi pelaku korupsi.”

Menurutnya terjadi erosi demokrasi: DPR tumpul karena efek koalisi gemuk yang takut mengkritik pemerintah. Akibatnya kompetisi melemah, prospek bisnis turun, dan investor ragu. Indonesia perlu re-positioning terhadap rivalitas global, rantai pasok, dan politik bebas aktif.

  1. Prof. Dr. Soni Harsono, S.E., M.Si. – Ekonomi 2026 Tetap Resilien di Atas 5 persen.

Menutup forum, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya ini memberikan angin segar.

“Fondasi makro relatif stabil, namun kualitas pertumbuhan dan kepercayaan pasar masih menjadi isu,” katanya.

Ia mengaitkan politik dan ekonomi: program populis dan fiskal, ambisi pertumbuhan tinggi, dan stabilitas politik sebagai aset. Respon domestik dan internasional cukup positif. World Bank bahkan merevisi naik proyeksi 2026 ke 5,2 persen.

“Diplomasi aktif, komitmen investasi jangka panjang, dan politik luar negeri bebas aktif membuat Indonesia tetap dipandang sebagai ekonomi G20,” jelasnya.

Kesimpulannya, ekonomi 2026 tetap resilien dengan pertumbuhan di atas 5 persen. Implikasinya: pemerintah harus jaga kredibilitas fiskal, manfaatkan peluang hilirisasi, dan monitoring ketat disiplin fiskal dan kualitas institusional.

Suasana Seminar

Forum Think Tank PIKI Surabaya ini menjadi penanda bahwa kaum intelegensia Kristen tidak boleh alergi terhadap isu kebangsaan. Dari Selat Malaka hingga Selat Hormuz, dari pelabuhan Tanjung Perak hingga lumbung pangan gereja di Indonesia Timur, semua adalah ladang panggilan untuk menjadi berkat. (doc-berkat)

Dari kiri: Ronny Mustamu, Willy Purwosuwito, Laksda (Purn.) Agung Pramono, Iman Wimbadi
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments