“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya menjadi ibu rumah tangga yang cuma ngurusi anak dan urusan dapur,” celetuk seorang ibu kepada anak perempuannya yang sudah menikah dan mempunyai anak.
Ijazah yang disandang seolah memang tak berguna ketika seorang perempuan yang telah berkeluarga memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Apalagi lulusannya dari universitas ternama dan dengan prestasi kelulusan yang tergolong baik.
Ada juga perempuan yang rela meninggalkan pekerjaan sebelumnya setelah menikah dan mempunyai anak. Tentu saja dengan alasan karena ingin fokus membesarkan serta mendidik anaknya. Ya, bagi beberapa perempuan yang berpikiran demikian, hal itu dapat menimbulkan beberapa pertanyaan, baik dari orang tuanya sendiri, saudara kandung, orang-orang terdekat maupun sahabat.
3 hal berikut akan menguatkan perempuan yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga meski menyandang pendidikan tinggi.
Pertama, tidak ada pendidikan yang sia-sia di profesi apa pun
“Dulu, sewaktu kuliah dia itu tergolong anak yang pintar, lulusnya pun dengan nilai istimewa. Lha kok sekarang hanya di rumah dan mengurusi anak saja,” cerita seorang kawan tentang sahabatnya semasa kuliah dulu. Pendapat di atas sering terlontar tatkala seorang perempuan yang sudah susah payah menempuh pendidikan tinggi, namun berakhir hanya sebagai ibu rumah tangga.
Bagi sebagian perempuan yang menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga, pendidikan tinggi yang diperolehnya malah justru membantunya saat harus mendidik anak-anaknya. Apalagi di masa pandemi seperti ini, di mana orang tua harus mampu mendampingi anaknya sekolah secara daring. Kemampuan pendidikan orang tua sangat berguna saat harus membantu anaknya belajar. Jadi tidak ada kata ‘sia-sia’ untuk sebuah pendidikan.
Kedua, mengurus rumah tangga dan mendidik anak butuh pendidikan tinggi
Pernyataan bahwa mengurus rumah tangga tidak perlu berpendidikan tinggi adalah hal keliru. Justru pendidikan tinggi menjadi dasar kuat dalam membentuk rumah tangga, terlebih dalam mendidik dan mempersiapkan anak di masa depannya. Mengurus rumah tangga dan bersosialisasi juga butuh dasar pendidikan yang baik
Bagaimana dapat mencetak generasi yang baik jika orang tua tidak bisa mendidik anaknya secara baik? Ada orang tua yang tidak tahu cara mendidik anaknya karena memang dia tidak tahu pendidikan seperti apa yang seharusnya diberikan. Keterbatasan pendidikan orang tua akan berpengaruh bagi perkembangan dan kemajuan anak.
Ketiga, perempuan kuat adalah perempuan yang memiliki kecerdasan dan kepintaran
Perempuan cerdas adalah mereka yang mempersiapkan kemampuan diri sebelum bertindak dan memutuskan sesuatu. Berumah tangga merupakan keputusan besar dalam hidup saat ini dan di masa depan. Karena itu, persiapan mental harus diutamakan.
Kekuatan perempuan bukan pada fisik semata, tetapi terletak pada keberanian dan kemauannya untuk meng-upgrade diri. Seperti sosok Kartini yang hari ini kita peringati. Perjuangannya terhadap arti emansipasi dan pendidikan memotivasi para perempuan untuk bangkit dari penindasan, keterbelakangan dan kebodohan.
Perempuan akan menjadi kuat ketika memiliki kecerdasan dan kepintaran. Pendidikan bukan hanya untuk profesi tertentu, tetapi untuk profesi apa pun pendidikan berperan sangat penting. Emansipasi berarti membuktikan diri bahwa perempuan punya kemampuan dan kesempatan membuat perubahan ke arah yang lebih baik.


