HomePercikan FirmanKasih Dalam Tindakan

Kasih Dalam Tindakan

IDENTITAS kekristenan sejatinya ialah cinta kasih. Sayangnya, seringkali kasih menjadi sekadar slogan dan kata-kata indah yang tak jarang kehilangan maknanya. Kasih hanya berhenti pada kata, puisi, lagu, atau wacana dan keyakinan saja, tanpa terlihat wujudnya.

Seorang psikiater asal Amerika, Karl Menninger, mengatakan “Sebenarnya cinta adalah obat bagi semua penyakit dan penderitaan di dunia. Namun pada kenyataannya, cinta menjadi suatu resep yang sering diberikan tapi jarang digunakan.” Kasih dibicarakan dan dikumandangkan di mimbar-mimbar ibadah dengan segala konsepnya; gereja berteori tentang bagaimana mengasihi orang lain, namun, semua hanya sebatas teori.

Kasih sering sekali diucapkan, namun tindakan tidak semanis ucapan. Kenyataan ini yang menjadi dasar bagi kritik dan pengajaran Yohanes dalam suratnya yang pertama. Bagi Yohanes, sangat tidak masuk akal jika seseorang membicarakan cinta kasih dalam kesehariannya, bahkan menjadi slogan jemaat, namun mereka membiarkan saudara mereka menderita dan kekurangan.

Menurut Yohanes, jika orang melihat saudaranya menderita dan membiarkannya, maka kasih yang dibicarakannya selama ini hanya omong kosong, karena kasih Allah tidak ada padanya. “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaiamanakah kasih Allah dapat tetap dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17).

Kasih bukanlah kata benda atau kata sifat melainkan kata kerja. Karena itu, sudah seharunya kasih itu dikerjakan, bukan hanya diucapkan. “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:18).

Inkarnasi: Tindakan Kasih Allah

Penginjil Yohanes menuliskan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,…” (Yohanes 3:16). Karena Allah telah mengasihi dunia ini sehingga menyerahkan diri-Nya, maka kita pun meneladani kasih itu dengan menyerahkan nyawa bagi sesama kita. Teks Yohanes 3:16 yang sangat terkenal ini menunjukkan betapa Allah mengasihi dunia sehingga Ia memberi diri-Nya bagi dunia. Jika dibaca sepintas, teks itu dapat dimaknai bahwa Sang Bapa mengutus Anak-Nya untuk berkorban bagi dunia, atau Sang Bapa mengorbankan Anak-Nya untuk dunia.

Dalam kerangka trinitarian, Sang Bapa dan Sang Anak adalah pribadi-pribadi dalam satu hakikat Allah yang tidak terpisahkan. Kristus adalah Allah sendiri yang memberi diri-Nya; Allah yang berinkarnasi untuk menyatakan cinta-Nya kepada dunia. Allah adalah kasih dan kasih Allah adalah tindakan aktif, bukan sekadar konsep abstrak.

Allah yang tak terbatas dan tak terjangkau oleh ciptaan itu menjadikan diri-Nya terbatas untuk menjangkau dan merangkul seluruh ciptaan dalam persekutuan cinta kasih-Nya yang kekal. Allah yang kekal menjadi manusia yang fana untuk merangkul kefanaan ciptaan-Nya dalam persekutuan dengan-Nya.

Kasih merupakan hakikat terdalam dari Allah Trinitas, sehingga seluruh karya Allah ke dalam dunia merupakan tindakan cinta kasih. Inkarnasi Allah yang kita rayakan dalam kelahiran-Nya (Natal) merupakan tindakan cinta kasih Allah yang sejak semula dirancangkan sejalan dengan penciptaan semesta.

Seorang teolog Fransiskan, Joseph Schwab, mengatakan, “inkarnasi adalah karya terbesar yang Allah lakukan dalam kerangka penciptaan. Allah berinkarnasi untuk menegaskan bahwa kita dipanggil untuk menjadi para kekasih Allah Trinitas.” Karena itu, menurut Schwab, Natal lebih penting daripada Paska, karena kebangkitan sangat bergantung dari kelahiran dan bukan sebaliknya. Ini berarti dalam rancangan cinta kasih Allah, penciptaan, kelahiran dan kebangkitan adalah sebuah paket karya keselamatan Allah sejak semula. Inkarnasi bukanlah upaya Allah yang kemudian untuk menanggapi kejatuhan ciptaan-Nya dalam dosa, melainkan sebuah rancangan besar Allah sejak semula.

Allah menyatakan cinta-Nya dengan inkarnasi, yakni Allah menjadi daging. Inkarnasi berasal dari bahasa Latin, in carne, yang berarti “menjadi daging.” Penginjil Yohanes menuliskan, “Firman itu telah menjadi manusia…” (Yohanes 1:14). Dalam teks bahasa aslinya tertulis “kai ho logos sarx egeneto” yang lebih tepat diterjemahkan “dan Firman itu telah menjadi daging.” Yohanes mengatakan bahwa Allah menjadi daging (sarks), bukan menjadi manusia (anthropos).

Seorang teolog Denmark bernama Niels Gregersen menegaskan jika inkarnasi adalah Allah menjadi daging, maka inkarnasi tidak hanya soal Yesus yang menjadi seorang manusia laki-laki atau hanya soal kemanusiaan yang terpisah dari alam semesta. Melalui inkarnasi di dalam Yesus Kristus, Allah menjadi materi (daging) yang merupakan bagian dari jalinan keterhubungan dari seluruh alam semesta.

Gregersen menegaskan bahwa Yesus menjadi manusia dan dalam kemanusiaan-Nya ia pun menjadi materi. Tubuh manusia-Nya, seperti manusia-manusia lain, tersusun dari partikel-partikel materi yang juga terjalin menyusun alam semesta; Ada partikel logam (besi) yang mengalir dalam darah-Nya; seluruh organ-Nya ditopang oleh mikroorganisme yang hidup dan membentuk jaringan tubuh-Nya. Pandangan ini oleh Gregersen disebut inkarnasi  yang dalam (deep incarnation) atau inkarnasi yang radikal, yakni sebuah inkarnasi ke dalam seluruh tenunan keberadaan biologis dan sistem alam.

Sejalan dengan Gregersen, Elizabeth Johnson, teolog feminis Katolik, menyatakan bahwa sebagai manusia, Yesus adalah makhluk hidup dan semua kehidupan berasal dari satu sel hidup yang berkembang. Satu sel hidup itu muncul dari partikel-partikel bumi yang tersusun dari debu-debu kosmis yang juga menyusun semua benda-benda angkasa, bintang, planet, bahkan tata surya dan galaksi yang berkembang sejak miliaran tahun lalu. Dengan demikian, kemanusiaan Yesus tidak terpisah dari seluruh susunan alam semesta ini. Tubuh manusia Yesus adalah unit yang kompleks dari mineral, cairan, karbon, oksigen, serta komponen-komponen biologis yang lain.

Sebagai manusia, Yesus pun terhubung dengan semua makhluk hidup lainnya, tumbuhan dan hewan bahkan mikroorganisme. Sebagai materi, Yesus terhubung dengan semua materi yang menyusun alam semestaini, air, debu, api, tanah, udara, dan lain-lain. Dengan pemahaman ini, inkarnasi Allah tidak lagi kita pahami sebagai Allah yang menjadi manusia saja, melainkan Allah yang menjadi bagian dari seluruh alam semesta ini.

Maka tepatlah apa yang dikatkan Yohanes dalam Injilnya tadi “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,…” Allah mengasihi dunia, maka ia menjadi bagian dari dunia. Dunia di sini diterjemahkan dari kata kosmos yang secara harfiah berarti alam semesta. Karena cinta kasih Allah akan alam semesta, Ia menjadi bagian dari alam semesta yang fana ini di dalam Yesus Kristus, untuk merangkul seluruh ciptaan Allah ini menjadi kekasihAllah Trinitas. Dalam Kristus, seluruh alam semesta ini saling terhubung dalam tenunan keberadaan biologis dan sistem alam semesta.

Mengasihi Saudara Semesta

Inkarnasi Allah adalah tindakan cinta kasih-Nya bagi seluruh alam semesta, tidak hanya manusia. Jika Allah sedemikan mengasihi ciptaan-Nya, maka kita sebagai bagian dari ciptaan pun dipanggil untuk mengasihi alam semesta ini dalam perbuatan, dalam tindakan yang memberi diri menjadi alat Allah untuk merangkul seluruh ciptaan dalam persekutuan cinta kasih-Nya. Kasih Allah akan dunia ini (Yohanes 3:16), perlu kita nyatakan juga dengan kasih yang memberi diri bagi saudara-saudara kita (1 Yohanes 3:16). Lalu, apakah ini hanya berlaku pada saudara sedarah atau saudara seiman? Jika mengacu pada kasih Allah yang dinyatakan dalam inkarnasi, maka saudara kita adalah alam semesta ini.

Sejak penciptaan, Allah memandang segala yang dijadikannya; matahari, bulan, benda-benda langit, tumbuhan, hewan, laut dan daratan dengan penuh cinta. Ia melihat semua ciptaan itu baik dan indah. Yesus pun, dalam pelayanan-Nya sebagai manusia di dunia, menunjukkan orientasi kepada semesta.

Perumpamaan-permupamaan-Nya bercerita tentang biji sesawi, hujan, domba dan burung. Ia pun mengajarkan bahwa Allah peduli pada bunga bakung yang tumbuh liar, bahkan burung-burung di angkasa (Matius 6:26-29). Tindakan kasih kita tidak hanya kita tujukan kepada saudara manusia, apalagi manusia yang seiman atau sedarah, melainkan juga bunga di padang, burung di udara, matahari dan bulan, hujan dan mata air, ikan-ikan dan tumbuh-tumbuhan, bahkan segala ciptaan Allah.

Fransiskus dari Asisi, biarawan abad pertengahan dan pendiri Ordo Fratrum Minorum, menggubah “Nyanyian Saudara Matahari” yang menyapa alam semesta sebagai saudara-saudari, Saudara Matahari, Saudari Bulan dan Bintang-bintang, Saudara Angin, Saudari Air, Saudari Pertiwi. Alam semesta ini adalah saudara-saudari kita. Marilah kita mengasihi saudara lama semesta ini dengan perbuatan, sebagaiamana Allah mencintai semesta ini dengan tindakan inkarnasi-Nya.

(Pdt. Theodorus Willem Noya, Pendeta GKI Rungkut Asri Surabaya)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments