DALAM kehidupan ini, kita sering dihadapkan pada keputusan-keputusan yang harus kita ambil. Keputusan-keputusan kita ini akan menentukan kemana kita akan pergi, apa yang akan kita capai dan bagaimana nasib kita kelak.
Keputusan yang benar akan membawa damai dan kesuksesan bagi masa depan kita. Sebaliknya, keputusan yang salah akan membawa kepada kehancuran dan penderitaan yang mungkin saja tidak hanya kita sendiri yang harus menanggungnya. Karena itu sangatlah penting untuk belajar mengambil keputusan yang benar.
Masalahnya, hal itu tidaklah mudah. Kita cenderung terjebak dengan pendapat kebanyakan orang yang belum tentu benar. Sebagai manusia, tanpa kita sadari, kita cenderung mempercayai pendapat umum.
Seperti dicatat dalam Alkitab, Yosua dan Kaleb harus mempertahankan pendapatnya bahwa tanah Kanaan itu baik dan mereka pasti mampu mengalahkan bangsa-bangsa yang tinggal di sana. Sementara sepuluh pengintai lainnya bertahan, bahwa meskipun tanah kanaan berlimpah susu dan madunya, namun bangsa-bangsa yang menghuni tanah itu seperti raksasa sementara mereka seperti belalang.
Mengapa mereka melihat yang sama tetapi merespon dengan cara berbeda? Itu karena apa yang tersimpan di kepala serta hati mereka berbeda. Yosua dan Kaleb sungguh-sungguh mengenal dan mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati. Dalam kepala serta hati mereka dipenuhi kebenaran Firman Tuhan, sehingga iman yang teguh melandasi kehidupan mereka.
Sedangkan kesepuluh pengintai lainnya hanya beribadah kepada Tuhan sebagai rutinitas tanpa menggali dan berusaha mengenal Tuhan lebih dekat. Akibatnya ketika pencobaan datang, mereka pun goyah.
Mereka mengandalkan kekuatan mereka sendiri dan lupa betapa Allah telah menuntun mereka hingga ke tempat sekarang mereka berada dengan pelbagai mujizat yang supranatural. Fondasi iman mereka tidak kuat. Mereka ibarat bangunan yang berdiri di atas tanah berpasir.
Selain itu, dengan siapa kita bergaul akan menentukan kesuksesan dan kebahagiaan kita. Orang bijak berujar bahwa kita adalah gabungan dari buku-buku yang kita baca dan orang-orang dengan siapa kita bergaul. Di zaman ini perlu ditambahkan, ditentukan pula oleh sumber-sumber informasi yang masuk dalam pikiran kita; seperti film atau sinetron yang kita lihat, berita-berita yang kita baca, dan sebagainya. Semuanya menentukan apakah kita akan menang atau kalah dalam pertempuran hidup ini.
Hidup adalah pilihan dan nasib kita ditentukan oleh pilihan kita sendiri! Semakin kita mengisi pikiran dan hati kita dengan kebenaran Firman Tuhan serta hal-hal positif, maka semakin mudah kita mengambil keputusan-keputusan yang benar. Kita akan semakin peka dan terinspirasi oleh pengalaman orang-orang yang hidup dekat dengan Tuhan dalam memutuskan sesuatu.
Jika kita memulai hari-hari kita dengan membaca Firman Tuhan, berdoa dan merenungkannya berarti kita sudah mempersiapkan diri dengan segala perlengkapan senjata Allah untuk menghadapi segala tantangan.
Salah satu kesulitan kita adalah memilih teman-teman yang selalu positif. Kita memiliki teman-teman yang mungkin saja baik namun jarang orang-orang yang bisa senantiasa positif. Membaca buku-buku yang baik adalah salah satu cara untuk ‘berteman’ dengan tokoh-tokoh besar dunia yang sudah terbukti menang dalam pertarungan hidup ini.
Dengan demikian kita bisa menyerap semangat, cara pikir, pola pandang dan kebijaksanaan yang mereka tuliskan setelah melakukan pelbagai riset dan pengalaman hidup. Kita bisa menghindari pertempuran yang tidak perlu, skip, lalu melesat maju menuju target kita dengan lebih cepat dan lebih baik. Keberhasilan dalam hidup bukan terjadi secara kebetulan. Kita bisa memprogramnya bersama dengan Tuhan.
“UmatKu binasa karena kurang pengetahuan”, kata Firman Tuhan. Artinya Tuhan menghendaki kita menimba sebanyak mungkin pengetahuan dengan dilandasi pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan sebagai barometernya, sehingga menjadi kekuatan bagi kita untuk membangun kehidupan yang bahagia, sukses dan berkualitas. Tuhan seringkali berbicara dan membimbing melalui pengetahuan yang kita miliki.
Tuhan ingin agar kita menjadi orang yang utuh, sukses, bahagia dan hidup berkelimpahan. Apakah ini berarti egois? Tidak! Hanya dengan memiliki kepenuhan seperti itulah kita bisa melayani sesama dengan tulus hati untuk kemuliaan Tuhan semata.
Orang-orang yang tidak utuh akan melayani orang lain demi untuk memenuhi kekosongan dirinya. Orang yang tidak merasa aman dengan dirinya, hidup berkekurangan maka tidak tertutup kemungkinan pelayanannya akan memiliki motivasi kurang baik. Orang yang kurang memiliki rasa percaya diri, melayani demi merasa diperhatikan. Karena itu tidak jarang terjadi ketika dia tidak diperhatikan kemudian mengalami kepahitan.
Idealnya seseorang melayani karena sudah memiliki lebih dari yang dibutuhkannya. Tujuan pelayanan untuk membagikan kelimpahan. Orang-orang yang dilayani terinspirasi ingin belajar bagaimana agar hidupnya juga sebaik dia. Karena itu jangan takut untuk meminta kepada Tuhan hidup yang berkelimpahan!
Keputusan yang salah dapat membawa kita kepada kebinasaan, tetapi keputusan yang dilandasi pengenalan dan percaya penuh kepada Firman Tuhan akan membawa kita kepada kemenangan kekal.
(Yenny Indra)


