HomeOpiniSalah Kaprah

Salah Kaprah

WAKTU saya berada di Semarang tahun 60-an, saya cari spare-part motor. Lalu saya ditanya hondanya merk apa? Saya sedikit bingung, lalu orang tersebut menunjuk kepada sepeda motor dan mengertilah saya. Bagi dia kata honda itu identik dengan motor. Maklum zaman dulu motor merk Honda yang dikenal lebih dulu. Jadi  kalau  kemudian ada merk lain, orang tetap menyebut hondanya merk Yamaha. Ada lagi yang lain berkata: sanyonya merk Mitsubhishi, maksudnya pompa airnya merk Mitsubishi. Aneh ya. Tapi nyata.

Menjadi guru katanya harus digugu dan ditiru. Selain bertutur santun, tapi juga harus benar. Saya minta mahasiswa mengambilkan daftar hadir di Tata Usaha. Saya tahu dia mengerti yang saya maksud, karena dia beranjak dari tempat duduknya. Tak lama kemudian dia bilang: “Pak absennya tidak ada”. Penasaran, saya balas katakan: “Ya jelas absen tidak pernah ada”. Dia bengong: “Lho . . kok …”. Ya, saya tegaskan disekolah ini tidak ada absen (maksudnya daftar absen), yang ada daftar presen alias presensi. Dulu zaman Belanda, murid yang tidak masuk namanya ditulis pada papan absen kecil yang digantung di tembok depan kelas. Nah itu sejarahnya. Sayang yang kita warisi jadi salah kaprah.

Banyak guru dan dosen sampai sekarang masih mengatakan absensi, padahal yang dimaksud presensi. Bukankah ini salah kaprah?

Ada pengalaman lain waktu saya berenang pagi, berjumpa dengan lansia yang usianya sekitar 80-an. Saya bertanya, pukul berapa tadi dia datang?

Entah dia tidak tahu atau memang tidak mau tahu  lalu  meledek dan bilang: “Apanya yang dipukul”. Wah, susah juga ya meluruskan sebutan waktu pukul  8.00 malah di bully. Maklumlah, dia terbiasa ditanya bahasa Jawa: jam pinten pak? Jawabnya: jam wolu.

Kemudian waktu mengajar saya beritahu mahasiswa bedanya jam dan pukul. Saya berangkat dari rumah tadi pukul 7.00 dan sampai di kampus butuh waktu satu jam. Ada perbedaan antara waktu dan durasi (lamanya).

Yang lucu ada mahasiswa saya yang WA ke saya tulisannya sebagai berikut: “Bapak dimohon hadir jam pukul 10.00 di sekolah.” Niatnya sudah mau berubah, tapi kebiasan berkata jam belum bisa berubah. Nah yang ini salah kaprah dan salah tingkah.

Salah kaprah diartikan kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan sebagai kesalahan (Kamus Besar Bahasa lndonesia-KBBI). Contoh di atas bisa dideretkan banyak sekali dalam bahasa pergaulan sehari-hari.

Misalnya si anak bertanya pada ibunya: “Bu aku mau makan ikan ayam,” ibunya menjawab: “Mandi air panas dulu ya nak, baru nanti makan.” Lha mana ada ikan ayam di kolam? Trus kalau benar disuruh mandi air panas kan tubuhnya bisa melepuh? Jangan sampai kita ikut mewariskankan “kelirumologi” pada generasi penerus. Nanti jadi keliru terus.

Tentunya di institusi keagamaan yang disebut gereja, hal kecil seperti ini perlu mendapat perhatian. Boleh-boleh saja anak muda sekarang pakai bahasa gaul, kalau tidak mau dikatakan: jadul (jaman dulu) atau kolot. Masih ada saja yang menulis di warta jemaat kata-kata: oikumene, mengapa tidak pakai bahasa Indonesia yang ada di KBBI yaitu ekumene. Kalau mau konsekuen bahasa aslinya ditulis: oikoumene’. Kata ini dipakai pada simbol PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia).

Ada beberapa kata yang dituliskan dalam warta jemaat. Misalnya emeritus ditulis emiritus; penahbisan ditulis pentahbisan, penasihat ditulis penasehat dan sebagainya. Malapraktik – ditulis malpraktik. Telepon ditulis telpon; dan seterusnya. Ini semua ada di KBBI, maka sering-seringlah cek. Masih banyak yang  mau  diurai, tapi intinya pakailah bahasa lndonesia yang benar.

Kalau KBBI dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia yang sudah dibuat panduan kata yang baku, seyogyanya kita perlu memperhatikannya. Mengapa di semua Fakultas pada semester pertama masih diajarkan bahasa Indonesia. Bukankah kita orang Indonesia dan sudah sejak Sekolah Dasar belajar bahasa Indonesia? Mari kita belajar bersama lebih benar-baik-tepat.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments