HomePintu HatiTips Berteman, Bagaimana Cara Kita Membagi “Sahabat” dan “Teman”

Tips Berteman, Bagaimana Cara Kita Membagi “Sahabat” dan “Teman”

SALAH satu kebutuhan manusia adalah bersosialisasi, alias berteman. Manusia tidak dapat hidup sendiri. Tuhan memang menciptakan demikian. Karena itu saat melihat Adam seorang diri, Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Maka diciptakanlah Hawa. Manusia membutuhkan teman yang sepadan untuk berbagi.

Orang bijak mengatakan, bahwa hidup kita tidak akan jauh berbeda dengan kehidupan sahabat-sahabat kita. Mengapa? Karena kita banyak meluangkan waktu dengan mereka, akibatnya kita akan terpengaruh dengan prinsip dan nilai-nilai yang dimiliki sahabat kita. Sedangkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang kita miliki akan menentukan keputusan-keputusan kita, yang pada akhirnya akan membentuk takdir kita.

Pada umumnya kita hanya bisa bersahabat dekat dengan orang-orang yang memiliki nilai-nilai yang kurang lebih sama. Secara natural, kita tidak akan merasa nyaman jika bergaul dengan orang yang berbeda dengan kita. Itulah sebabnya manusia suka berkelompok dengan sejenisnya.

Sedangkan dalam hidup kita sehari-hari, kita akan bertemu dan diharuskan bergaul dengan berbagai macam jenis manusia yang berbeda mungkin dalam bisnis, organisasi atau di lingkungan tempat kita tinggal. Bagaimana cara yang bijak agar kita bisa tetap maju, positif dan bisa menjaga nilai-nilai kita agar tidak terkontaminasi?

Kuncinya, membagi teman-teman kita menjadi dua kategori: sahabat dan teman.

Sahabat adalah orang-orang terdekat kita, di mana kita menimba pengetahuan, curhat, meminta pertimbangan dan sebagainya. Idealnya, orang yang bisa menerima kita apa adanya, mengasihi kita tanpa syarat dan ikut berbahagia saat kita sukses serta mendukung kita lebih maju.

Jika sahabat-sahabat kita orang-orang yang sukses dan bahagia, maka secara bertahap hidup kita juga akan sukses dan berbahagia. Karena itu, pastikan kita memilih sahabat-sahabat terdekat yang sukses, bahagia dan hidupnya bisa menjadi teladan.

Kualitas lain yang tidak kalah pentingnya: seseorang yang beriman, memiliki nilai-nilai yang baik, bisa dipercaya, open-minded alias berpikiran terbuka dan bijaksana. Sangat bagus, jika sahabat kita orang yang lebih dewasa rohani. Setiap kita membutuhkan mentor atau pembimbing. Sahabat yang baik tidak sungkan untuk menyampaikan kritik membangun demi kemajuan dan kebaikan kita.

Berkumpul dan membangun persahabatan dengannya ibarat seperti handphone yang sedang di-charge, kita mendapatkan wawasan, sukacita, semangat yang baru. Luangkan waktu lebih banyak dengan sahabat daripada dengan teman. Dengan sahabat kita sedang memperlengkapi diri. Jika diri kita sudah penuh dan utuh, maka kita memiliki sesuatu yang bisa disalurkan bagi teman-teman kita.

Sejujurnya tidak mudah menemukan sahabat yang berkualitas. Kita bisa memiliki banyak sahabat namun lebih sulit lagi memiliki sahabat yang sejati. Sahabat sejati adalah sahabat yang rela menyediakan waktu untuk senantiasa mendampingi kita dalam suka dan duka. Seseorang yang senantiasa ada saat kita membutuhkannya.

Alangkah indahnya jika salah satu sahabat sejati kita adalah pasangan kita sendiri, karena pasangan adalah orang yang memiliki kesamaan kepentingan, masalah dan paling banyak menghabiskan waktu dengan kita. Memiliki satu atau dua sahabat sejati sudah merupakan kemewahan dan anugerah yang luar biasa. Kita pun harus bersikap tulus, mengasihi dan menjadi sahabat yang baik bagi sahabat-sahabat kita.

Sedangkan, teman-teman adalah orang-orang yang banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Sebaiknya, kita tidak memilih-milih teman. Sesuai dengan perintah Tuhan, bahwa kita adalah terang dan garam dalam dunia. Tentunya garam tidak perlu terus menerus berkumpul dengan garam, sehingga menjadi gudang garam. Fungsi garam adalah sedikit tetapi memberi rasa sehingga membuat masakan menjadi nikmat dan sedap. Tugas kita memberi pengaruh baik bagi teman-teman kita sehingga orang yang bergaul dengan kita akan merasakan kasih Allah dan hidupnya akan menjadi lebih baik. Kita menjadi teman yang menyediakan pelukan bagi yang luka, pendengar bagi teman yang berbeban berat, memberi arahan dan dukungan bagi yang lelah.

Kita perlu senantiasa menjaga kesadaran akan peran kita ketika bergaul dengan teman-teman, agar kita tidak terpengaruh dengan gosip yang kita dengar atau keluhan-keluhan yang diungkapkannya atau sampah-sampah lain yang kita dengar.

Ingatlah bahwa ini saatnya kita melayani sesama, sesuai perintah Tuhan. Kita sedang berperan memberi rasa dan menjadi terang. Kita harus mempengaruhi teman-teman kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Menjadi pendamai, motivator, inspirator dan peran apa saja sesuai dengan hikmat Tuhan. Idealnya, teman-teman kita menjadi lebih baik karena bergaul dengan kita. Mereka bisa melihat terang dan kasih Allah terpancar melalui kehidupan kita.

Tidak mudah mencari sahabat yang selalu positif, bukan? Salah satu tips praktis, adalah selalu membaca buku-buku bagus, atau mendengarkan pengajaran yang baik dari orang-orang yang sudah terkenal baik, sukses dan berhasil mencapai apa yang kita inginkan. Dengan demikian, kita bisa menimba ilmu, memahami cara pikir, pertimbangan, strategi mereka dalam menyelesaikan berbagai tantangan. Pengalaman-pengalaman mereka bisa kita jadikan peta bagi kesuksesan hidup kita sendiri. Kita akan termotivasi dan terinspirasi, bagaikan kita ‘bersahabat’ dengan mereka.

Dengan membaca buku-buku dan mendengarkan pengajaran bagus, kita bisa menyerap pemikiran-pemikiran cerdasnya. Kita juga bisa mengerjakan pekerjaan kita sehari-hari sambil mendengarkan kotbah dan pengajaran yang bagus. Dengan demikian, pekerjaan selesai, pada saat yang sama, pikiran kita dipenuhi hal-hal yang positif, sehingga wawasan kita senantiasa diperluas.

Ke mana kita melangkah, dimulai dari pikiran. Jika kita selalu menjaga pikiran kita positif, lalu menjaga hati kita bersih dengan senantiasa menjaga waktu teduh dalam doa serta perenungan akan firman-Nya, maka kita tidak perlu kuatir karena sudah pasti hidup kita berada pada jalur yang benar.

Jika hidup kita sudah berada pada jalur yang benar, maka segala sesuatu akan berada pada tempat yang seharusnya. Kebahagiaan, kesuksesan, damai sejahtera atau apa pun yang diinginkan manusia akan tercipta dengan sendirinya. Setuju?

(Yenny Indra)

Previous article
Next article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments