HomeGereja & MasyarakatMengenal Pdt. I Dewa Ngakan Gede Suardinata Putra: Seorang Pendeta Tunanetra Yang...

Mengenal Pdt. I Dewa Ngakan Gede Suardinata Putra: Seorang Pendeta Tunanetra Yang Menginspirasi

Pdt. I Dewa Ngakan Gede Suardinata Putra, atau yang akrab disapa Ferdy, adalah seorang pendeta yang memiliki perjalanan hidup yang luar biasa. Lahir di Kupang pada 13 April 1979, Ferdy  telah mengalami kesulitan sejak lahir, yaitu kebutaan karena katarak bawaan. Namun, kesulitan itu tidak menghentikannya untuk mengejar mimpi dan menjadi seorang pendeta.

Umur tiga bulan saya sudah operasi. Mata sebelah kiri berhasil, tetapi mata sebelah kanan gagal.  Dengan satu mata itulah (moji: moto siji) saya menjalani hidup selama sekitar 20 tahun,” ungkap Ferdi yang mengaku sudah menjadi Kristen sejak Sekolah Dasar.

Mengalami Penolakan dan Kesulitan

Ferdy telah mengalami banyak penolakan dalam perjalanannya menjadi pendeta. “Memasuki usia ke-19 saya mulai merasakan kebutaan. Masa itu ketika saya mulai masuk kuliah hingga mengalami buta total di usia 24 tahun,” tuturnya.

Saat hendak masuk sekolah teologi Ferdy banyak mengalami penolakan karena kebutaannya itu. Akhirnya pada tahun 1998 Ferdy diterima di STTII dan lulus sarjana teologi tahun 2003. “Sejak lulus saya sudah melayani mendampingi masa praktik mahasiswa. Pelayanan tersebut hanya sebatas fungsional, bukan struktural, dan selalu ditolak saat saat melamar menjadi struktural dengan alasan kebutaan,” kisahnya.

Dalam perjalanan menjadi pendeta pun, Ferdy mengalami banyak penolakan. Banyak gereja yang menolaknya karena kondisi kebutaannya, tetapi itu tidak membuat surut niatnya. Ferdy terus berjuang dan akhirnya ada satu gereja di Bandung, yaitu Gereja Methodis Injili (GMI) yang menerimanya. Saat ini, Ferdy melayani sebagai pendeta misi di Persekutuan Doa (PD) Siloam Holistik Ministry di Surabaya. Hingga saat ini ia sudah melayani sebagai pendeta selama 14 tahun setelah ditolak sana-sini.

Membantu Kaum Disabilitas dan Misi Penginjilan

Ferdy memiliki misi untuk membantu kaum disabilitas menjadi pribadi mandiri dan mengenal Kristus. Misi utamanya adalah menjangkau kaum disabilitas  netra dan membawa mereka menjadi pribadi yang mengenal dan mengalami Kristus. Ferdy juga memiliki keinginan untuk membantu kaum disabilitas menjadi pribadi yang percaya diri serta mandiri.

Bidang ’misi penginjilan’ dan penjangkauan penginjilan kepada tunanetra menjadi fokus utama Ferdy sejak muda. ”Saya pernah ke Kalimantan, Makasar, Sulawesi, dan lain-lain. Sampai sekarang pun tetap menjadi pendeta misi dan tidak menggembalakan, hanya membina teman-teman tunanetra,” ungkap suami dari Sih Lestari tersebut.

Tantangan dan Hambatan

Sebagai penyandang disabilitas netra, tantangn dan hambatan pasti ada, minimal mobiltas. Namun, bagi Ferdy, meskipun banyak penolakan masih ada sisi positif yang ternyata justru membawa keuntungan. “Mereka yang saya injili tidak akan berbuat aneh-aneh, tidak akan menolak secara kasar karena ada rasa kasihan dengan kondisi kebutaan saya ini. Masuknya dengan memberi inspirasi bahwa Tuhan itu baik, kemudian masuk ke hal sekuler secara halus,” paparnya.

Berdasar survey, ada sekitar 850 ribu jumlah tunanetra di Indonesia, dan yang ke gereja hanya 5 persen saja. Maka itu perlu dipikirkan bagaimana cara-cara gereja menjangkau dan menolong para tunanetra ini lebih maksimal.

Ada beberapa cara dipakai Ferdy untuk membantu para tunanetra, salah satunya melalui pelatihan penggunaan handphone (HP) yang bersuara. Selain melatih mereka, juga mengingatkan bahwa mereka pasti juga punya keahlian dan membantu menemukan keahliannya. Misal, belajar pijat dan menjadi tukang pijat yang bersertifikat. Mereka diajarkan untuk mandiri dan tidak hanya minta dikasihani serta menuntut saja tanpa mau mengerti orang lain.

Dalam pelayanan penjangkauan jiwa, Ferdy berkeyakinan, bahwa orang buta yang berkotbah kepada orang buta akan lebih mengena karena bisa sama-sama merasakan apa yang dialaminya. Lebih mudah masuk dalam memberi pembekalan, motivasi untuk percaya diri. Dengan membantu tunanetra mereka dapat membantu tunanetra lainnya.

Motivasi dan Harapan

Iman sangat membantu dan membangun, kesulitan membentuk dan memproses kita. Keterbatasan bukan akhir segalanya. Keterbatasan adalah awal untuk kita berkarya, karena Tuhan tidak pernah salah menjadikan itu terjadi,” pesan Ferdy.

Tuhan tidak pernah salah kita mengalami kedisabilitasan atau kesulitan. Tuhan punya maksud yang mungkin kita belum pahami sekarang, tetapi nanti kita akan pahami. Seperti ungkapan Paulus: Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahankulah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaugi aku. (2 Korintus 12:9).

Ferdy juga menegaskan, bahwa justru dalam keterbatasan kita dipakai Tuhan. Nikmati keterbatasan itu karena waktunya Tuhan ingin menyatakan diri-Nya kepada banyak orang. Untuk orang lain dan gereja yang masih sulit menerima disabilitas, perlu dipercaya dan beri kepercayaan mereka bisa berkarya. Gereja jangan hanya mengekploitasi keahlian para tunanetra tetapi tidak diberi kesempatan secara struktural atau kelembagaan, padahal mereka punya kemampuan.

Harapan lainnya adalah lebih banyak STT dan gereja yang mau menerima dan memberi kesempatan  kepada tunanetra untuk berkarya melalui pendidikan maupun pelayanan. Melalui aplikasi penunjang dan kemajuan teknologi mestinya para tunanetra bisa mengikuti pembelajaran tanpa terlalu membebani tenaga pembimbing. Hal ini perlu juga dukungan pemerintah untuk memberi kesempatan dan kepercayaan. Jangan hanya mengasihani tetapi beri kesempatan.

Gereja Peduli Disabilitas

Masih banyak gereja yang kurang memedulikan kaum disabilitas. Gereja sekarang harus belajar memperlakukan tunanetra dengan ketunanetraannya. Ada hal praktis yang gereja kurang memahami bagaimana memperlakukan jemaat disabilitas atau tunanetra. Misal, saat mengedarkan kantong persembahan atau yang letaknya di depan. Banyak jemaat tidak mengerti dan membiarkan tunanetra berjalan sendiri dalam ketunanetraannya. Minimal jemaat bisa peduli membantu mereka. Menuntun saat masuk, duduk dan saat keluar gereja, dan sebagainya. “Bagi jemaat yang normal, hargai para tunanetra, jangan hanya dari penampilan atau warna kulit, dan jangan lihat tampilan luarnya saja,” pesan Ferdy. (doc/brkt)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments