HomeJelajah Kamera50 Tahun Persekutuan Doa BAMAG Kota Surabaya: Bergerak Dalam Kesatuan

50 Tahun Persekutuan Doa BAMAG Kota Surabaya: Bergerak Dalam Kesatuan

Surabaya – Lebih dari 200 orang dari pelbagai denominasi gereja berkumpul dalam Persekutuan Doa Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Kota Surabaya, Selasa (7/04/2026). Mereka bersatu dalam memuji dan meninggikan nama Tuhan, menunjukkan kesatuan dan komitmen dalam pelayanan.

Pdt. Drs. Jantje Wairisal menyampaikan kotbah di masa Paskah ini dengan membahas uang dalam pelayanan, mengangkat Matius 28:11-15. Ia menekankan bagaimana uang dapat mempengaruhi perilaku dan spiritualitas.

Ada 3 karakter penting dalam peristiwa setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Pertama, orang Yahudi yang memiliki karakter tidak mau dikalahkan dan berupaya terus menunjukkan ketidaksenangan akan keberadaan Kristus.

Kedua, sama halnya dengan tua-tua dan Imam Yahudi yang memiliki karakter sama, yaitu selalu mencari posisi aman dan nyaman dalam mendambakan uang dalam setiap langkah hidup mereka. Bahkan mereka memberi uang kepada Yudas Iskariot untuk menjual Tuhan Yesus. Dalam pelbagai catatan mereka adalah yang menentukan kebijakan dalam tata cara ibadah dan perlakuannya dalam masyarakat.

Ketiga adalah karakter dari tentara Romawi. Mereka adalah prajurit-prajurit kawakan dan berpengalaman, serta berperilaku sombong dan angkuh. Kekuatan dan kebesaran mereka sudah pasti mantap.

Secara gamblang, peristiwa kebangkitan Kristus ini sangat memberikan impresi yang menyenangkan atau mengenakkan bagi orang Yahudi dan tua-tua Yahudi saat itu. Bahkan mereka menyuruh kepada tentara Romawi itu agar mengatakan bahwa tubuh Tuhan Yesus itu telah dicuri oleh murid-murid Tuhan Yesus.

Cerita akan uang memang sebuah aksi yang tidak dapat ditolerir dari masa ke masa. Uang membuat arti yang tidak menyenangkan akan kebangkitan Tuhan Yesus. Di masa sekarangpun, uang dapat merusak spiritual atau kebangunan rohani di dalam Kristus.

Uang juga dapat menjadi sumber penyakit yang tidak menimbulkan sebuah kebahagiaan di dalam gereja. “Untuk itu gereja harus dapat memanfaatkan uang untuk membantu tubuh Kristus. Dalam hal ini dapat memberikan pembaharuan dan peningkatan bagi pekerjaan Kerajaan Allah di muka bumi. Yang lemah dikuatkan dan yang kuat semakin mendukung perkembangan tubuh Kristus di mana-mana,” imbuh Pdt. Jantje.

Selayang Pandang Gereja Eben Haezer di Kota Surabaya dalam Pelayanan Umat

Gedung GPIB Eben Haezer adalah warisan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1928, sering disebut Darmo Kapel karena letaknya di sekitar Jl. Raya Darmo. Dulu bernama Protetansche Kerk in Nederlansch Indie.

Jemaatnya mayoritas orang Belanda dan hanya sedikit orang pribumi. Baru pada 31 Oktober 1948 diresmikan menjadi GPIB Eben Haezer yang artinya “Sampai di sini Tuhan menolong kita” (1 Samuel 7:12). Demikian penjelasan Willy Purwosuwito, M.A., M.Th. selaku penasihat BAMAG Surabaya.

Willy Purwosuwito, M.A., M.Th. Penasihat BAMAG Surabaya

GPIB Eben Haezer juga merupakan tempat bersejarah di mana H.B. Prawiromaruto, S.H. yang adalah Penatua GPIB Eben Haezer mendirikan Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG). Beliau menjadi Ketua BAMAG Surabaya tahun 1975-1998. Kemudian dilanjutkan oleh Eddy Pattinasarane, S.H., M.Si yang juga Penatua GPIB Eben Haezer. Beluai menjabat sebagai Ketua Umum BAMAG Surabaya tahun 1999-2012.

Selain itu, Willy juga memperkenalkan pelayan Sekretariat BAMAG, yaitu Arik Kuswandari, S.S., Ernie S. Macahecum, S.Psi., Sunarni Leatemia, S.E., dan Judi Crhismartono Senjaya yang telah mengabdi sejak berdirinya BAMAG Surabaya sebagai “teman sekerja Allah” yang setia melayani sepenuh hati.

Para pelayan sekretariat BAMAG Surabaya

Acara Persekutuan Doa BAMAG Surabaya yang digelar di GPIB Eben Haezer ini diakhiri dengan keramahtamahan dan pemberian kebaikan jasmani, selain rohani. (petrus-berkat)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments