MEMBESARKAN anak dapat diibaratkan dengan mengendarai sepeda. Harus ada keseimbangan saat tubuh kita di atas batang-batang besi beroda dua itu. Banyak unsur dalam membesarkan anak yang harus ada secara berimbang: ‘terlalu banyak” atau “terlalu sedikit” biasanya mengakibatkan dampak yang sama-sama negatifnya.
Misalnya terlalu sayang dan terlalu protektif dapat membuat anak lemah serta kurang percaya diri. Sebaliknya kurang kasih sayang bisa juga menjadikan anak lemah dan tidak mempunyai keyakinan diri. Demikian pula terlalu banyak tuntutan membuat anak tertekan, sebaliknya terlalu sedikit tuntutan menjadikan anak terlena.
Tuntutan perlu diberikan dengan hati-hati agar berkhasiat maksimal. Secara spesifik, tuntutan hanya akan efektif bagi pertumbuhan anak bila diiringi oleh unsur atau kondisi tertentu. Bak menanam padi, kita harus menggemburkan tanah dan mengalirkan air dengan teratur. Benih padi sebaik apapun tidak akan tumbuh di tanah yang tandus.
Berikut ini empat prinsip yang harus ada bersama dengan tuntutan agar tuntutan bisa mencapai hasil optimal.
Pertama, harus ada kasih dan penerimaan penuh
Sebelum tuntutan diberikan, anak perlu mengetahui dan merasakan cinta kasih orang tua yang menerimanya secara total. Anak selayaknyalah memiliki keyakinan bahwa ia tetap dikasihi orang tua meski ia belum tentu mampu meraih standar orang tua. Sebelum menerima tuntutan, anak perlu menyadari bahwa orang tua telah menerimanya apa adanya atas dasar satu alasan: sebab ia adalah anak yang mereka kasihi.
Sebaliknya, tuntutan yang diberikan tanpa landasan kasih dan penerimaan penuh akan jatuh bagaikan duri yang menusuk kalbu. Tanpa kehadiran kasih dan penerimaan, anak akan cenderung mengaitkan perfoma dengan kasih orang tua. Anak akan berpikir bahwa ia hanya akan dikasihi apabila ia berhasil.
Memenuhi tuntutan orang tua, misalnya meraih nilai yang bagus. Juga, tanpa adanya penerimaan dari orang tua, tuntutan akan menjadi dingin dan kehilangan unsur kemanusiaan sehingga tidak jarang anak akhirnya merespons tuntutan seperti itu dengan penuh kebencian.
Tuntutan yang didahului kasih dan penerimaan dapat memotivasi anak berprestasi. Tuntutan mendorongnya bekerja lebih keras dan ia akan dapat melakukannya dengan tenang karena ia tahu bahwa ia dikasihi. Anak sadar bahwa keberhasilannya mencapai tuntutan itu akan menyenangkan hati orang tua, bukan untuk mendapatkan kasih orang tua.
Kedua, harus ada target yang spesifik
Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang berorientasi pada target tertentu. Tidak jarang orang tua melakukan kesalahan yang umum terjadi, yakni menuntut anak menjadi “lebih baik, lebih rajin, lebih pintar, berprestasi lebih tinggi,” dan lain sebagainya. Tuntutan dengan target yang terlalu luas akan membuat anak hilang arah dalam mengejar sasarannya.
Anak akan lebih memahami tuntutan orang tua apabila tuntutan itu dijabarkan sespesifik mungkin. Daripada berkata, “lebih rajin dan lebih pintar” mungkin lebih baik kita memintanya menambah jam belajar atau menyelesaikan tugas sekolahnya sebelum bermain. Daripada menuntutnya, “berprestasi lebih tinggi,” kita bisa menyebut pelajaran tertentu yang mendapat nilai rendah dan memintanya menghabiskan waktu belajar lebih banyak untuk bidang tersebut.
Ketiga, harus realistik dan sepadan dengan kemampuannya
Untuk memacu prestasi, tuntutan yang diberikan seyogyanya sedikit di atas kemampuan anak. Tuntutan yang di bawah atau pas dengan kemampuan anak tidak akan memacunya karena ia tidak perlu berusaha keras memajukan dirinya. Sebaliknya, tuntutan yang jauh melampaui kemampuan anak akan mengecilkan semangatnya. Anak mesti melihat bahwa tuntutan yang diberikan kepadanya masih dalam batas kemampuannya.
Saya sering melihat ada dua kesalahan yang umum dilakukan orang tua. Pertama orang tua menuntut anak menjadi seperti dirinya dan kedua, orang tua menuntut anak menjadi pelengkap kekurangannya. Kesalahan pertama acapkali diperbuat oleh orang tua yang bisa bermain piano dan cenderung menuntut anak bermain piano pula.
Tidak selalu anak mewarisi bakat orang tua dan tidak semua anak mempunyai minat yang sama dengan orang tuanya. Kalaupun anak menyukai piano, itupun tidak berarti bahwa ia akan dapat bermain sebaik orang tua. Adakalanya orang tua menuntut anak untuk menjadi semahir dirinya. Sekali lagi problemnya ialah, anak belum tentu memiliki tingkat kepandaian yang sama dengan orang tua.
Kesalahan kedua acap terjadi pada orang tua yang merasa diri kurang. Anak akhirnya menjadi penyambung kekurangannya agar keinginannya yang belum tercapai bisa diwujudkan oleh anak. Misalnya, jika orang tua berangan-angan menjadi atlet nasional, iapun akan memaksa anak menjadi atlet nasional. Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang realistik; tuntutan yang tidak realistik justru akan menciptakan frustasi pada diri anak.
Keempat, harus memberi ruangan untuk gagal
Pada dasarnya kita adalah orang yang sulit menoleransi kegagalan karena kegagalan dengan mudah dapat membangkitkan perasaan-perasaan masa lalu kita yang pahit. Kegagalan cenderung mengingatkan kita akan kekurangan-kekurangan yang telah kita coba perbaiki dengan susah payah. Kegagalan anak seringkali mempengaruhi penghargaan diri dan konsep diri orang tua. Kegagalan anak seakan mencoreng konsep dan penghargaan diri yang sebelumnya dimiliki orang tua.
Tuntutan bukanlah dan tidak seharusnya menjadi standar ketidaksempurnaan karena anak bukanlah anak yang sempurna. Jadi anak pun mesti diberi kemungkinan untuk gagal dalam upayanya memenuhi tuntutan orang tua.
Anak perlu menyadari bahwa kegagalan adalah bagian dan konsekuensi dari hidup serta yang penting adalah bagaimana menerima dan mengoreksi diri, bukan menyangkali atau menyesali diri tanpa kesudahan. Anak harus mengetahui bahwa yang terpenting adalah usahanya, bukan hasil akhirnya. Selama ia telah berusaha sebaik mungkin, kegagalan akan diterima dengan lapang dada oleh orang tuanya.
Tuntutan perlu diberikan setelah keempat hal ini kita jalankan. Tanpa kehadiran keempat faktor ini, tuntutan akan menjadi cambuk belaka; membuat anak maju selangkah, namun mengutuki setiap cambuk yang diterimanya. Sebaliknya, keberadaan keempat hal ini akan membuat tuntutan sebagai tangan yang menuntun anak maju selangkah demi selangkah. Saya kira anak akan jauh lebih menyukai tangan daripada cambuk.
(Paul Gunadi)


