KAMI bukanlah satu-satunya keluarga atau individu pertama yang berpikir dan bertindak untuk merayakan hari ulang tahun anak kami di sebuah panti asuhan. Pada awalnya, itu adalah sebuah gagasan mulia yang tulus datang dari hati terdalam suami saya. Disampaikan kepada saya, dan saya menyetujuinya.
Bertahun-tahun yang telah lewat, kami selalu merayakan hari ulang tahun anak kami, Kay, dengan mewah. Sampai pada suatu saat, suami saya merasa bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang sangat berbeda buat keluarga kami, jika kami merayakannya dengan arti dan tujuan yang lebih dalam.
Ada begitu banyak orang-orang yang sangat beruntung di dalam kehidupan ini. Namun, ada jauh lebih banyak lagi mereka yang kurang beruntung.
Sore itu, saat memasuki bangsal panti asuhan, napas saya tercekat. Telah menunggu kami, sekitar seratus orang. Mulai dari seorang bayi, beberapa anak kecil, puluhan orang dewasa, sampai yang telah lanjut usia. Mereka telah menanti kedatangan keluarga kami dengan sangat sabar. Duduk di lantai, sembari kepanasan.
Ruangannya sederhana, tidak ada satupun pendingin ruangan. Mereka semua adalah penghuni panti asuhan itu. Dikumpulkan menjadi satu, untuk merayakan ulang tahun anak kami.
Pada saat saya berdiri di depan, saya memperhatikan orang-orang itu satu-persatu. Orang-orang itu… Mereka adalah orang-orang yang tidak diinginkan. Anak-anak yang tidak diinginkan orang tuanya lagi. Orang tua-orang tua yang tidak diinginkan anak-anaknya lagi. Dan sebagian besar adalah bekas penghuni rumah sakit jiwa yang sudah tidak diinginkan lagi. Rumah sakit tempat mereka dulu dirawat sudah angkat tangan dalam menangani mereka, sehingga akhirnya mereka diserahkan ke panti ini.
Panti itu dengan penuh kasih sayang, menerima dan merawat mereka semua. Mereka semua yang tadinya di bawah perawatan obat penenang, tidak lagi dibiarkan meminum obat-obat itu. Para pengasuh di panti itu percaya dan hanya mengandalkan kasih dan kuasa Tuhan.
Berdiri di depan bersama dengan suami dan anak kami, saya tidak merasa seperti seorang selebriti yang sering mengadakan acara berbagi seperti ini. Saya tidak merasa seperti seseorang yang sangat makmur, yang memberikan sedikit dari hartanya untuk mereka ini yang kurang beruntung.
Saya menghapus air mata saya yang jatuh. Merasa malu dengan diri saya sendiri. Di dalam kehidupan ini, begitu teramat seringnya saya memikirkan dan mengurusi hal-hal yang remeh-temeh. Hal-hal yang tak penting seperti…
Betapa saya amat menginginkan sepasang sepatu seharga setengah juta lebih, hanya karena saya belum memiliki yang seperti itu. Seperti kemana keluarga saya akan pergi berlibur di tahun baru nanti. Belanda, Kuala Lumpur, atau Manila? Seperti kenapa teman-teman saya tidak pernah mengirim pesan lagi… Seperti kenapa suami saya tidak mencium saya di hari jadi pernikahan kami…. Seperti ketika saya memikirkan tentang sakit hati saya terhadap satu atau lebih banyak orang… Seperti ketika saya memikirkan sejuta hal yang tak begitu penting di dalam kehidupan ini.
Sampai-sampai begitu seringnya saya lupa, lupa bahwa sampai hari ini, Tuhan telah memelihara saya, dan mengasihi saya dengan begitu amat istimewa.
Betapa malunya saya kepada diri saya. Kadang-kadang saya yang terlihat pintar ini, ternyata bisa menjadi amat bodoh. Tak mengerti, dan lebih seringnya lupa, akan kasih dan kebesaran Tuhan. Saya dicintai, saya diinginkan, saya dirindukan, saya dihargai, saya diingat.
Sementara orang-orang ini…. Mereka telah dilupakan dan tak diinginkan lagi. Kemana saja saya selama ini? Apakah saya begitu sibuk memikirkan tentang kejayaan saya sendiri? Tentang kelangsungan hidup saya?
Dan saat kelompok anak-anak yang lebih kecil maju ke depan untuk mempersembahkan dua lagu, sebagai hadiah untuk anak kami, tidak lagi saya dapat menahan derai air mata saya. Sesungguhnya, ada begitu banyak ucapan syukur yang patut dinaikkan untuk Tuhan kita. Atas semua yang telah Ia berikan. Yang baik, maupun yang buruk.
Sesungguhnya, ada begitu banyak cinta dan kasih yang dapat kita diberikan, kepada satu, dua, atau bahkan lebih banyak orang di sekitar kita. Bahkan sebuah senyuman dan pelukan adalah sebuah harta yang dapat diberikan.
Karena apakah untungnya berbagi kepahitan? Cercaan dan cibiran yang nyinyir yang keluar dari mulut atau tulisan kita? Tuhan saja, yang menciptakan bibir dan tangan kita itu, tidak melakukan seperti yang kita lakukan…
Setengah dari semua tulisan yang pernah saya goreskan bisa jadi tak bermakna, namun setelah melihat apa yang ada di hadapan saya sore itu… bahkan semua yang telah saya tuliskan, kata-kata yang sudah saya ucapkan, dan tindakan yang telah saya lakukan, semuanya terasa tak bermakna…
Apakah yang dapat saya lakukan, agar setidaknya sepertiga yang telah saya perbuat di dunia ini dapat menjangkau yang tulus dan murni layaknya kasih Tuhan? Saya bersyukur, sore itu, keluarga kami diberi satu kesempatan sangat istimewa, untuk berbagi kasih dan apa yang kami punya, kepada teman-teman baru kami.
Saat kami berpamitan pulang dengan pemilik panti itu, seorang wanita buta yang penuh kasih sayang, saya memeluknya dengan sepenuh jiwa saya. Sesungguhnya saya ingin memberikan lebih banyak lagi dari apa yang kami bisa berikan sore itu, namun saya tahu, yakin, dan percaya, bahwa Tuhan telah dan akan memakai saya menjadi saluran berkat bagi orang lain lewat banyak cara yang lain.
Satu hari yang sangat bahagia untuk saya dan keluarga kami. Seperti seorang bijak berkata, “Kehidupan adalah yang kita saksikan dan alami melalui jiwa. Namun dunia di sekitar kita, kita kenali melalui pemahaman dan akal kita. Pengetahuan semacam itu dapat membawa derita, namun juga dapat membawakan kebahagiaan.”
Selamat ulang tahun, anakku sayang. Tuhan amat sayang padamu. Jangan pikirkan bagaimana menjadikan dirimu seorang yang kaya, tapi jadilah anak yang berkenan kepada-Nya. Sehingga dengan demikian, Ia akan menjadikanmu kaya di dalam segala hal.
(Rahel Yosi Ritonga)


