HomePercikan FirmanMenjadi Bijaksana di Situasi yang Kurang Bijak

Menjadi Bijaksana di Situasi yang Kurang Bijak

MENJADI bijak di kondisi saat ini agaknya semakin sulit, bukan? Kalau kita melihat tayangan tv beberapa waktu lalu, banyak kejadian yang membuat kita geleng-geleng kepala. Ya, ada seorang perempuan yang marah-marah dan memaki aparat gara-gara tidak mau disuruh putar balik saat penyekatan. Atau seorang pejabat yang justru memarahi balik petugas saat ditegur karena tidak memakai masker. Dan masih banyak lagi kasus yang menunjukkan seseorang menjadi tidak bijak.

Banyak faktor atau penyebab mengapa seseorang berlaku tidak bijaksana, antara lain karena tuntutan yang berlebihan, kebutuhan yang berlebihan, tidak puas dengan apa yang dimiliki, membanding-bandingkan atau iri, dan berorientasi hanya pada keuntungan pribadi.

Lantas bagaimana kita sebagai pengikut Yesus menjadi  bijak meski di tengah situasi yang kurang bijak ini?

Dalam Efesus 5 ayat 15 hingga 17, Paulus memberi catatan jelas kepada kita bagaimana caranya menjadi bijaksana.

“Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Ayat 15 ini menjadi catatan pertama kita bagaimana menjadi bijak.

Kalimat “perhatikanlah dengan seksama” artinya kita dituntut ‘melihat’ dengan jeli agar kita mampu memahami.

Seorang mama bertanya kepada anaknya yang berumur 5 tahun,
“Kalau mama dan kamu sedang pergi bersama, lalu kita kehausan tetapi di tempat itu tidak ada air, dan kebetulan di dalam tas kecil kamu ada dua buah apel. Apa yang akan kamu lakukan nak?”

Si anak berpikir sejenak, lalu menjawab dengan mantap, “Aku akan menggigit dulu kedua apel tersebut mama.”

Mendengar jawaban si anak mamanya pun menjadi kecewa. Awalnya ia berniat menegur dan segera mengajarkan anaknya mengenai yang seharusnya dilakukan. Namun, sang mama terdiam dan mencoba bersabar.

Kemudian sang mama berkata lembut sambil membelai sayang anaknya, “Bisakah kamu beritahu mama alasan kenapa kamu melakukan itu?”

Si anak pun menjawab dengan lugu, sambil matanya berbinar cerah, “Karena… karena aku mau memberikan apel yang lebih manis kepada mama.”

Begitu mendengarnya, hati sang mama pun tersentuh. Tanpa terasa air mata haru jatuh membasahi pipinya.

Terkadang dalam hubungan yang harmonis sekali pun bisa muncul kesalahpahaman. Untuk itu yang kita perlukan adalah kesabaran dan melihat dengan seksama, serta mendengar secara tuntas dari orang-orang yang kita kasihi.

Kalau sekarang banyak bertebaran berita hoax, ya kita jangan ikut-ikutan menyebakan sebelum tahu persis kebenarannya. Atau jika ada orang yang keblinger melakukan korupsi, janganlah kita turut ambil bagian dalam korupsi tersebut. “Janganlah menjadi seperti orang bebal, tetapi jadilah seperti orang arif.”

Catatan kedua dari ayat selanjutnya adalah “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (ayat 16).

Efektivitas hidup kita ditentukan bagaimana kita pandai mengatur waktu yang ada. Bukankah Tuhan memberi porsi waktu yang sama kepada kita? Tetapi dari porsi yang sama itu bisa berbeda-beda efektivitas dan produktivitasnya, bukan? Ada yang mampu melakukan 10 produktivitas dalam sehari. Ada yang 5, tetapi ada yang hanya 1 produktivitas, bahkan ada yang tidak produktif sama sekali. Mengapa demikian? Karena faktor manajemen waktu.

Kata “pergunakanlah” menunjukkan bahwa ‘waktu’ itu tidak gratis. Waktu harus dibeli dan ditebus, bukan untuk di sia-siakan.

Waktu yang kita punya adalah singkat. Waktu tidak akan kembali, tetapi suatu saat akan habis. Dan karena hari-hari makin jahat, maka manajemen waktu harus kita lakukan dengan seksama.

Ya, kita tidak bisa mengulang ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan, atau ke masa depan untuk tahu seperti apa kita nantinya. Yang bisa kita lakukan adalah mempergunakan sebaik mungkin waktu yang kita punya sekarang.

Ada kalimat “mumpung masih ada waktu” berarti masih ada kesempatan bagi kita melakukan hal-hal yang baik seturut dengan kehendak Tuhan.

Catatan Ketiga, “Mengerti kehendak Tuhan” (ayat 17). Orang bijak adalah orang yang mengerti kehendak Tuhan. Saat kita menyadari kehendak Tuhan baik atas kita, maka hidup bukan berdasarkan kehendak sendiri, melainkan kehendak Allah.

Allah memberikan kita Alkitab yang adalah Firman-Nya sebagai standar kehendaknya dan memberi kita akal budi untuk mengerti kehendak-Nya itu. Sedangkan orang bodoh adalah orang yang tidak mengerti.

Hal itu yang mendorong Paulus untuk memerintahkan agar umat Tuhan “berubah oleh pembaharuan budi” sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah (Roma 12:2).

Mengerti kehendak Allah adalah seperti ditunjukkan Yesus saat dicobai oleh Iblis. Yesus dengan tegas menjawab tawaran Iblis (Lukas 4 : 5-8). Saat Yesus dicobai, Ia tidak tergoda sedikit pun oleh tawaran si Iblis, karena Dia ‘mengerti kehendak Allah’.

Dalam hidup kita sehari-hari terkadang kita terlalu banyak menuntut. Sebagai orang tua kita terlalu banyak menuntut anak menjadi sesuai yang diinginkan orang tua tanpa mau mengerti terlebih dulu…; Sebagai anak mungkin kita juga terlalu menuntut orang tua terlalu berlebihan…; Sebagai suami terkadang kita menuntut terlalu banyak terhadap istri yang dicintainya; atau sebaliknya, istri terlalu menuntut lebih kepada sang suami…

Mari kita belajar menjadi bijak melalui hidup kita sehari-hari dengan mampu melihat dengan jeli setiap permasalahan yang terjadi. Mampu mengatur waktu dalam menghadapi hari-hari yang kurang baik ini, dan mengerti serta mengutamakan kehendak Tuhan di setiap jalan hidup kita. Tuhan memberkati.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments