Menulis adalah tindakan subversif semenjak ia mengubah berita menjadi cerita. Hal ini juga berlaku dalam sejarah media dan press Kristen di Nusantara. Kees de Jong dan Rainy M.P. Hutabarat memberikan laporan tentang perkembangan media dan press Kristen di Nusantara yang bermula sejak abad ke-17 hingga menjelang akhir abad ke-20.
Menurut mereka, media dan press Kristen itu dapat dipahami dalam beberapa bentuk, dari publikasi internal dengan materi religius untuk menumbuhkan iman jemaat maupun yang ditujukan bagi pembaca lebih luas. Juga ada beberapa perusahaan media yang dibangun oleh orang-orang Kristen dengan tujuan untuk memberikan sumbangsih bagi pembangunan masyarakat.
Selama pendudukan Jepang, nyaris mustahil untuk menerbitkan publikasi Kristen. Akibatnya, banyak sekali majalah Kristen yang tutup dengan pengecualian Immanuel, majalah terbitan HKBP. Namun sesudah Indonesia merdeka, publikasi Kristen komersial dan non-komersial mulai bermunculan. Juga yang berupa informasi dan komunikasi internal gerejawi dan pendidikan teologi atau untuk publik. Kees de Jong dan Rainy M.P. Hutabarat menutup laporan mereka dengan tilikan khusus atas kemunculan dan dinamika perkembangan koran Kompas dan Suara Pembaruan sebagai media yang didirikan orang Kristen Katolik dan Protestan.
Kedua koran ini telah memberi kontribusi besar atas perkembangan masyarakat Indonesia. Secara keseluruhan, semua media dan press Kristen di Indonesia telah mencoba untuk memberi kontribusi pembangunan wawasan demi perkembangan gereja dan masyarakat di Indonesia, khususnya dalam konteks kerjasama ekumenis dan kebangsaan.
Bagaimana dengan publikasi Kristen di lingkup GKI? Willy Purwosuwito melaporkan terbitnya majalah musik gereja Crescendo (1967-1972) yang diterbitkan Sinode GKI Jatim disusul tabloid Buletin Berkat (1988) yang kemudian berubah menjadi Majalah Berkat (1998). Majalah ini memuat artikel dari beragam penulis dengan perspektif teologis yang tak sama dengan maksud untuk memberikan banyak pilihan bagi pembaca sekaligus memperluas wawasan ekumenis mereka. Dari tahun 1992-1995, Sinode Am GKI menerbitkan Majalah Kairos dengan muatan artikel teologis mulai dari yang bersifat populer hingga yang bermutu secara akademis. Ada banyak analisis berita dengan tilikan kritis dan berani serta ditulis dengan gaya yang menarik.
Terkait Majalah Berkat, orang dapat menangkap visi yang sederhana walau tak berarti mudah: menjadi berkat bagi banyak orang dengan harapan agar para pembacanya dapat bertumbuh, bersaksi dan berbuah. Terselip keyakinan bahwa media dan press dapat mengubah perilaku orang. Termasuk publikasi Kristen. Dan sejarah media dan press Kristen menunjukkan bahwa kekristenan di Indonesia telah ambil bagian untuk mengonstruksi kesadaran nasionalisme dengan memakai bahasa Melayu sebagai media komunikasi dengan para pembacanya 185 tahun sebelum Sumpah Pemuda dan 200 tahun sebelum Indonesia Merdeka.
Mereka juga ikut mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan literasi yang memberikan informasi aktual, seringkali dengan distribusi cuma-cuma, mengenai keadaan gereja dan masyarakat serta diskusi tentang kedudukan dan hubungan iman kristani di tengah masyarakat Muslim dan keyakinan murba. Media dan press Kristen juga mampu membuat jarak kritis terhadap kebijakan pemerintah di era kolonial maupun pasca Indonesia Merdeka. Tetapi catatan terpenting adalah bahwa publikasi Kristen tidak sekedar menyampaikan informasi.
Mereka mengubah berita menjadi cerita. Berita adalah bentuk fisik dari informasi yang dirangkai dari deretan data. Namun berita berubah menjadi cerita ketika kejadian di masyarakat dilihat dari perspektif iman dan harapan Kristen. Perspektif religius ini tak harus tampak secara vulgar. Namun setiap kali penulis menyelipkan harapan, maka serentak dengan itu lahirlah kisah religius yang baru dan segar serta dihidupi langsung oleh para pembaca. Yakni bahwa Allah bekerjasama dalam pelbagai peristiwa iman dan sosial di Nusantara dan Ia menghendaki agar umat Kristen di sini “bertumbuh, bersaksi dan berbuah”.
Melalui cerita baru ini, orang tersapa sekaligus digugat. Persis di sinilah watak subversif dari menulis semenjak orang diundang untuk menyelam masuk lebih ke dalam, ke bagian bawah (sub) dari tulisan (verse), dan menemukan perspektif baru untuk membaca berita yang semula sekedar informasi tentang kejadian di luar menjadi cerita iman yang menggugah harapan dan mengubah perilaku orang.
(Pdt. Leonard Andrew Immanuel – Ketua Umum BPMSW GKI Jatim)
* Ditulis dalam rangka HUT Majalah Berkat ke-35


