Surabaya – Dari Surabaya Selatan, terbit sebuah ibadat Paskah yang tidak biasa. Perayaan Paskah Komunitas Prasejahtera di GBT Kristus Pengasih, Jumat (25/4), hadir dalam nuansa lintas agama dan budaya, menjadikan peribadahan Kristen ini unik dan sarat makna kebersamaan.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Yayasan Pondok Kasih, GBT Kristus Pengasih, serta dukungan pemerintah dan masyarakat. Hadir dalam acara tersebut masyarakat prasejahtera dari 21 kelompok binaan se-Surabaya, pejabat Pemprov Jawa Timur dan Pemkot Surabaya, jajaran Polda Jatim, Kodam V/Brawijaya, FKUB, serta jemaat GBT Kristus Pengasih.
Persatuan Jadi Kunci
Ketua Panitia Pelaksana membuka rangkaian sambutan dengan menegaskan bahwa acara ini terwujud karena persatuan semua pihak. “Ini semua terjadi karena persatuan kita semua, baik dari Yayasan Pondok Kasih, GBT Kristus Pengasih, donatur, dan pihak pemerintah,” ujarnya.

Wali Kota Surabaya yang diwakili Staf Ahli Walikota menuturkan, kemajemukan elemen masyarakat di Kota Pahlawan adalah aset berharga. “Persatuan semua elemen masyarakat yang majemuk di kota ini merupakan aset berharga jika dijaga kebersamaannya,” katanya.

Sementara itu, Kapolda Jatim melalui sambutan tertulis menyerukan pentingnya menjaga Kamtibmas demi terciptanya kondisi yang kondusif dan penuh toleransi di rumah bersama Jawa Timur.
Paskah Bukan Sekadar Ritual

Pembimas Kristen Kemenag Jawa Timur menekankan bahwa Paskah tidak boleh berhenti sebagai rutinitas ritual tahunan. “Pesan Paskah ini harus dapat diaktualisasikan di kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Ketua Yayasan Pondok Kasih, Indah Wati menyampaikan terima kasih kepada komunitas prasejahtera, donatur, panitia, GBT Kristus Pengasih, dan semua pihak yang berkontribusi. “Tanpa kebersamaan, perayaan ini tidak mungkin terjadi,” ucapnya.
Acara ditutup dengan drama pendek yang diperankan aktivis Yayasan Pondok Kasih. Drama tersebut menggambarkan pesan kebangkitan: dari keterpurukan menuju pengharapan, dari keterpisahan menuju persatuan.
Perayaan Paskah 2026 di GBT Kristus Pengasih ini menjadi potret nyata bahwa kabar kebangkitan Kristus melampaui tembok gereja. Ia hidup dalam aksi bersama, lintas iman, lintas budaya, untuk mengangkat mereka yang lemah dan terpinggirkan. (erman-berkat)


