CUKUP banyak orang berusia 40-55 tahun tiba-tiba sadar bahwa waktu perjalanan hidupnya berlalu begitu cepat. Banyak impian dan harapan telah terwujud. Muncul rasa gembira bahkan puas. Namun, di sisi lain banyak harapan yang belum kesampaian. Kekuatan tubuh menurun, penampilan tidak lagi prima, kecantikan dan kegantengan wajah mulai pudar. Bahkan kekuatan syaraf mata, pendengaran dan memori makin merosot.
Di usia tengah baya orang bisa mengalami krisis. Mereka hidup diantara kesempatan dan peluang, sementara beragam keterbatasan dan kendala kencang menerpa. Di hati kecil muncul pertanyaan: Apakah ada manfaat kerja keras ini jika saya teruskan, sementara keterbatasan fisik, sosial, kultural menggerogoti?
Hadirnya Aneka Perubahan
Di usia tengah baya wanita mengalami menopause. Perasaan tersinggung mudah muncul, kerap pusing, persendian sering nyeri, tensi darah naik, keluhan rasa panas di malam hari. Hubungan seksual dengan pasangan dirasa menyakitkan.
Tidak sedikit suami mengeluh karena istrinya tampak lebih tegas, dominan. Kelembutannya telah memudar. Karena itu suami membangun intimasi sosial dengan wanita lain yang sebaya atau lebih muda. Repotnya, intimasi itu merambah ke arena fisik. Masalah baru bagi keluarga terjadi.
Manusia tengah baya diterpa tekanan darah tinggi, diabetes, sakit jantung, gangguan pencernaan akut. Kunjungan ke dokter, klinik dan rumah sakit meningkat. Uang dibelanjakan lebih banyak untuk kesehatan. Ada juga pria yang menghabiskan waktu bersama kawan-kawan di tempat futsal atau bersepeda gunung.
Di tempat kerja, posisi manusia tengah baya mungkin di puncak. Tetapi, kaum muda yang lebih kreatif sudah antri untuk promosi. Kaum muda cemerlang, sementara mereka sudah going realistic, pragmatis, cenderung memelihara rutinitas dan tradisi. Paranoid atau mudah curiga kerap hadir. Mereka memilih stagnant, malas produktif. Usaha sebelum pensiun adalah mempertahankan jabatan demi keuntungan finansial.
Kalau penghasilan kerja memuaskan, perasaan terobati. Keinginan meraih kedudukan dan jabatan lebih tinggi diupayakan. Bila perlu mereka mengikuti kuliah atau pelatihan. Jika upah kerja tidak memadai, beban berat dirasakan. Banyak yang dikerjakan walau tenaga terasa makin melemah.
Beban Dari dan Dalam Keluarga
Krisis identitas remaja, terkait masalah-masalah pengambilan keputusan dalam pergaulan, karir dan kepercayaan, kerap terjadi di rumah tangga. Remaja melawan ayah dan ibu. Konflik bisa berkepanjangan. Hal demikian melelahkan pikiran dan emosi suami istri. Untuk mengatasinya, tidak sedikit yang melarikan diri kepada kegiatan lain dari pada pusing dengan masalah anak. Ada pula yang terus bersikap otoriter walau menguras energi lebih banyak.
Sebagian orang harus memelihara orang tua lanjut usia. Kalau mereka sakit-sakitan beban pun bertambah. Kalau orang tua meninggal, acara ritual tradisi menguras energi, biaya dan waktu. Jika dengan saudara kandung terjalin relasi akrab dan kerjasama, maka tanggung jawab terasa ringan. Jika yang terjadi sebaliknya, maka kekecewaan yang di dapat.
Dinamika Spiritualitas dan Intimasi
Tuhan terkadang jauh bagi mereka berusia tengah baya, merasa tidak semua permohonan dikabulkan. Mereka bertanya: Kalau Tuhan itu baik mengapa semua beban ini terjadi pada diriku? Mengapa pasanganku meninggal padahal aku membutuhkannya membesarkan anak-anak?
Tidak jarang orang marah atau cuek kepada Tuhan. Sebagian orang tetap beribadah atau aktif di gereja. Namun, pengalaman rohani dengan Tuhan tidak terjadi. Hidup rohani bagaikan di tengah gurun pasir, gersang. Dibutuhkan oasis, tetapi tidak tahu mencari kemana!
Selama tahun-tahun sebelumnya manusia tengah baya tidak sempat membangun relasi sosial bermakna. Mungkin pula relasi suami istri kurang terbangun erat, sebab keduanya fokus kepada pekerjaan. Ketika hidup terasa semakin berat, maka secara perlahan atau tiba-tiba muncullah kebutuhan dukungan sahabat.
Ada orang membangunnya kembali dengan kawan-kawan di tempat kerja, gereja atau di komunitas tertentu. Acara itu bisa menjadi ajang menunjukkan, bahwa mereka sudah menjadi orang (becoming somebody). Namun, ada pula yang menemui kesulitan karena temperamen, atau keterbatasan dana.
Stres dan Depresi
Stres, kejenuhan dan depresi bisa membelenggu kehidupan manusia tengah baya. Hal itu terjadi karena beban pekerjaan atau keluarga. Stres muncul karena harapan tak sesuai kenyataan. Kekecewaan yang bertumbuh. Gangguan tidur, pencernaan, dan syaraf kerap menjadi sahabat orang stres.
Kalau tidak teratasi maka orang masuk lembah depresi. Pemulihannya butuh waktu dan harus holistik (mind, body, soul, spirit and relationship). Dibutuhkan peran positif dan konstruktif mentor, dokter, pasangan, anak-anak, keluarga dan sahabat.
Besar Manfaat Kalau Berhasil Melaluinya
Pengalaman hidup diwarnai krisis dapat menjadi kekayaan besar untuk periode berikutnya. Hal demikian terjadi karena kesediaan menata kembali kehidupan. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan dan upaya.
Pertama, menata ulang visi, misi dan tujuan hidup. Untuk apa? Untuk siapa? Untuk Tuhankah? Apa yang sebenarnya dicari dalam hidup ini? Semua harus dijawab dengan jujur! Kedua, mengelola pikiran dan perasaan di dalam Kristus Yesus, oleh pertolongan Roh Kudus. Ruang batin untuk menikmati kasih karunia Tuhan harus dibuka. Ruang hati harus melihat orang bukan musuh.
Ketiga, mengenali temperamen pribadi. Potensi dan talenta harus dikembangkan. Keunggulan orang lain yang juga dipakai Allah. Kalau Dia sanggup memakai kita, Dia juga sanggup menggunakan orang lain!
Keempat, membina keakraban dengan pasangan, anggota keluarga dan kawan-kawan. Untuk itu dibutuhkan kesediaan membuka diri. Beri waktu untuk mendengarkan mereka yang kita kasihi dalam keluarga. Jangan hanya ingin didengarkan!
Kelima, menata ulang irama kehidupan termasuk pola makan, olah raga, pola kerja dan pola tidur. Nikmati hidup dengan lagu dan musik! Keenam, terimalah maksud dan kehendak Tuhan bahwa Dia melakukan rencana-Nya melalui diri lewat kegagalan dan kelemahan.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala seuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).
(Binsen Samuel Sidjabat, Dosen Sekolah Tinggi Tiranus, Bandung)


