HomeDunia KitaDying Well

Dying Well

SETIAP orang pasti ingin memiliki tubuh sehat, jiwa yang kuat, dan spiritualitas yang benar. Awet muda adalah dambaan banyak orang; itu sebabnya saat ini obat-obat anti aging laku keras di masyarakat. Industri obat-obatan dan kosmetik sibuk menawarkan hasil produk yang bisa menahan penuaan.

Menghindari dan menghentikan dua hal yang harus kita alami adalah tidak mungkin; jadi marilah kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar kita dapat menjalani masa tua dengan penuh syukur dan tidak takut dalam menghadapi kematian.

Pandangan Kematian

Sebagai orang yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat secara pribadi, kita tahu bahwa maut sebagai musuh terakhir dikalahkan oleh Kristus di salib (I Kor 15:36). Kematian adalah sesuatu hal yang harus dialami setiap orang hidup, sebab manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani  9:27). Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa ketika kita melewati lembah bayang-bayang maut Tuhan beserta kita, sehingga kita tidak perlu takut, sebab gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur kita.

Kita menyadari bahwa kematian adalah kehilangan total. Orang yang meninggal dikatakan dia sudah tidak ada lagi, tamat hidupnya di dunia ini; tapi manusia batiniah yang bersifat kekal itu tidak mati – tetap hidup. Kematian mengingatkan kita akan kefanaan kita. Alkitab berkata, “dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku (masuk ke dalam dunia) dan dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya” (keluar dari dunia) – Ayub 1:21.

Kita juga diingatkan dalam Wahyu 14:13 demikian; Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini: “Sungguh” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka”.

Karena hanya perbuatan kita yang dapat menyertai kita ketika kita meninggalkan dunia ini; maka marilah selama masih hidup kita melakukan perbuatan-perbuatan baik yang memuliakan Bapa Sorgawi; marilah kita hidup bertanggungjawab sebagai anak-anak Allah.

Meninggalkan Dunia Dengan Baik

Karena kematian adalah satu hal yang pasti, marilah kita bersiap agar dapat meninggalkan dunia ini dengan baik. Orang Inggris mengatakan “dying well”. Seorang bapak bernama John Dunlop mengatakan dying well jarang sekali terjadi secara kebetulan, melainkan lebih merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang kita buat selama kita hidup.

Dengan kata lain, jika saya mau meninggalkan dunia ini dengan baik, saya harus hidup dengan baik sampai hari terakhir saya di dunia. Itu berarti saya bertanggungjawab atas kesejahteraan fisik, psikis, dan spiritual saya. Bagian saya adalah sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung pada saya, maka saya harus memelihara kesejahteraan fisik saya dengan pola hidup sehat.

Saya juga harus memiliki kesejahteraan psikis dengan cara menyelesaikan emosi-emosi negatif, perkara-perkara yang menekan, menggelisahkan, sehingga saya berdamai dengan Allah, berdamai dengan sesama, dan berdamai dengan diri sendiri. Belajar mengampuni dan diampuni; belajar menerima dengan ikhlas, legowo atas hal-hal yang tidak dapat diubah, sudah lewat, berdamai dengan masa lalu, sekarang, dan yang akan datang.

Secara praktis saya ingin mewariskan nama baik buat anak cucu saya, sebab nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar (Amsal 22:1); juga saya ingin mewariskan tiga hal yang tinggal tetap, yaitu: iman, pengharapan, dan kasih pada Kristus. Apabila kita mewariskan nama baik, maka anak cucu kita akan mampu menjalani hidup mereka dengan penuh syukur.

Saya pun ingin agar anak cucu saya tidak menjadi terbeban oleh keadaan saya. Saya berpesan apabila dikemudian hari saya menderita sakit yang setelah di bawa berobat kemana-mana ternyata tidak lagi dapat disembuhkan (terminal illness), saya memilih untuk tidak dimasukkan ke ICU yang tujuannya hanya untuk memperpanjang hidup namun tidak memulihkan keadaan/menyembuhkan, sebab hal tersebut hanya memperpanjang penderitaan.

Berada di ICU membutuhkan biaya sangat mahal karena kecanggihan alat-alat medis yang dipasang pada tubuh pasien. Saya juga berpesan agar saya dibawa pulang ke rumah saja dan menunggu pulang ke rumah Bapa secara alami. Hal ini perlu saya bicarakan dengan anak-anak agar mereka tidak kebingungan, tidak merasa bersalah, dan orang luar tidak dapat mempersalahkan mereka.

Inilah yang dapat saya lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Prinsipnya adalah tidak membuat anak cucu kebingungan, terbebani, dan merasa bersalah. Mempersiapkan diri mengahadapi kematian adalah tugas kita masing-masing. Janganlah merasa enggan untuk membicarakannya dengan keluarga, agar kita tidak menjadi panik ketika waktunya datang untuk pulang ke rumah Bapa.

(Hosiana Kurniawan)

Previous article
Next article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments