HomePercikan FirmanMemilah dan Memilih yang Benar

Memilah dan Memilih yang Benar

DI sebuah acara reuni, saya bertemu teman lama semasa sekolah. Awalnya perbincangan kami seputar keluarga dan pekerjaan, namun ujung-ujungnya ia menawarkan sebuah bisnis investasi dengan bunga tinggi. Dengan meyakinkan, ia pun menceritakan jenis bisnis itu dengan segala kemudahan dan keuntungannya. Ia juga mengatakan bahwa bisnis tersebut tidak seperti bisnis lain yang berakhir  penipuan.

Sebagai syaratnya, saya harus menaruh modal uang cukup besar dan di tiap bulannya akan mendapat keuntungan sebesar 30 hingga 40 persen. “Akan saya pertimbangkan,” jawab saya singkat. Terus terang saya meragukan investasi semacam itu, jangan-jangan nanti berujung pada penipuan dengan model lain.

Teman saya ngotot bahwa investasi ini legal dan tidak mungkin bangkrut atau rugi. Hati saya makin tidak sreg. “Bunga deposito di bank saja tidak setinggi itu, bagaimana mungkin bisa menjanjikan keuntungan sebesar itu?” Pikir saya dalam hati.

Akhirnya saya tegaskan tidak mau ikut berinvestasi. Saya tidak mau ambil resiko dengan bisnis yang kurang jelas ini. Lebih baik untung sedikit tetapi dengan cara aman dan benar. Dengan raut wajah kecewa, teman saya itu akhirnya pergi.

Enam bulan kemudian, tiba-tiba teman saya tersebut menelpon. Dengan suara yang terdengar sedih ia menceritakan bahwa bisninya hancur gara-gara pengelola investasi kabur membawa semua modal yang terkumpul. Ya, harapan mendapat untung besar pun bubar.

Kisah diatas adalah salah satu akibat dari sebuah keputusan dalam memilih. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan tanpa perhitungan dan pertimbangan matang.

Jangan Mudah Tergiur

Pilihan kita menentukan masa depan hidup kita. Karena itu janganlah sembarangan dalam memilih kalau tidak mau salah pilih. Memilih salah satu dari sekian banyak pilihan memang tidak mudah, diperlukan pertimbangan ekstra. Masalahnya, banyak sekali pilihan yang menggiurkan hati. Jika tidak hati-hati diri kitalah yang rugi.

Untuk menentukan pilihan dari sekian banyak pilihan yang ada, kita dituntut agar pandai dalam memilah dan memilih. Memilah berarti membuat prioritas berdasarkan manfaat dan kepentingan. Misalnya, ketika kita hendak membeli rumah sebagai tempat tinggal keluarga, maka memilah dan memilih sangatlah penting. Jika sasaran kita perumahan janganlah hanya tergiur oleh harga dan fasilitas saja, tetapi pertimbangkan juga pengembangnya, lokasi, keadaan sekitar lokasi, akses dan lain sebagainya.

Memilah dan memilih berlaku pula dalam segala aspek kehidupan kita, mulai dari memilih pendidikan, pekerjaan, memilih pasangan hidup hingga memilih pemimpin. Maraknya pemilihan calon presiden dan  calon legislatif yang sebentar lagi digelar secara serentak, membuat semua orang lantas mulai menentukan pilihannya. Jangan memilih hanya karena hasutan dari berita-berita yang tidak benar, tetapi pelajarilah calon-calon tersebut baik dari segi kepribadian, kualitas, integritas, sportivitas, kejujuran dan program-program yang ditawarkan.

Memilah dan memilih tidak bisa dilakukan hanya dengan emosi, tetapi gunakanlah nalar serta suara hati. Singkirkan lebih dulu kepentingan-kepentingan yang kelihatanya baik namun berakibat buruk, karena apa yang kita pilih itulah yang kita jalani.

Memilih dengan Bijak

Memilih butuh kebijaksanaan, dan menjadi bijaksana tidak harus jenius atau memiliki intelektual tinggi, tetapi yang mau melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Yesus pernah berkata, “Setiap orang yang mendengar perintah-Ku dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.” (Matius 7:24).

Demikian juga dengan orang bodoh, bukan berarti orang tersebut tidak pernah sekolah atau tidak pandai, tetapi orang yang mendengar perkataan Tuhan namun tidak melakukannya. “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.” (Matius 7:26).

Perkataan Yesus tentang orang yang mendirikan rumah di atas batu dan di atas pasir menunjukkan sebuah pilihan. Masing-masing pilihan itu mempunyai resiko dan konsekuensi yang harus ditanggung. Batu menunjukkan sesuatu yang kokoh, sedangkan pasir menggambarkan sesuatu yang mudah berubah. Membangun rumah di atas batu bukan sesuatu yang mudah, tetapi perlu waktu, kerja keras dan juga berani bayar harga. Sebaliknya, membangun rumah di atas pasir memang lebih cepat selesai, lebih murah dan gampang dilakukan.

Baik membangun rumah di atas batu atau di atas pasir akan terbukti kekuatannya ketika datang hujan dan angin. Mereka yang mendirikan rumah di atas batu tidak akan rubuh sebab dibangun di atas dasar yang kuat. Sedangkan mereka yang mendirikan rumah di atas pasir akan mudah rubuh bahkan rusak parah.

Memilih mendirikan rumah di atas batu seperti orang yang meletakkan dasar hidupnya di atas dasar yang teguh, pasti, dan tidak mudah berubah, yaitu Yesus Kristus sendiri. Sedangkan orang yang memilih mendirikan rumah di atas pasir, layaknya orang yang meletakkan dasar hidupnya di atas dasar yang mudah berubah, seperti uang, materi dan kekuasaan.

Jangan letakkan hidupmu di atas yang tidak pasti tetapi letakkan di atas dasar yang teguh dan tidak mudah berubah. Dan yang utama, bijaksanalah. Lakukanlah selalu apa yang Tuhan perintahkan. Itulah dasar pilihan kita. Selamat memilih.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments